Volume 13

Tak Semua Orang Berani

Di Balik Kilaunya Kaca Gedung Pencakar Langit Jakarta

Merdeka.com 2021-03-18 15:00:00
Di Balik Kilaunya Kaca Gedung Pencakar Langit Jakarta. ©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Jakarta, kota metropolitan yang menjadi jantung perekonomian dan pemerintahan Indonesia. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dengan mudah dijumpai di ibu Kota Indonesia ini. Deretan kaca-kaca yang tersusun rapi, membuat gedung khas metropolitan ini tampak indah saat siang ataupun malam.

Namun, ada sosok yang berjasa di balik kilau dan bening kaca gedung tinggi Jakarta. Ya, mereka sang pekerja pembersih kaca atau yang dikenal Gondola Man. Demi membuat kaca di gedung tetap bersih dan berkilau, para pekerja pembersih kaca mau tak mau harus rela bertaruh nyawa.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Siang itu, di bawah sinar matahari yang terik tiga pria terlihat bergelantungan di salah satu gedung bertingkat mewah 60 lantai Casa Domaine, Jakarta. Tanpa menggunakan gondola, mereka bergelantungan hanya dengan seutas tali yang mampu menopang badannya.

Mereka pegang erat-erat sambil membersihkan kotoran yang menempel pada kaca jendela akibat polusi dan paparan debu di gedung bertingkat ini. Dari ketinggian 230 meter, tak tampak gurat ketakutan pada wajah ketiga pria ini.

Nyali mereka kuat bak baja, hanya orang pemberani saja yang mau bekerja bergelantungan pada seutas tali. Pasalnya, terjatuh tak hanya mengakibatkan cedera saja namun nyawa juga dipertaruhkan.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Dengan seksama, mereka membersihkan kaca dan dinding gedung satu-persatu. Di awali dari lantai paling atas hingga paling bawah bangunan. Cuaca tak menentu adalah musuh utama mereka. Dari panas terik matahari yang menyilaukan sampai hujan deras datang tanpa ampun.

Matahari seolah menjadi teman setia mereka. Teriknya terasa lebih menyilaukan dari ketinggian. Begitu juga saat hujan, awan mendung yang tiba-tiba datang membuat mereka harus segera berbenah. Petir terlalu berbahaya untuk pekerja ini.

Kendala lainnya ialah angin. Saat berhembus kencang bisa membuat tali bergoyang. Jika terbentur dan kacanya pecah, runyam sudah. Wajib fokus dan tetap waspada adalah kewajiban ketiga pria tangguh ini.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Sebelum beraksi, mereka harus memperhatikan alat dan perlengkapan. Semua harus sesuai dengan standar keselamatan. Ya, pekerjaan ini sudah ada aturannya dan bersertifikat sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 9 tahun 2016 tentang K3 dalam pekerjaan di ketinggian.

Tali pengaman tubuh, helm, kaca mata hitam dan sarung tangan adalah benda yang tak boleh dilupakan. Bekerja sebagai pembersih kaca gedung, di tangannya membawa ember, kain lap, air dan tentu saja cairan pembersih.

Semua itu dilakukan agar kemegahan gedung pencakar langit ini tetap terjaga. Tak kusam, kotor, berjamur dan tetap berkilau indah dipandang mata.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Tak hanya gedung Casa Domaine saja yang sudah ditaklukkan, beberapa gedung tinggi Jakarta sudah mereka sulap menjadi lebih berkilau. Gedung tinggi dengan deretan kaca menjadi sumber penghasilan mereka.

Lihai memanjat tebing, mampu menjaga keseimbangan, penuh nyali dan keberanian. Mereka si manusia tangguh ini berani bertaruh nyawa. Bekerja demi sesuap nasi untuk sosok yang ia kasihi.

Cara Perbaiki KTP Rusak

Proses Repasi Kartu Rusak di CFD Bundaran HI

Merdeka.com 2019-03-31 23:36:00
Proses Repasi Kartu Rusak di CFD Bundaran HI. ©2019 Merdeka.com/Liputan6.com

Tak hanya barang elektronik ataupun telepon genggam saja yang dapat direparasi atau diperbaiki. Namun, kartu rusak seperti halnya e-KTP, anjungan tunai mandiri (ATM), nomor pokok wajib pajak (NPWP), hingga aneka kartu sejenisnya pun dapat diperbaiki.

Proses pembenahan pun tak memerlukan waktu lama ataupun berhari-hari. Sehingga pengunjung dapat menunggu hingga kartu selesai diperbaiki.

Sugeng sangat antusias kala orang-orang yang hilir mudik di hari bebas kendaraan atau car free day (CFD) menanyakan kerusakan kartu-kartu yang dimilikinya. Sambil memperbaiki kartu, ia masih meladeni beberapa pertanyaan-pertanyaan pengunjung.

"Kalau ngelupas kayak gini bisa diperbaiki nggak mas," tanya seorang pengunjung di CFD Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (31/3).

"Bisa mbak, ntar bisa ditempel lagi," jawab Sugeng.

Pria asal Klaten, Jawa Tengah ini bukan satu-satunya tukang reparasi e-KTP di CFD Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Berapa para pedagang, Sugeng duduk dengan bangku dan sebuah meja lipat sebagai tempat kerjanya.

Meja lipat berukuran 75×50 cm itu bagian samping dan depan tertempelkan spanduk bertuliskan "anti gores, laminating kartu rusak, kartu kotor". Selain itu, pada meja itu Sugeng juga telah menyediakan berbagai alat tempurnya dalam bekerja mulai dari cutter, anti gores atau plastik khusus, alkohol hingga alat pres manual.

Tangannya cekatan, kartu yang diterima dari pengunjung langsung dibersihkan menggunakan alkohol. Dengan menggunakan selembar kain, Sugeng sangat hati-hati dalam membersihkan kartu itu.

Untuk laminating kartu, setelah dibersihkan langsung ditempelkan plastik khusus untuk sisi depan dan belakang. Agar menempel, saat plastik ditempel sembari ditekan menggunakan sebuah alat dan kemudian kartu akan dipres.

Bila tidak terlalu parah atau hanya laminating kartu, Segeng hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk memperbaiki kartu. Untuk jasa reparasi, ia hanya mematok harga Rp 10 ribu.

Akan tetapi, jika kartu itu mengalami kerusakan dengan tingkat kesulitan tertentu Sugeng mematok harga Rp 15 ribu. Selain itu, pria berusia 30 tahun ini juga mengaku dapat memperbaiki kartu yang telah patah. Seperti halnya milik Supardi warga, Grogol, Jakarta Barat.

"Ini di sambung ya pak, biar terlihat rapi aja. Abis itu ntar langsung di laminating," ucapnya.

Sugeng mengaku pihaknya hanya bisa melaminating dan membuat rapi saja, kalau tulisan atau gambar hilang seperti die-KTP itu harus di bawa ke Dukcapil untuk di cetak ulang. Profesi melaminating pun baru ditekuninya sejak satu tahun yang lalu.

Selain di CFD, Sugeng mengaku setiap harinya berkeliling di kawasan Jakarta Pusat. Khusus setiap Jumat, dia akan membuka lapak di kawasan Masjid Cut Meutia, Jakarta Pusat dan selebihnya berpindah-pindah ke kantor-kantor.

Kendati begitu, setiap malam hari Sugeng tak mereparasi kartu, melainkan berjualan mainan di Pasar Malam Jiung Kemayoran.

"Kalau untuk penghasilan sih nggak nentu, soalnya kan orang nggak setiap hari benerin kartunya. Itu saja bisa tahan lama," kata Sugeng ke Liputan6.com.

Reporter: Ika Defianti

Biar Tagihan Listrik Irit

Inilah Keuntungan Pasang Panel Surya di Rumah, Listrik Jadi Irit

Merdeka.com 2019-07-30 06:05:00
panel surya. ©REUTERS/Regis Duvignau

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus menggalakkan penggunaan sumber energi baru terbarukan salah satunya menggunakan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di masyarakat.

Menteri ESDM Ignasius Jonan meminta masyarakat untuk memilih listrik tenaga surya karena tidak merusak lingkungan, sekaligus bisa dipakai dalam jangka panjang.

Berikut ini keuntungan menggunakan panel surya di rumah:


Dapat Garansi Seumur Hidup

Menteri ESDM Ignasius Jonan memperkenalkan Rumah Listrik Surya milik PLN di Monas. Pada acara itu, sebuah rumah minimalis tipe 36, daya listrik 5kwp, inverter 5,5 kwp, serta jaringan listrik PLN daya 7.700 watt. Dipasangkan sejumlah panel surya dan dilengkapi perlengkapan rumah tangga yang tenaganya berasal dari surya.

Salah satu tantangan panel surya adalah harganya yang tidak murah, namun Jonan mengingatkan panel ini adalah bentuk investasi masa depan. Penggunaan pun bisa berlanjut sampai pemiliknya meninggal.

"Jadi kalau bapak (provider listrik tenaga surya) masang di rumah, bilang: 'Ini saya pasang ya, nanti ini bisa jalan terus kalau saya sudah pergi.' Jadi garansinya seperti itu, karena di atas atap orang bongkar pasang jadi males," ujar Jonan di Monas, Minggu (28/7/2019).


Berapa Harga Pasang Panel Surya?

Menteri ESDM Ignasius Jonan, mengatakan salah satu tantangan panel surya adalah harganya yang tidak murah, namun Jonan mengingatkan panel ini adalah bentuk investasi masa depan. Penggunaan pun bisa berlanjut sampai pemiliknya meninggal.

Jonan mengatakan keuntungan memakai panel surya bisa terlihat pada 8 hingga 9 tahun mendatang berdasarkan perhitungan tarif saat ini. Artinya, jika ke depan tarif listrik naik, maka hasil hemat dengan panel surya bisa terlihat lebih cepat.

Saat ini, biaya pemasangan panel surya per 1 kWp adalah sekitar USD 1.000 atau Rp14 juta (USD 1 = Rp14.002). Harga itu sudah menurun dari sebelumnya yang sekitar Rp 30 juta. Beberapa gedung pemerintah pun sudah mulai mencoba inovasi ini.

"Istana Merdeka sudah memasang 260 kWp. Kantor Kementerian ESDM sudah memasang 160 kwp (di atap dan parkiran). Rumah saya juga sudah. Rumah pribadi itu 15,4 kWp, dan ini akan membantu penggunaan energi kita yang lebih ramah lingkungan," jelas Jonan.


Berharap Perusahan Menggunakan Panel Surya

Selain pemasangan panel surya di rumah, Menteri ESDM Ignasius Jonan berharap perusahaan-perusahaan menggunakan panel surya. Untuk itu, Jonan mengajak kepala daerah membuat aturan dan hukuman bagi gedung agar punya panel surya, guna memperluas penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di masyarakat.

"Dibuat bahwa pengajuan IMB, misalnya yang bangunannya dalam 1 IMB di atas 250 m2 itu wajib pasang PLTS atap, misalnya 60 persen dari kapasitas listrik yang dia berlangganan dengan PLN," ucap Jonan di Monas, Minggu (28/7).

Bagaimana jika gedung sudah terlanjur berdiri? Jonan memberi gagasan agar gedung-gedung di atas 250 m2 atau 500 m2 agar mulai membangun panel surya dengan batas hingga lima tahun. Bila menolak, Jonan meminta perlu ada sanksi pemutusan listrik.

"Orang kita kalau enggak ada sanksinya enggak takut. Enggak bakal takut karena enggak pernah respek tujuannya. Kalau begitu bagaimana? Ya kerja sama dengan PLN: Kalau 5 tahun belum, listriknya diputus," kata Jonan.

Baca juga:
Menteri Jonan Ancam Putuskan Listrik Gedung yang Tak Pakai Panel Surya
Berapa Harga Pasang Panel Surya untuk Satu Rumah
Menteri Jonan Perkenalkan Rumah LIstrik Tenaga Surya di Monas
Dukung Energi Bersih, Komunitas Ini Ciptakan Mainan Anak-Anak Tenaga Surya
Wapres JK Sebut Regulasi Kendaraan Listrik Terbit Tahun Ini
Baran Energy Luncurkan Baterai Listrik Pakai Tenaga Matahari

Murah Tapi Bikin Berdebar

Eretan, Perahu Penyeberangan Tradisional di Tengah Keramaian Jakarta

Merdeka.com 2021-03-18 17:00:00
Serunya Menjajal Eretan, Perahu Penyeberangan Tradisional di Jakarta. ©2021 Merdeka.com

Siapa sangka di tengah keramaian hiruk pikuk kota, perkembangan teknologi dan transportasi yang sudah maju di Jakarta Utara ada moda transportasi tradisional yang masih bertahan. Menggunakan perahu, transportasi tradisional ini bernama Eretan.

Perahu nelayan yang dialihfungsikan menjadi transportasi umumdi Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara ini menjadi alat transportasi yang menghubungkan Muara Kapuk dan Pluit. Perahu nelayan ini menjadi solusi alternatif di tengah kemacetan Jakarta.

Meski penggerak perahu hanya dari tali, namun Eretan mampu memangkas waktu tempuh dari 30 menjadi 5 menit saja. Tak heran, pengguna Eretan tak pernah sepi tiap harinya meskipun terkesan menyeramkan. Pasalnya, takada tempat duduk maupun pagar pembatas dan pegangan di perahu ini.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Bak kapal tongkang mini, perahu ini bisa mengangkut apa saja selama bisa dimuat. Dengan panjang 10 meter, perahu ini mampu menampung 12 motor. Bahkan gerobak dan becak juga bisa dimuat di perahu Eretan ini. Tak hanya kendaraan, pejalan kaki juga bisa menaiki perahu ini.

Dinilai efektif, setiap harinya puluhan hingga ratusan penumpang hilir mudik menggunakan Eretan. Meski begitu, pengguna sepeda motor harus menjaga motornya dengan hati-hati. Salah-salah bisa fatal nanti, begitu pula dengan penumpang lainnya.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Tidak menggunakan mesin, operator Eretan hanya menggunakan tambang besar yang menghubungkan kedua tepian Kali Cagak. Tambang sengaja dihubungkan dengan bambu sebagai penopangnya. Meskipun hanya tambang dan tanpa mesin, Eretan mampu menyeberangkan penumpang dengan aman.

Lambung perahu yang dimodifikasi datar membuat perahu Eretan mempunyai bidang yang luas dan mampu menampung banyak penumpang.Perlahan tapi pasti, Eretan mampu menyeberang Kali Cagak selebar 50 meter ini.

Hal yang paling sulit bagi operator Eretan ialah saat menaikkan dan menurunkan penumpang. Operator harus mengatur perahu Eretan dengan stabil. Perahu harus menempel tepi bibir sungai layaknya pelabuhan. Saat itu juga menjadi tantangan yang harus dilewati oleh penumpang Eretan.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Tarif perahu Eretan ini bukan main murahnya. Untuk 1 orang dikenakan biaya sebesar Rp 1 ribu, sedangkan pengendara motor tunggal dikenakan tarif Rp 2 ribu. Tarif juga berbeda saat pengendara motor membawa satu penumpang yaitu Rp 3 ribu saja.

Eretan hanya beroperasi saat air sedang surut. Ketika hujan perahu Eretan juga harus berhenti beroperasi demi keamanan dan keselamatan penumpang.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Sudah ada sejak 23 tahun silam,Perahu Eretan ini masih menjadi transportasi andalan hingga saat ini. Perahu tanpa mesin ini dapat ditemui tepat di bawah gerbang Tol Pluit. Perlu melewati gang sempit untuk menuju dermaga penyeberangan perahu Eretan ini.

Dari pukul4 pagi hingga 10 malam,Eretan siap menyeberangkan penumpang melewati Kali Cagak.

Sang Pemburu

Pencari Cacing Sutra Kali Cagak, Berburu di Balik Sampah

Merdeka.com 2021-03-25 13:25:00
Pencari Cacing Sutra Kali Cagak, Berburu di Balik Sampah. ©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Dari bantaran Kali Cagak, Penjaringan, Jakarta Utara beberapa orang terlihat berjalan menyusuri sungai yang penuh sampah. Bau lumpur yang menyengat tak menurunkan semangat mereka, para pencari cacing sutra. Di antara kudapan lumpur dan sampah, para pria ini mengais rezeki, fokus mencari si kecil cacing sutra.

Mungkin bagi beberapa orang, cacing sutra tak bernilai. Tetapi untuk mereka, cacing sutra ini bak mutiara. Memiliki protein yang tinggi, cacing ini biasanya dijual untuk kebutuhan makanan ikan. Hewan kecil melata ini disebut primadona untuk pakan ikan hias.

Enggak heran, beberapa orang memilih cacing bernama latin Tubifex sp ini menjadi sumber kehidupannya. Meski harus rela berjibaku dengan sampah-sampah ulah manusia.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Di bawah sinar terik matahari, para pencari cacing sutra mendayung dengan sampan tradisional. Berhenti di satu titik, kemudian mengikatkan tali perahu ke pinggangnya. Ia biarkan perahu itu mengikuti langkah kakinya.

Para pria ini mengambil cacing sutra dengan berenang. Di tangannya membawa jaring besar, mata mereka tajam jeli siap mengambil si kecil melata. Sesekali mereka menyelam ke dalam di antara tumpukan sampah.

Membungkuk, memperhatikan dengan seksama si hewan kecil yang bersembunyi di balik sampah endapan lumpur sungai. Teliti dan kecepatan tangan menjadi keahlian yang harus dimiliki para pria ini.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Tak langsung dapat, mereka harus beberapa kali menyelam di tempat-tempat yang berbeda. Bermandi lumpur, menyusuri dari titik satu ke yang lainnya. Ember-ember kecil dan boks yang ada di perahu menjadi tempat mereka menyimpan. Mengumpul sedikit demi sedikit cacing-cacing sutra.

Setelah dirasa cukup, mereka kembali ke darat. Membersihkan air lumpur yang menempel pada cacing, kemudian di letakkan pada wadah tertentu. Belum istirahat, mereka harus bergegas. Pasalnya, cacing sutra yang dikumpulkan hanya mampu bertahan maksimal 3 saja. Jika tidak, cacing ini akan mati sia-sia.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Bekerja dari pagi hingga matahari kembali ke tempat peraduannya. Petani cacing sehari bisa mendapatkan 30 gayung. Harga cacing per gayung sekitar Rp 35-50 ribu. Banyak sedikitnya cacing sutra yang didapat bergantung ketekunan pencari cacing sutra.

Rasa gatal yang datang saat menyelam, terkena pecahan kaca sudah menjadi hal yang lumrah bagi para pencari cacing sutra. Dalam harapnya, mereka ingin tak ada sampah di Kali Cagak untuk mempermudah proses pencarian.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Pekerjaan pencari cacing sutra di Kali Cagak sudah lama dilakukan oleh warga sejak puluhan tahun lalu. Mereka menjadikan cacing makanan ikan cupang, ikan koi dan ikan hias lainnya sebagai sumber mata pencaharian. Tempat mereka bergantung.

Mereka tak mengenal hari libur. Hanya berhenti bekerja saat sedang banjir, menyelam saat banjir sangat membahayakan bagi para pencari cacing sutra.

Bikinnya Susah, Dijual Murah

Pembuat Arang Batok Kelapa, Bertahan di Tengah Kepulan Asap

Merdeka.com 2021-03-19 17:00:00
Hiruk Pikuk Pembuat Arang Batok Kelapa Tradisional. ©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Jakarta, denyut kota terpadat di Indonesia ini memang tak pernah berhenti. Setiap sudut kota penuh dengan kesibukan warga yang menjalani roda kehidupan. Jakarta tak bisa lepas dari kepadatan yang menjadi ciri khas kota ini. Sisi lain kota, terdapat kampung-kampung yang tak ketinggalan menjalankan perannya.

Mereka ialah para pembuat arang batok kelapa di Kramat, Jakarta Pusat. Dari tangan-tangan mereka, arang batok kelapa bisa digunakan dengan praktis. Dari bahan obat, zat aktif karbon, hingga penjernih air. Mereka rela berada di tengah kepulan asap untuk membuat arang batok kelapa ini.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Teriknya matahari menjadi samar layaknya mendung. Pekatnya kepulan asap menyelimuti setiap sudut tempat produksi di bantaran rel dekat stasiun Kramat, Sentiong. Jauh dari modern, mereka bekerja dengan peralatan seadanya menggunakan drum bekas sebagai tungku.

Mulanya, bagian dalam drum harus sudah dinyalakan apinya. Lantas, secara bertahap batok kelapa dimasukkan ke dalam drum hingga penuh. Mereka harus menjaga agar api di dalam drum tetap menyala.

Tak ayal, drum-drum yang berjajar ini tanpa henti mengeluarkan kepulan asap. Pekatnya asap membuat para pekerja berulang kali mengusap matanya. Pedih. Belum panasnya tungku pembakaran yang membuat bermandi keringat. Namun, semua itu harus ditahan pasalnya mereka butuh waktu setidaknya 8 jam untuk melewati proses pembakaran ini.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Para pembuat arang batok kelapa harus memilih batok kelapa yang berkualitas. Mereka harus memastikan batok kelapa harus kering agar proses pembakaran hanya memerlukan waktu singkat. Batok yang terpilih kemudian dimasukkan ke dalam keranjang. Tangan-tangan kuat mereka siap mengangkut batok kelapa menuju drum pembakaran.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Proses pembakaran arang batok kelapa terjadi secara bertahap. Dari dasar drum api akan menghanguskan batok kelapa kering. Api akan menjalar ke atas searah dengan batok kelapa yang belum terbakar. Setelah semua terbakar api akan menyala dengan hebatnya. Suhu panas di sekitar tungku tak tertahankan.

Dirasa sudah merata, arang akan disiram dengan air. Batok kelapa satu drum penuh menjulang kini tersisa setengah. Satu kilogram batok kelapa kering akan menyusut sebanyak 30%. Sehingga 3 ons arang batok kelapa hanya akan dihasilkan dari 1 kg batok kelapa kering. Sisanya hanyalah abu yang hangus dari sisa pembakaran.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Dari bermandi keringat sampai merasakan pedihnya mata. Kerja kerasa mereka tak pernah sia-sia. Arang batok kelapa di ibu Kota Indonesia ini sudah mencapai kancah ekspor. Mereka dikenal menghasilkan arang yang berkualitas.

Proses yang lama dan sulit membuat nilai jual arang batok kelapa meroket. Harga satu kilogram arang batok kelapa berkisar Rp 10-20 ribu. Setiap harinya mereka mampu memproduksi hingga puluhan kuintal.

Memang butuh kesabaran dan ketekunan dalam memproduksi arang batok kelapa. Meski cara modern sudah banyak, teknik tradisional tetap mereka pertahankan. Usaha kelas bawah ini tetap bertahan mengisi peran mereka di tengah Ibu Kota.

Sawah Terakhir di Jakarta

Asa dari secuil sawah di Jakarta

Merdeka.com 2018-02-26 07:00:00
Sawah di Jakarta. ©2018 Merdeka.com/Anisyah

Hamparan sawah membentang di timur Jakarta. Jauh dari pusat keramaian. Sejuk dan tenang. Embusan angin membuat aroma tanah bercampur lumpur begitu terasa. Khas suasana persawahan. Bukan lagi kepulan asap knalpot. Menjadi pemandangan berbeda di tengah pesatnya pembangunan.

Lokasinya dekat perbatasan antara Jakarta dan Bekasi. Tepatnya di kawasan inspeksi Banjir Kanal Timur (BKT), Cakung Timur, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Berjarak lebih kurang 500 meter dari bibir jalan. Jauh dari pemukiman. Tetapi terlihat dari kejauhan empat gedung apartemen megah.

Lahan persawahan memang cukup luas. Berjejer tanaman padi. Hijau sejauh mata memandang. Namun, lahan ini bukan di kelola pemerintah. Melainkan milik swasta. Dikelola beberapa petani dengan sistem sewa. Cara ini membuat sejumlah petani masih bisa bertahan hidup di ibu kota.

Kami berjalan menyusuri sawah. Berkeliling. Menyapa dan menjumpai beberapa petani. Tak ada impresi sedang berada di Jakarta. Hingga suara azan zuhur pun berkumandang. Menggiring petani menuju gubuk sederhana di tengah sawah.

Mereka istirahat. Melepas lelah. Sambil menyantap bekal makan siang. Sambil bergurau dan sesekali membahas cuaca tengah tak menentu. Di mana pagi hari bisa hujan lebat. Selang beberapa jam matahari terasa sangat panas. Lalu hujan lagi. Mereka saling mengingatkan. Untuk menjaga kesehatan.

Wasja, salah seorang petani mengaku mendapat jatah 4 hektar. Dia tidak sendiri. Mengurus bersama sang istri. Menyewa lahan milih sebuah perusahaan milik swasta. Syaratnya cukup mudah. Dia hanya membayar sewa lahan bila panen.

"Kalau panen kita bayar sewa. Kalau tidak panen kita tidak bayar sewa," kata Wasja saat bertemu merdeka.com, Kamis pekan lalu.

Dengan sistem ini membuat dia masih bertahan jadi petani di Ibu Kota. Berbeda bila menjadi di kampung halamannya. Wasja harus membayar sewa tanah tiap hektar lahan sedang digarap. Tak peduli panennya berhasil atau gagal. Padahal, hasil pertaniannya tak lebih baik dari di daerah lainnya.

Dalam setahun para petani ibu kota ini hanya merasakan dua kali panen padi. Hasilnya terbilang rendah. Tiap satu hektar hanya mendapatkan 6 ton gabah. Sementara di luar daerah bisa menghasilkan gabah hingga 10 ton. Belum lagi kualitas padi. Untuk padi dihasilkan sawah Jakarta berukuran lebih kecil. Berbeda dengan beras dari daerah. Lebih panjang dan berisi.

Pria berusia 58 tahun ini tiap hari menggarap sawah. Menurut dia, dalam sehari kelompok tani bisa menggarap hingga 1,5 hektar lahan. Dikerjakan 13 petani. Mulai dari membajak sawah, menanam bibit hasil semai dan memanen. Semua dikerjakan bergotong-royong. Kebanyakan merupakan para pendatang dari luar daerah. Termasuk dirinya.

Dari 4 hektar sawah sewaan, dia menanam berbagai jenis bibit padi. Mulai dari padi jenis Ciherang, beras ketan dan beras pera. Tiga hektar telah digarap bersama-sama. Masa tanamnya berbeda. Misalnya, untuk bibit jenis beras pera dan ketan baru bisa dipanen setelah 110 hari. Sementara bibit jenis Ciherang dipanen lebih cepat. Hanya 85 sampai 90 hari.

Pemprov DKI Jakarta menyebut saat ini terdapat 300 hektare sawah tersebar di Jakarta. Sedangkan luas wilayah ibu kota ini mencapai 661 kilometer per segi. Bahkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, meminta food station bisa membeli gabah dari lahan para petani Jakarta. Kemudian membantu memasarkan. Sehingga warga bisa menikmati beras berasal dari tanah Jakarta.

Sawah di Jakarta ©2018 Merdeka.com/Anisyah


Hama menjadi masalah krusial persawahan Jakarta. Usai istirahat, Wasja langsung menyemprotkan insektisida. Obat pengusir hama. Menggunakan mesin penyemprot digendong bak ransel. Mereka kerap diserang hama tikus, wereng dan burung. Tikus menjadi paling banyak dan sulit untuk dibasmi.

"Yang paling banyak itu tikus. Kalau kita pakai racun tikus sekali, besoknya sudah tidak bisa dipakai lagi. Jadi pada kebal racun," ceritanya.

Di samping itu, juga masalah ketersediaan air. Banyaknya sungai tercemar tak lagi mengairi sawah. Air hujan pun menjadi andalan para petani. Bahkan mereka juga kerap mengalami kekeringan. Di musim hujan barulah pertanian berjalan produktif. Namun, mereka juga was-was. Sebab banjir tak hanya di pemukiman. Tetapi, juga bisa menimpa sawah.

Masalah lain juga mulai mengkhawatirkan para petani. Seperti dirasakan petani Jakata lainnya, Marjono. Dia mengaku banyak desas-desus ke depannya lahan pertanian mereka dibangun perumahan. Ada pula menyebut untuk dijadikan tempat pemakaman umum milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun hingga kini dia belum tahu pasti kapan pembangunan itu terjadi.

"Isunya sudah dari lama, cuma sampai sekarang belum juga dipakai," ucap Marjono.

Meski begitu, kata Marjono, disadari atau tidak bahwa secara perlahan sawah sepanjang aliran kali banjir timur sedikit demi sedikit disulap jadi pemukiman. Kini dirinya hanya tinggal menunggu waktu lahan garapan selama ini juga menjadi target pembangunan.

Mengikisnya lahan pertanian di Jakarta dari tahun ke tahun merupakan konsekuensi pembangunan suatu wilayah. Untuk itu, pemerintah Pemprov DKI Jakarta sebaiknya memperhatikan tata ruang wilayah. Sebagaimana telah di atur dalam Undang-Undang Nomor 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Dalam aturan itu mengatur wilayah pertanian berkelanjutan yang tidak boleh dikonversi.

"Kewajiban itu adalah amanah undang-undang perlindungan lahan pertanian berkelanjutan. (Tapi) Saya enggak tahu apa Pemprov DKI sudah menyusun itu," kata Ahli pertanian, Khudori kepada merdeka.com.

Sementara untuk lahan pertanian di Jakarta, dia melihat petani seharusnya menanam palawija dibanding padi. Sebab, tanaman tersebut tidak membutuhkan banyak air. Sehingga diperkirakan lebih menguntungkan. Apalagi bila dijual tanpa melalui tengkulak.

Pahlawan Bagi Nelayan

Bengkel Kapal Ikan di Muara Angke, Pahlawan Para Nelayan

Merdeka.com 2021-03-22 16:00:00
Docking Kapal, Teknisi Kapal Ikan di Muara Angke. ©2021 Merdeka.com/Agung Uplo

Seluruh sudut Jakarta penuh dengan kesibukan, salah satunya di pesisir utara kota Muara Angke. Pasar ikan dan pelabuhan nelayan terbesar di Jakarta yang tak pernah sepi. Lebih dari 30 ribu orang melakukan aktivitasnya di sini. Hilir mudik kapal nelayannya sudah tak terhitung lagi. Kerap lalu-lalang, kapal nelayan yang sehari-hari digunakan tentu saja butuh perawatan.

Di sinilah para pekerja servis kapal atau docking kapal berperan. Dari tangan-tangan mereka, kapal nelayan mampu berlayar dengan baik. Pekerjaan servis kapal di Muara Angke bukanlah perkara yang mudah. Mereka harus memperbaiki kapal yang besarnya lebih dari 20x5 meter. Perlu keahlian khusus untuk menjadi seorang docking kapal.

Kapal bocor, ketebalan lambung kapal yang mulai menipis, kayu dimakan kutu dan teritip menjadi permasalahan yang harus dihadapi para pemilik kapal. Saat itulah kapal butuh perawatan dari sang docking kapal.

©2021 Merdeka.com/Agung Uplo

Layaknya kendaraan, merekalah teknisi yang memperbaiki kapal. Setiap 6 bulan sekali, docking kapal biasa melakukan service. Kondisi kerusakan lain juga bisa mengakibatkan pemilik kapal membawa ke bengkel.

Mulanya, kapal dengan berat puluhan ton masuk ke bengkel berkat bantuan mesin derek. Setelah naik ke pit kapal, para pekerja mulai mereparasi kapal. Mereka memperhatikan lambung kapal terlebih dahulu. Pasalnya, lambung kapal sering bocor akibat terlalu lama terendam air laut.

Mereka harus membersihkan lambung kapal dari kutu dan teritip. Sejenis antropoda becangkang keras yang menyukai lambung kapal nelayan. Gerinda, parang, dan berbagai benda tajam lain mereka gunakan untuk membersihkan lambung.

©2021 Merdeka.com/Agung Uplo

Dibalik gedung pencakar langit Ibu Kota Indonesia mereka terus bekerja. Tugas mereka selanjutnya ialah menambal kebocoran lambung kapal. Lem khusus, dempul, balok kayu, dan piranti penambal lain mereka gunakan. Keseluruhan lambung kapal harus mereka berikan perawatan yang terbaik.

Butuh 10-20 pekerja docking kapal untuk memperbaiki satu kapal. Pasalnya perlu 1-4 bulan untuk memperbaiki kapal ikan berjenis 30 GT ini. Lama reparasi kapal juga ditentukan dari skala kerusakan kapal. Semakin parah kerusakan, maka semakin lama proses perbaikan.

©2021 Merdeka.com/Agung Uplo

Seluk beluk kapal tak boleh dilewati begitu saja. Termasuk bagian belakang lambung kapal, dek, geladak, propeller dan daun kemudi. Nikel penyusun propeller juga rentan terhadap kotoran yang menempel. Mereka harus membersihkannya agar laju kapal menjadi normal kembali.

Tahap akhir para docking kapal ialah pengecatan ulang lambung kapal. Tingginya kapal yang tak terjangkau, mengharuskan para pekerja docking kapal menaiki tangga. Ya, seluruh lambung kapal harus dicat untuk membuat kapal lebih cantik. Mereka menggunakan cat khusus tahan air.


©2021 Merdeka.com/Agung Uplo


Pekerja servis kapal adalah pahlawan bagi para nelayan. Susah payah mereka pun tak pernah sia-sia. Kapal nelayan bisa kembali berlayar di lautan lepas berkat tangan ajaib mereka. Peran mereka penting, yakni untuk mendukung pelabuhan ikan yang beroperasi 24 jam nonstop ini.

Ingat Zaman Si Doel

Sumur Timba Sebagai Sumber Air Warga Pinggiran Ibu Kota

Merdeka.com 2021-03-22 18:45:23
Sumur Timba Warga Cilincing. ©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho
Sumur Timba Sebagai Sumber Air Warga Pinggiran Ibu Kota
Warga menggunakan sumur timba untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK) di kawasan Sukapura, Cilincing, Jakarta, Senin (22/3/2021).
Sumur Timba Sebagai Sumber Air Warga Pinggiran Ibu Kota
Sumur timba masih menjadi sumber air utama bagi sebagian warga di RW 005 Kelurahan Sukapura untuk keperluan MCK walaupun jaringan pompa listrik dan PAM sudah tersedia.
Sumur Timba Sebagai Sumber Air Warga Pinggiran Ibu Kota
Warga mengangkut air yang diambil dari sumur timba. Meski kondisi air jernih dan tawar, warga setempat tidak menggunakan air sumur timba untuk konsumsi.
Sumur Timba Sebagai Sumber Air Warga Pinggiran Ibu Kota
Sedikitnya lebih dari 5 sumur timba masih dijaga dan digunakan warga RW 005 Sukapura hingga kini.
Sumur Timba Sebagai Sumber Air Warga Pinggiran Ibu Kota
Salah seorang warga mengungkapkan, kelebihan air sumur timba antara lain gratis dan tidak pernah kering walau musim kemarau.
Sumur Timba Sebagai Sumber Air Warga Pinggiran Ibu Kota
Warga menggunakan air dari sumur timba untuk mencuci pakaian.
Sumur Timba Sebagai Sumber Air Warga Pinggiran Ibu Kota
Anak-anak saat mandi menggunakan air sumur timba.

Jakarta Jangan Dibeton Semua

Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur

Merdeka.com 2021-02-01 16:22:03
Kolong Flyover Cipinang Jadi Taman Sayur. ©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Warga melakukan perawatan taman sayur di kolong flyover Cipinang, Jakarta, Senin (1/2/2021).
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Atas inisiasi PPSU Kelurahan Cipinang dibantu warga setempat, lahan kosong yang berada di bawah flyover tersebut disulap menjadi ruang terbuka hijau dan area interaksi warga.
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Selain sayur seperti sawi dan kangkung, taman ini juga dilengkapi kolam ikan yang hasil panennya untuk dikonsumsi oleh warga sebagai program ketahanan pangan.
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Warga memberi pakan kepada ikan yang diternak di kolam buatan.
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Warga melakukan perawatan taman sayur di kolong flyover Cipinang, Jakarta, Senin (1/2/2021).
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Warga melakukan perawatan taman sayur di kolong flyover Cipinang, Jakarta, Senin (1/2/2021).
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Lahan kosong di bawah flyover tersebut menjadi ruang terbuka hijau dan area interaksi warga.
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Suasana kolong flyover yang penuh dengan sayuran yang ditanam warga Cipinang, Jakarta, Senin (1/2/2021).
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Warga menyiram tanaman saat melakukan perawatan taman sayur di kolong flyover Cipinang, Jakarta, Senin (1/2/2021).
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Warga memberi pakan kepada ikan yang diternak di kolam buatan.
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Anak-anak saat bermain di taman kolong flyover Cipinang.
Menyulap Kolong Flyover Jadi Taman Sayur
Pengendara sepeda motor melintas di kawasan taman sayur di kolong flyover Cipinang, Jakarta, Senin (1/2/2021).