Volume 14

Pendapatan Manusia Silver

Kisah Manusia Silver Paruh Baya

Merdeka.com 2021-04-04 06:35:00
Nenek Manusia Silver di Tangerang. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Perempuan renta setengah baya, diam di trotoar jalan. Pagi menjelang siang hari. Dia terlihat di sudut toko yang tak jauh dari perempatan jalan.

Nenek Mumun mulai merias wajah dan tubuhnya dengan cat silver. Tangan keriput perempuan berusia sekitar 60 tahun itu dengan cekatan melumuri hampir seluruh bagian tubuhnya dengan cat seharga Rp35.000 per kaleng. Tak tampak lagi kulitnya yang berwarna coklat kehitaman.

©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

"Nanti setelah mengamen, cat ini bisa dihilangkan dengan cairan pencuci piring," ujar Mumun saat berbincang dengan merdeka.com, akhir pekan lalu.

Sudah 4 bulan ini dia bersama cucu laki-lakinya, Reihan yang baru berusia 2,5 tahun, mengais rezeki di bawah terik matahari. Dia mengamen berbalut manusia silver.

Mumun sempat menjadi asisten rumah tangga di kawasan Tangerang. Namun kini sudah tidak lagi. Karena itu dia tak lagi punya pilihan. Jalan hidup ini harus dilakoni. Demi hidup Reihan.

©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Kedua orang tua Reihan sudah lama bercerai. Mereka tidak pernah menengok apalagi memberi nafkah Reihan. Mumun harus menghidupi Reihan seorang diri.

Reihan dipeluknya erat. Mumun berdiri mematung di depan para pengendara bermotor yang berhenti di perempatan jalan. Dia lantas berkeliling, membawa kotak kardus. Mengharapkan suara jatuhnya uang receh ke dalam kotak.

©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Setiap hari, aktivitas yang sama selalu berulang dilakukan. Hingga sore hari menjelang. Dia mulai menghitung pendapatan. Rata - rata Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari. Diperoleh dari hasil menjelma diri menjadi manusia silver.

"Yang penting dapat membeli susu buat Reihan dan makan sehari-hari," tuturnya.

Hidup Berdampingan Orang Mati

Hidup Berdampingan dengan Orang Mati

Merdeka.com 2021-04-04 15:07:00
Warga miskin Venezuela tinggal di kuburan. ©Pedro Rances Mattey/AFP

Tak ada tempat lagi bagi warga miskin dan tunawisma di Venezuela. Jika ingin menemui mereka, datang saja ke sebuah komplek pemakaman di Caracas.

Tempat itu menjadi rumah bagi banyak tunawisma. Mereka harus rela hidup berdampingan dengan orang mati. Karena tak lagi memiliki tempat tinggal yang layak huni.

©Pedro Rances Mattey/AFP

Dilansir dari foto AFP, mereka membangun gubuk ala kadarnya. Untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Gubuk itu berdiri di sisi pusara pemakaman. Bahkan, ada juga yang berdiri di atas pusara makam.

Gubuk-gubuk itu dihuni keluarga miskin. Kondisinya tidak layak. Seperti kondisi pemakaman yang juga terlihat terbengkalai. Bahkan ada tengkorak kepala manusia.

©Pedro Rances Mattey/AFP

Anak-anak bermain di sekitar pemakaman. Mereka hidup berdampingan dengan orang yang sudah mati. Untuk diketahui, krisis yang terjadi di Venezuela beberapa tahun terakhir telah membuat anak-anak Venezuela harus hidup tanpa Orang Tua.

Menurut LSM Cecodap, sekitar 850.000 anak-anak Venezuela hidup tanpa orang tuanya. Para orang tua memilih bermigrasi untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang ditinggalkan.

Data 2019, sebanyak 4 juta warga Venezuela memilih meninggalkan negara mereka yang dilanda krisis ekonomi. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 700.000 orang meninggalkan Venezuela dari akhir 2015 hingga kini.

©Pedro Rances Mattey/AFP


Foto Esai Terbaik Nasional

Panggilan Hidup Badut Syiar

Merdeka.com 2020-12-19 07:07:00
Foto esai Badut Syiar. ©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Setiap hendak ke luar rumah, Yahya (38) selalu berdiri di depan kaca. Memastikan penampilannya menyenangkan dan tidak mengecewakan.

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Hidung merah besar dengan peci putih di kepalanya. Wajahnya dirias warna merah dan putih. Sepatu dengan ujung besar melengkapi pakaiannya yang berwarna cerah.

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Anak bungsunya tak ketinggalan. Usianya masih 4,5 tahun. Wajahnya polos, berbalut warna putih. Juga peci berwarna senada. Hasil tangan cekatan sang ayah.

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Koper hitam besar disiapkan. Isinya peralatan yang dibutuhkan. Mereka kini siap meniti jalanan. Menebar keceriaan, menabur kebaikan.

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Sosoknya tak asing di lingkungan rumahnya, kawasan Sudimara Pinang, Tangerang, Banten. Senyum, tegur sapa dan lambaian tangan selalu menyertai langkah kakinya. Bersama sang anak yang setia mendampinginya. Sang badut berjalan dalam ceria.

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Yahya bukan badut biasa. Sepuluh tahun melakoni jalan hidup sebagai seorang badut syiar. Bukan sekadar sang penghibur. Tapi juga pendidik dan pendakwah. Mengajarkan ajaran agama serta benih kebaikan di dalamnya. Kepada anak-anak penghuni Panti Asuhan Darussalam An'nur.

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Sang badut syiar mengajar 45 anak yatim piatu dengan cara menyenangkan. Tanpa mengharap imbalan. Terpenting adalah pengabdian. Bekalnya, nilai kemanusiaan.

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Dia mengajari iqro, tajwid, tauhid, fiqih, dan ilmu agama yang dibutuhkan. Berbalut hiburan, mengundang gelak tawa dan keceriaan. Itu sudah sangat bernilai bagi hidupnya.

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Jalan hidupnya sebagai seorang badut syiar berawal dari seorang ustaz. Dia memberikan jalan tengah ketika Yahya bimbang memilih tetap mengajar pengajian atau menjadi seorang badut.

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

"Ustaz senior memberikan solusi dengan perumpamaan kisah Abunawas yang kerap melucu tapi tetap berdakwah, menjadi seorang Badut Syiar," kenang Yahya.

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Kisah Abunawas menjadi jawaban kegelisahan. Yahya memutuskan berdakwah dengan cara menyenangkan. Menyampaikan pelajaran tentang moral, adab dan ahlak. Membina generasi yang saleh dan berbudi pekerti. yahya menabung pahala. Bekal di kehidupan selanjutnya.

Niagara Indonesia

Eksotisnya Air TerjunTumpak Sewu, Disebut Niagara Indonesia

Merdeka.com 2021-03-31 13:30:00
Menyibak Pesona Air Terjun Tumpak Sewu, Surga di Lereng Semeru. ©2021 Merdeka.com/Asep Mahdi

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru begitu fenomenal. Seolah tak pernah berhenti menyuguhkan pesonanya. Kali ini dari lereng gunung Semeru. Puncak tertinggi di Pulau Jawa ini selalu memukau dunia. Salah satu pesonanya ialah air terjun Tumpak Sewu, di Lumajang, Jawa Timur. Pesonanya selalu membangkitkan gairah wisatawan untuk singgah.

Air terjun ini punya keunikan yang akan membuatmu terpesona. Aliran air terjun melebar bak tirai raksasa. Mengalir jatuh ke dasar air terjun melalui tebing setinggi 120 meter. Percikannya menyejukkan udara. Debit air tinggi membuat embun melingkupi air terjun. Tak heran, air terjun ini mendapat julukan Niagaranya Indonesia.

Air terjun mengalir langsung dari gunung Semeru, atapnya pulau Jawa. Air terjun ini bak surga tersembunyi di lereng Semeru yang patut kamu datangi. Nuansa sejuk dan panorama asri yang pasti kamu dapatkan saat berada di air terjun Tumpak Sewu.

©2021 Merdeka.com/Asep Mahdi

Ada dua spot ciamik menikmati keindahan air terjun Tumpak Sewu. Pos Panorama disediakan untuk melihat dari atas. Sedangkan pos lembah, khusus melihat keagungan Tumpak Sewu dari bawah. Untuk menuju pos Panorama, kamu hanya perlu berjalan melalui anak tangga.

Jalan setapak menuju pos Panorama aksesnya mudah. Tangga sudah dilengkapi pegangan membuatmu aman saat perjalanan. Perjalanan tak terasa membosankan dengan pemandangan rindangnya hutan lereng Semeru.

Setelah berjalan 10 menit, kamu akan mulai mendengar gemuruh air. Saat itulah kamu akan melihat pesona Air Terjun Tumpak Sewu. Air yang berjatuhan dari tebing menyejukkan suasana. Jika beruntung, kamu akan mendapatkan panorama gunung semeru di balik Tumpak Sewu. Sebuah pemandangan yang patut kamu abadikan dengan kameramu.

©2021 Merdeka.com/Asep Mahdi

Sesuai namanya Tumpak berarti aliran air dan Sewu bermakna seribu. Tumpak Sewu memiliki arti seribu aliran. Pasalnya, banyaknya aliran air yang jatuh terlihat menyelimuti tebing. Namun, sumber air utama yang mengalir berasal dari sungai Glidik yang berwarna cokelat. Sisanya berasal dari mata air jernih di dinding tebing.

Berada di ketinggian 500 meter, membuat nuansa air terjun sangat sejuk. Vegetasi hijau di atas tebing menjadi indikasi hutan lereng Semeru asri. Formasi dinding menjulang membentuk setengah lingkaran. Pos Panorama ini menjadi spot favorit menikmati keindahan air terjun Tumpang Sewu.

©2021 Merdeka.com/Asep Mahdi

Setelah cukup menikmati Tumpang Sewu dari ketinggian, tak ada salahnya melihat dari bawah. Spot lembah Tumpang Sewu ini tak kalah menarik. Namun butuh perjuangan untuk mencapainya. Kamu harus menuruni setidaknya 1000 anak tangga. Jalur ini terbilang ekstrim dengan kemiringan mencapai 70 derajat. Perlu keberanian dan kehati-hatian untuk menuruni bukit.

Setelah menempuh 400meter perjalanan, kamu akan menemui aliran air Sungai Glidik. Tebing setinggi 120 meter akan kamu lihat sesampainya di lembah. Dari bawah kamu dapat menjajal kesegaran percikan air terjun. Kemegahan air terjun akan kamu nikmati saat di lembah ini. Namun, Cuaca menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Jika hujan, tingginya debit air dapat membuat bebatuan tebing berjatuhan.

©2021 Merdeka.com/Asep Mahdi

Tumpak Sewu berbatasan langsung dengan Kota Malang. Malang maupun Lumajang jaraknya sama. Cukup 2 jam berkendara untuk menikmati kesejukan Tumpak Sewu. Tiket masuknya sangat bersahabat dengan kantong. Wisatawan hanya perlu membayar Rp 10 ribu. Sedangkan parkir sepeda motor Rp 5 ribu, untuk mobil Rp 10 ribu saja.

Fasilitas pendukung di sini juga terbilang lengkap. Spot kuliner, mushola dan toilet telah disediakan pengelola. Air terjun Tumpak Sewu menjadi pilihan wisatawan saat berwisata ke Malang maupun Lumajang.

Peluru vs Ketapel

Myanmar di Ambang Perang Saudara, Pertumpahan Darah Sudah Tidak Terelakkan

Merdeka.com 2021-04-01 12:10:00
Demonstran Lawan Polisi Pakai Senapan Angin dan Ketapel. ©2021 REUTERS Stringer

Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Myanmar kemarin menegaskan kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil tindakan di tengah memanasnya situasi di negara itu. Myanmar kini di ambang perang saudara dan pertumpahan darah lebih parah tak bisa dihindarkan di tengah unjuk rasa menentang kudeta yang sudah menewaskan lebih dari 500 orang.

Christine Schraner Burgener dalam sidang tertutup dengan 15 anggota Dewan Keamanan PBB mengatakan para jenderal Myanmar yang mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari tidak mampu mengurus negara dan situasi di lapangan bisa kian memburuk. Demikian pernyataan yang diterima sejumlah wartawan.

"Pertimbangkanlah untuk mengambil tindakan bersama dan lakukanlah dengan benar apa yang berhak diperoleh rakyat Myanmar dan mencegah bencana multi-dimensi di jantung Asia," kata dia.

Dewan Keamanan harus mempertimbangkan "tindakan yang cukup signifikan" untuk mengubah keadaan karena "pertumpahan darah sudah tidak terelakkan," tegas Schraner Burgener.

Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), hingga kini tercatat sudah 536 warga sipil tewas dalam unjuk rasa sejak militer menahan pemimpin sipil terpilih Aung San Suu Kyi dan mengambil alih kekuasaan. Sebanyak 141 di antaranya tewas Sabtu lalu, hari paling buruk sejak unjuk rasa.

Militer Myanmar juga kian menggencarkan serangan terhadap etnis minoritas di perbatasan. Sabtu lalu jet-jet tempur Myanmar melancarkan serangan udara pertama kalinya dalam 20 tahun ke Negara Bagian Karen di sebelah timur Myanmar. Serangan itu menyebabkan ribuan warga melarikan diri ke perbatasan menuju Thailand.

Inggris mengajukan permohonan agar Dewan Keamanan PBB menggelar rapat untuk menanggapi memanasnya situasi.

"Kekerasan yang dilakukan militer sangat keji dan harus mendapat respons keras dari komunitas internasional," kata Duta Besar Inggris untuk PBB, Barbara Woodward dalam jumpa pers virtual.

Demi Sesuap Nasi

Pengupas Kerang Hijau, Sang Pencari Rupiah di Cilincing

Merdeka.com 2021-03-30 13:30:00
Kerang Hijau, Permata Hijau Para Pengupas Kerang di Cilincing. ©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Utara Kota Jakarta berbatasan langsung dengan laut. Daerah pesisir ini termasuk dalam kawasan tersibuk di dunia. Berbagai kapal hilir mudik singgah di pelabuhan pesisir Jakarta ini. Pesisir laut identik dengan nelayan. Salah satunya Kampung nelayan Cilincing, Jakarta Utara. Tak hanya ikan, berbagai komoditas tangkapan laut juga ada. Tidak ketinggalan kerang hijau.

Kampung nelayan Cilincing punya sentra pengupas kulit kerang. Salah satu proses unik dalam mengolah kerang kaya manfaat ini. Merekalah para pengupas kulit kerang. Bekerja dengan memisahkan daging kerang dari cangkangnya. Butuh skill khusus untuk mengupas ribuan kerang. Ketekunan dan kecepatan, menjadi kunci mereka menghasilkan rupiah dari permata hijau ini.

Berkarung-karung kerang datang dari nelayan. Para pekerja bersiap mensortir kerang. Memisahkannya dari kotoran dan karang yang menempel. Nampak pekerja pria menyiapkan tungku perebusan kerang. Dilingkupi bau amis, mereka bekerja dengan hati-hati.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Siapa sangka, kerang kecil bercangkang hijau ini punya segudang manfaat. Biota laut ini kaya protein dan nutrisi. Semuanya berawal dari proses kupas kulit kerang. Proses memasak paling awal dalam mengolah kerang hijau. Dari sana, olahan ala seafood dapat disajikan dengan lezatnya.

Kerang hijau pasca sortir kemudian dimasukkan ke dalam tungku perebusan. Dijaga seorang pria, api perebusan selalu menyala. Kayu bakar menjadi pilihan menghasilkan api perebusan. Api dari kayu bakar lebih awet, merata, dan hemat. Kayu juga menghasilkan aroma khas dan alami bagi kerang.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Gejolak api membuat uap panas perebusan menyebar. Pertanda kerang sebentar lagi matang. Tak butuh waktu lama, merebus kerang hijau cukup 10 menit. Pekerja pria kemudian mengangkat panci raksasa perebusan. Air yang mendidih kemudian segera ditiriskan. Uap panas semakin menyerbak hingga memenuhi ruangan. Sembari ditiriskan, kerang didiamkan untuk proses pendinginan.

Tumpukan kerang hijau dengan sisa uap panas siap dikupas. Sebagian besar pekerja kupas kulit kerang ialah perempuan. Mereka biasanya bekerja secara kelompok. Terlihat tangan cekatan mereka mengupas kulit kerang. Dibantu dengan pisau kecil, ribuan kerang mampu mereka kupas hingga tuntas.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Butuh konsentrasi dalam mengupas kulit kerang. Cangkang atau kulit kerang sangatlah keras.Tak jarang tangan pekerja ini terluka atas tajamnya kulit kerang. Tak hanya itu, jika tidak hati-hati, jari bisa terkena pisau. Pengupas kerang biasanya menggunakan sarung tangan sederhana untuk jaga-jaga.

Bau amis seolah menjadi aroma khas tempat pengupas kulit kerang. Sembari bercengkerama, para ibu rumah tangga ini menghilangkan kejenuhan. Tak jarang, putra-putri mereka juga turut membantu mengupas kerang. Daging kerang berwarna kuning kecokelatan ini bagaikan emas bagi mereka.

©2021 Merdeka.com/Fiqi Achmad

Ada pemandangan unik tersendiri di setiap sentra pengupasan, Tumpukan kulit kerang menghiasi sudut kampung nelayan. Mengatasinya, beberapa warga bahkan berinovasi membuat kerajinan dari kulit kerang.

Setiap satu mandor, ada 5 hingga 20 pengupas kerang. Para pengupas biasa dibayar Rp 3 ribu tiap 1 kg daging kerang. Setiap harinya pengupas kulit kerang mampu mendapat Rp 35 ribu. Kerang nantinya akan diedarkan di kawasan Jakarta, bahkan hingga Bogor.

Selain nelayan, stok kerang hijau berasal dari pembudidaya. Namun, seiring waktu populasi kerang hijau mulai menipis. Bahkan kerang hasil budidaya belum bisa mencukupi kebutuhan pasar. Para pengupas kulit kerang sangat bergantung pada ketersediaan kerang hijau. Dari merekalah, kebutuhan protein dan nutrisi kerang bisa tetap tersedia.

Di Balik Keangkeran Alcatraz Indonesia

Pesona di Balik Kesan Angker Pulau Nusakambangan Cilacap

Merdeka.com 2021-03-30 13:00:00
Pulau Nusakambangan. ©2021 Merdeka.com/Gebyar Adisukmo

Pulau Nusakambangan Cilacap dikenal sebagai tempat para narapidana kelas kakap. Pulau di Jawa Tengah ini juga dikenal angker, pasalnya ratusan orang bahkan ribuan narapidana mati secara tak wajar. Kebanyakan dari mereka dieksekusi dan terjangkit wabah malaria seperti yang diriwayatkan pada masa kolonial Belanda.

Mitosnya makhluk halus berkeliaran di pulau yang dijuluki Pulau Kematian ini. Mengetahui kisahnya, sudah cukup membuat bulu kuduk merinding apabila mendengar nama Nusakambangan. Bahkan, saking menyeramkannya pulau Nusakambangan disebut Alcatraz-nya Indonesia. Penjara ikonik yang ada di Amerika Serikat.

Tetapi jangan salah, di balik keangkerannya, Nusakambangan memiliki pesona yang indah. Sederet pantai berpasir putih ada di pulau ini. Wisata alam di sudut Pantai Pasir Putih yang tak kalah apik ialah Benteng Klingker.

©2021 Merdeka.com/Gebyar Adisukmo

Benteng Klingker berada di Nusakambangan bagian Timur. Dibangun pada tahun Daendels sekitar 1836, benteng yang menjadi sejarah peninggalan zaman Belanda ini masih kokoh berdiri hingga kini.

Bangunan yang tersembunyi di balik hutan ini mempunyai langit-langit lengkung yang tinggi. Dinding Benteng Klingker tersusun dari batu-bata merah. Seolah terikat dengan benteng, akar-akar pohon besar tertanam kuat di dinding benteng. Tanaman hijau tumbuh lebat di sekitar benteng berbentuk lingkaran ini.

Dulunya benteng ini merupakan sistem pertahanan pantai. Difungsikan oleh Belanda untuk mengamankan area pelabuhan Cilacap dari ancaman musuh yang datang dari laut. Selain Benteng Kelingker, masih ada benteng Karangbolong dan Benteng Pendem yang tak kalah memesona.

©2021 Merdeka.com/Gebyar Adisukmo

Tak jauh dari Benteng Klingker, terdapat pantai pasir putih Kalipat. Pantai ini berada di pinggiran garis yang mengelilingi Pulau Nusakambangan dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Dari wilayah yang luas itu wisatawan dimanjakan dengan pemandangan bukit tinggi yang berada di sebelah barat pantai.

Tak hanya itu saja, pelancong juga akan menemukan banyak batu karangdi sepanjang pantai. Jauh dari keramaian, Pantai Kalipat memang cocok untuk kamu yang butuh ketenangan diri.

©2021 Merdeka.com/Gebyar Adisukmo

Pesona pantai Kalipat memang tiada duanya. Perpaduan warna birunya pantai dan langit akan memanjakan mata kita. Masih tergolong sepi, saat berkunjung ke pantai ini seolah merasakan sensasi private beach.

Menikmati keindahan Pantai Kalipat memang butuh perjuangan. Pengunjung harus berjalan kaki sekitar 1,5 jam dari Pantai Karang Tengah. Medannya cukup menantang dengan melewati hutan yang lebat. Tak jarang berjumpa dengan kawanan kera yang semakin menambah warna perjalanan.

Untuk mencapai Benteng Klingker dan Pantai Kalipat para pelancong harus menaiki perahu dari dermaga Teluk Penyu. Cukup mengeluarkan dana sebesar Rp30 ribu per orang dimana sudah termasuk tiket masuk ke lokasi ke Pulau Nusakambangan.

©2021 Merdeka.com/Gebyar Adisukmo

Namun, sebelum ke Pulau Nusa Kambangan tak afdal rasanya, jika tak bermain-main terlebih dahulu di Pantai Teluk Penyu. Pantai yang terletak di pesisir selatan Pulau Jawa ini menjadi ikon tersendiri bagi Cilacap.

Khas dari pantai teluk penyu ialah jembatan beton yang berfungsi sebagai pemecah ombak dan mencegah abrasi pantai. Para pelancong biasanya duduk sembari menikmati angin laut atau bermain dengan air pantai.

Awalnya pantai ini digunakan sebagai tempat pengembangan penyu. Namun, karena mulai banyaknya aktivitas orang di pantai, kapal tangker dan perahu nelayan. Penyu pun berimigrasi mencari habitat lain.

Perempuan Setengah Abad Mengejar Pendidikan

Perempuan Setengah Abad Mengejar Pendidikan

Merdeka.com 2021-04-04 10:05:00
Kisah perempuan Nigeria bersekolah di usia 50 tahun. ©REUTERS/Temilade Adelaja

Ketika masih anak-anak, Shade Ajayi menghabiskan waktunya bekerja di toko sang bibi. Dia tidak bersekolah. Shade Ajayi tidak pernah menginjakkan kaki di ruang kelas sampai berusia paruh baya.

Kini Ajayi menjalankan bisnisnya sendiri. Membuat dan menjual dompet dan tas. Namun, ketidakmampuannya membaca dan menulis, menjadi penghalang terbesar untuk mengembangkan diri.

©REUTERS/Temilade Adelaja

Sekarang di usianya yang ke-50 tahun, pengusaha wanita itu masuk ke ruang kelas. Dia dengan senang hati dan bersemangat belajar membaca dan menulis. Bersama siswa yang hampir empat dekade lebih muda darinya.

Baju seragam dan topi merah muda dikenakannya. Dia bergabung dengan ratusan murid yang berpakaian serupa di Sekolah Tata Bahasa Ilorin. "Saya tidak malu memakai seragam," katanya seperti dikutip Reuters.

©REUTERS/Temilade Adelaja

Ajayi belajar bersama teman-teman sekelasnya yang usianya jauh lebih muda. Dia tidak merasa malu. Dia mencatat setiap materi pelajaran yang diberikan gurunya.

Semangat Ajayi menggugah sang guru. Tidak herang, Ajayi selalu mendapat bantuan gurunya saat mengikuti kegiatan belajar di ruang kelas.

©REUTERS/Temilade Adelaja

Kini Ajayi bisa membantu cucunya yang berusia 6 tahun, Deborah Adeboye, mengerjakan pekerjaan rumahnya.

©REUTERS/Temilade Adelaja


Robot Melukis, Ini Hasilnya

Robot Sophia Unjuk Kebolehan Melukis Wajah

Merdeka.com 2021-03-22 14:43:43
Robot Sophia melukis wajah di selembar kertas. ©2021 REUTERS/Tyrone Siu
Robot Sophia Unjuk Kebolehan Melukis Wajah
Robot Sophia saat melukis wajah di atas selembar kertas. Karya seni digital non-fungible token (NFT) buatan robot humanoid yang dikembangkan Hanson Robotics itu rencananya akan dilelang di Hong Kong.
Robot Sophia Unjuk Kebolehan Melukis Wajah
Robot humanoid Sophia dengan menggunakan jari-jari besinya saat menuangkan karyanya saat melukis wajah di atas selembar kertas.
Robot Sophia Unjuk Kebolehan Melukis Wajah
Karya lukisan buatan robot Sophia rencananya akan dilelang di Hong Kong dalan bentuk karya seni digital NFT.
Robot Sophia Unjuk Kebolehan Melukis Wajah
Beberapa karya seni dari koleksi NFT nantinya akan dipajang di media sosial Sophia dan seniman Andrea Bonaceto.
Robot Sophia Unjuk Kebolehan Melukis Wajah
Robot humanoid Sophia saat melukis wajah sebelum melelang karya seni non-fungible token (NFT) di Hong Kong.
Robot Sophia Unjuk Kebolehan Melukis Wajah
Karya lukis buatan robot humanoid Sophia saat ditampilkan di layar komputer sebelum dilelang.
Robot Sophia Unjuk Kebolehan Melukis Wajah
Robot Sophia saat memegang kuas sebelum membuat karya seni lukis.

Holi di Tengah Pandemi

Warna Warni Festival Holi di Tengah Pandemi

Merdeka.com 2021-04-04 18:04:00
Festival warna-warni di India. ©REUTERS/Adnan Abidi

Semarak festival warna - warni tetap digelar di India meski pandemi Covid-19 belum selesai. Festival tahunan ini untuk mengharap hasil panen melimpah dan tanah yang subur.

Disebut Lathmar Holi atau festival Holi. Sudah tersohor hingga seluruh dunia. Sebuah festival warna warni yang menjadi selebrasi adat umat Hindu India.

©Xavier Galiana/AFP

Awalnya, festival ini digelar untuk menandakan kehadiran musim semi. Namun kini, Holi telah berkembang menjadi perayaan kasih sayang, persahabatan, masa muda, hingga kesuburan. Holi juga sebagai momen berkumpul dengan orang-orang terkasih.

Puncak perayaan Holi didedikasikan untuk bermain air sembari melemparkan bubuk warna-warni yang dikenal dengan gulal. Di momen ini pula dapat menikmati suguhan manis.

©REUTERS/Adnan Abidi

Orang - orang saling melempar bubuk berwarna selama perayaan Lathmar Holi. Tanpa mengenakan masker, mereka larut dalam kemeriahan festival di Kota Barsana, negara bagian Uttar Pradesh, India, pada 23 Maret 2021.

Festival tahunan untuk mengharap hasil panen yang melimpah dan tanah yang subur ini tetap semarak meski diadakan di tengah pandemi Covid-19.

©REUTERS/Adnan Abidi

Warna-warna terang yang digunakan pada festival ini dipercaya melambangkan energi, kehidupan, dan datangnya musim semi.

Festival Holi sebenarnya merupakan hari besar agama Hindu yang berasal dari mitos. Konon, diceritakan bahwa Krishna yang berkulit gelap cemburu melihat Radha yang memiliki kulit putih. Krishna kemudian mengatakan pada ibunya, Yashoda mengenai hal tersebut dan mengatakan bahwa dia bisa mengubah warna kulit Radha dengan melumurinya dengan warna.

©REUTERS/Adnan Abidi

Karena itu, setiap musim semi festival Holi dirayakan dengan taburan warna-warni. Tak hanya bubuk warna, terkadang pewarna juga dicampur dengan air dan disiramkan pada orang-orang. Warna-warna terang yang digunakan pada festival ini dipercaya melambangkan energi, kehidupan, dan datangnya musim semi.

Holi juga dimeriahkan dengan pembuatan kembang api yang dipercaya bisa mengusir roh jahat dan merayakan kemenangan kebaikan melawan kejahatan. Untuk merayakan Holi biasanya warga India memakai pakaian putih, yang tentu saja tak akan tetap putih hingga festival berakhir.

Memburu Teroris Milenial

Virus Radikalisme di antara Wahabi dan Milenial

Merdeka.com 2021-03-31 14:54:14
Rekonstruksi ledakan di depan Gereja Katedral di Makassar. ©2021 AFP/INDRA ABRIYANTO

L dikenal sosok pendiam. Di rumahnya, ia tinggal bersama ibu dan adik perempuannya. Sang ayah sudah tiada sejak L usia lima tahun. L merupakan pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar pada Minggu (28/3) pagi. Dia bersama sang istri, YSR mengendarai sepeda motor dan meledakkan diri di depan gerbang gereja.

L dan YSR baru menikah 6 bulan. Tinggal di rumah kontrakan di Jalan Tinumbu I Lorong 132, RW 1, Kelurahan Bungaejaya, Kecamatan Bontoala. Tetangga L tidak menyangka jika warganya yang dikenal penyabar itu menjadi pelaku pengeboman Gereja Katredal.

Ketua RW setempat, Hakim, mengungkapkan L mulai menjadi pribadi yang tertutup sejak berhenti kuliah. Dia tidak lagi pernah berkumpul dengan warga sekitar. L juga jadi sering pulang malam, entah apa kegiatan yang ia lakukan. Tetangga sekitar L mengaku tak tahu menahu alasan L berhenti kuliah dan suka pulang malam.

"Dia kuliah dekat sini, saya lupa kampus apa. Tapi tiba-tiba dia berhenti. Saya kasihan sama ibunya, karena tidak mau dilarang. Dia berubah, jadi sering pulang malam, sudah tidak mau bergaul sama warga sini. Dulu memang pendiam, tapi masih mau kumpul," kata Hakim dikutip dari Tribun News Makassar, Rabu (31/3).

Warga juga mengatakan, L tidak mau makan daging ayam ataupun sapi jika kedua hewan itu bukan dirinya sendiri yang menyembelih. Perubahan lainnya yang diketahui warga yakni terkait sikap L kepada ibunya. Warga mengungkapkan, jika watak L menjadi lebih keras dan sering menegur ibunya jika melakukan ritual adat, misalnya barazanji. Padahal L dikenal sebagai anak yang penyabar sejak kecil.

"Dia selalu tegur orangtuanya kalau barazanji, katanya bid'ah, tidak boleh. Bahkan L ini tidak mau makan ayam atau sapi kalau bukan dia sendiri yang potong," tuturnya.

Warga mengaku semakin kasihan dengan ibunya yang ini hanya tinggal berdua dengan adik perempuannya. Pasalnya, Ibu L sudah ditinggal suaminya sejak 21 tahun lalu, kini ibunda hanya mendapatkan pemasukan dari usahanya membuka warung kecil. "L penyabar sekali dari kecil, sudah yatim dari umur 5 tahun. Kasihan ibunya, jualan di warung. Cuma dibantu sama adik perempuan L," ujarnya.

Sosok Disenangi Warga

Warga setempat bahkan juga tidak tahu jika L sudah menikah dengan YSR. Karena kata dia, L dan istrinya tidak mendaftarkan pernikahannya di Kementerian Agama. Sebelum menikah, L tinggal bertiga dengan ibu dan adik perempuannya. Meskipun L dan istrinya terduga teroris, namun warga setempat mengaku tidak membenci sikap dan perilaku L, karena memang ia dikenal sebagai pribadi yang baik. Sehingga jika jenazah L dimakamkan di pemakaman yang ada di Kelurahan Bontoala, warga mengaku tidak keberatan.

"Tiba-tiba menikah, tidak tahu orang mana itu (istrinya), kami tidak tahu karena tidak menikah lewat pemerintah, kalau L mau dikuburkan di pemakaman sekitar, warga di sini tidak ada yang keberatan," katanya.

Jenazah L dimakamkan di samping makam ayahnya di pemakaman keluarga di Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Maros Baru, pada hari Senin sore (29/3). L lahir di Kecamatan Maros dan baru pindah ke Kecamatan Bontoala sejak ayahnya meninggal dunia pada tahun 2000.

Dinikahkan Teroris JAD

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengungkap, L dan istrinya telah menikah pada Oktober 2020. Usia pernikahannya masih 1 semester. Keduanya dinikahkan oleh Risaldi, tersangka teroris yang tewas saat hendak ditangkap di Villa Mutiara, Januari lalu.

"Keduanya enam bulan lalu dinikahkan oleh Risaldi yang sudah ditangkap pada Januari yang juga kelompok JAD. Pernah terlibat operasi di Jolo Filipina," kata Listyo Sigit saat konferensi pers di Mapolda Sulsel, Senin, 30 Maret kemarin.

Seperti yang diketahui, L dan istrinya merupakan jemaah pengajian Villa Mutiara yang tergabung dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). JAD terafiliasi dengan ISIS.

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari warga sekitar, YSR sudah bergabung dengan komunitas pengajian tersebut dari kecil. YSF, wanita berusia 26 tahun itu merupakan seorang karyawan swasta.

Dia memiliki usaha sampingan yaitu berjualan makanan secara online kepada warga. Dalam menjalankan bisnisnya itu, YSF dibantu suaminya, L untuk mengantarkan makanan kepada para pelanggan setianya menggunakan sepeda motor.

Pajak sepeda motor matic bernomor polisi DD 5984 MD itu diketahui telah habis masa berlakunya pada 20 Oktober 2020. Di mana pada bulan itu keduanya melangsungkan pernikahannya.

Listyo mengatakan, sebelum menjalankan aksi bom bunuh dirinya di Jalan Kajualalido, Kecamatan Ujungpandang itu, L sempat meninggalkan surat wasiat ke ibundanya. Dari surat wasiat polisi mengaku menemukan sidik jari yang sama dengan sidik jari jenazah pelaku bom bunuh diri di Katedral.

"L sempat tinggalkan wasiat kepada orangtuanya. Isinya, yang bersangkutan pamit, siap untuk mati syahid. Kami sudah cocokkan dengan data keluarga dan ditemukan sidik jarinya, identik dengan yang kami dapatkan," kata Listyo.

Ajaran Wahabi

Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama KH Said Aqil Siradj melihat, kelompok JAD memiliki pemahaman siapapun yang tidak sependapat dengan mereka halal darahnya untuk dibunuh. Doktrin itulah yang ditanamkan ke seluruh jaringannya. Pemahaman terorisme tersebut kata dia, berasal dari ajaran Wahabi. Karena ajaran wahabi menurutnya telah memusyrikkan segala hal yang dianggap berbeda.

"Kalau JAD ini, kita ini semua halal darahnya. Kalau tidak sependapat dengan mereka termasuk katanya yang menusuk Pak Wiranto, dan yang ngebom masjid salat Jumat di Polresta Cirebon, beberapa tahun yang lalu itu jaringan Ansharuddaulah. Kelanjutan dari jamaah takfir wal hijroh mirip atau pas seperti ISIS yang mereka lakukan," kata Said Aqil saat membuka webinar Mencegah Radikalisme & Terorisme Untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial, Selasa (30/3).

Dia mengatakan, sebenarnya ajaran Wahabisme bukanlah terorisme, tapi dari paham Wahabi itulah muncul bibit-bibit teroris. Sehingga apabila bangsa Indonesia ingin menghabiskan jaringan radikalisme dan teroris, maka harus sampai ke benihnya. Said menyebut salah satu pintu masuk terorisme adalah melalui ajaran Wahabi.

"Apa pintu masuk terorisme? Wahabi. Ajaran wahabi itu pintu masuk terorisme. Wahabi bukan terorisme, bukan, tetapi pintu masuk. Kalau sudah wahabi, ini musyrik, ini musyrik, ini bid'ah, ini enggak boleh, ini sesat ini doalah, ini kafir, itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi sudah kalau darahnya boleh dibunuh. Jadi pintu masuk terorisme adalah wahabi dan salafi," ujarnya.

Selain Wahabi, menurutnya, ajaran Salafi juga menjadi pintu masuk terorisme. Sebab, Wahabi maupun Salafi sama-sama mengajarkan apa pun yang tidak sama dengan zaman Rasulullah SAW, maka termasuk bid'ah atau sesat.

"Apapun yang kita lakukan, kalau tak seperti Rasulullah, katanya bidah walau mereka juga naik mobil bukan unta. Kalau bidah berarti sesat. Kalau sesat, bisa masuk neraka. Ajaran seperti ini pintu masuk untuk menjadi terorisme, menghalalkan darah sesama orang," ungkapnya.

Milenial Jadi Sasaran

Dalam kesempatan yang sama, Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto sangat menyayangkan aksi bom bunuh diri yang diakukan oleh pasangan milenial itu. Dia pun mengungkapkan bahwa generasi muda rentan terpapar radikalisme melalui media sosial. Sasaran paham radikal memang generasi muda berusia 17-24 tahun.

Wawan juga mengatakan bahwa berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terbaru, 80 persen generasi milenial rentan terpapar radikalisme.

"Di media sosial disinyalir telah menjadi inkubator radikalisme, khususnya generasi muda, rentang kendali biasanya umur 17-24 tahun ini menjadi target utama, selebihnya di atas itu second liner," kata Wawan dalam diskusi 'Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial' di Youtube TV NU, Selasa (30/3).

Wawan mengatakan, penyebab generasi milenial mudah terpapar radikalisme yakni karena, kata dia, di usia tersebut memanglah masa-masa di mana para milenial sedang mencari jati dirinya. Selain itu, alasan lain yakni karena sejak era internet, penyebaran radikalisme mulai marak di internet.

Berdasarkan hasil survei BIN yang terkini, pengguna internet terbanyak yakni generasi milenial dan orang yang terpapar radikalisme, kata Wawan, merupakan orang yang malas melakukan check and recheck di era keterbukaan informasi ini. Wawan mengklaim bahwa BIN sudah melakukan patroli siber pencegahan radikalisme selama 24 jam, namun karena pengguna internet terus meningkat setiap tahunnya, kata dia, menjadi celah penyebaran radikalisme di internet.

"Kenaikan pengguna Internet media sosial menjadi celah penyebaran kaum intoleran dan radikal. Penyebabnya juga karena generasi muda mudah mengakses internet dan banyak waktu luang," ungkapnya.

"Penyebaran radikalisme di media sosial menarik mereka karena mereka berada di usia rawan, kebutuhan (mencari) jati diri dan eksistensi. Sebab, penyebaran paham radikal sering dibumbui narasi heroisme," lanjutnya.

Harus diakui, kata Wawan, penyebaran radikalisme di internet dilakukan dengan begitu mudah, setelah merekrut anggota, para anggota pun bukan hanya akan diajarkan teknik merakit bom saja, namun mereka juga diajarkan cara bergerilya dan menyerang.

"Cara agitasi maupun mengajak mereka untuk bergabung sebagai anggota. Kemudian mengajarkan bagaimana menyerang, kemudian teknik gerilya kota," tambah dia.

L dan YSR merakit bom bunuh diri sendiri. Mereka mempelajari cara merakitnya melalui pelatihan merakit bom online yang diajarkan oleh seniornya di JAD. Sedangkan bahan peledaknya dibiayai oleh JAD. Hal ini dikungkapkan oleh Kepala BNPT, Komjen Pol Boy Rafli saat konferensi pers di Makassar, Senin (29/3) lalu.

"Mereka ini kelahiran tahun 1995, dari kalangan milenial. Mereka belajar merakit bom lewat pelatihan online yang diajarkan seniornya dan juga berperan membeli bahan yang akan digunakan sebagai alat untuk melakukan bom bunuh diri," ungkapnya.

Milenial Harus Kritis

Generasi milenial diminta lebih kritis menyikapi setiap isu. Dengan bersikap kritis, milenial diharapkan bisa terhindar dari kelompok radikal.

"Berpikir kritis akan membantu anak-anak muda bisa terhindar atau minimal akan mempertanyakan aliran-aliran yang radikal," kata psikolog Nirmala Ika Kusumaningrum.
Nirmala memaknai kritis adalah kemampuan untuk terbuka, menganalisis, mendengarkan, mengendapkan, menggali, termasuk mencari informasi dari berbagai sumber terkait hal-hal yang ada di sekitar mereka.

Menurut dia, salah satu cara menghindari kelompok radikal adalah dengan berani membuka diri terhadap semua perbedaan dalam kehidupan. Mulai dari perbedaan suku, budaya, agama, keyakinan, selera, sampai gaya hidup sekali pun.

"Karena ketika kita mulai melihat bahwa saya lebih atau paling benar daripada dia atau mereka, perlahan bibit radikal mulai terbentuk," ujarnya.

Nirmala berpendapat, sebenarnya tidak bisa di generalisir bahwa milenial lebih mudah terjebak gerakan radikal. Menurut Nirmala, aksi bom bunuh diri seperti di Makassar beberapa hari lalu lebih terkait keimanan.

"Bukan agama ya. Sehingga akan beda cara pandangnya. Mereka tidak pernah melihat diri mereka sebagai teroris, tapi sebagai pejuang," tuturnya.

Sedangkan pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati berpendapat, kebanyakan milenial masih mencari jati diri dan mengikuti arah pihak yang paling berpengaruh. Menurut wanita yang akrab disapa Nuning ini, sangat sedikit dari usia milenial memiliki karakter yang kuat, sehingga mudah dipengaruhi hal-hal yang melawan negara.

"Pola rekrutmen (teroris) saat ini berkembang menjadi lebih terbuka menggunakan ruang publik seperti sekolah, kampus, perkumpulan agama, dan lain-lain," tuturnya secara terpisah.

Dia menilai, milenial perlu kritis jika menyangkut hal terkait pilihan hidupnya. "Kritis itu tentu bila menyangkut hal terkait dengan pilihan hidupnya. Bila salah ajaran maka kritis itu muncul justru sebagai anti ideologi negara," ujarnya.

Nuning berpesan kepada milenial agar bijak memilih pergaulan dan menghindari kelompok garis keras. Sedangkan penegak hukum harus bisa membaca penetrasi ideologi yang dinormalisasikan sehingga menciptakan enabling environment bagi kelompok teroris untuk melakukan rekrutmen, kaderisasi, dan mendapatkan dukungan dana dan politik.

"Hati-hati saat ini proses enabling environtment marak, sehingga yang tidak wajar terasa wajar atau normal," katanya.

Menurut dia, rekruitmen selain dilakukan tertutup, tapi ada ruang-ruang publik yang dipakai dalam proses penjaringan. Ruang-ruang publik yang ia maksud seperti sekolah, kampus, dan media sosial.

"Memang pemerintah sudah punya aturan, tapi butuh peran serta masyarakat untuk membantu pengentasan masalah terorisme. Dan ini baik jika milenial dilibatkan," kata Nuning.

Secara terpisah, pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Muhamad Syauqillah membenarkan bahwa yang menjadi sasaran perekrutan jaringan terorisme seluruh dunia adalah generasi muda. Tepatnya generasi Z dan milenial.

Berdasarkan data riset Center for Detention Studies (CDS), generasi muda menjadi sasaran jaringan tersebut selama 10 tahun terakhir, tepat di mana era internet muncul.

"Kalau dilihat berdasarkan data penelitian, pelaku terorisme dari generasi Z dan milenial angkanya cukup tinggi, lebih dari 50 kasus. Usianya antara 20-40 tahun," kata Syauqillah saat dihubungi merdeka.com, Selasa (30/3).

Menurutnya, pada usia tersebut merupakan usia di mana seseorang masih bingung terhadap jati dirinya. Usia tersebut kata dia, juga merupakan usia di mana semangat mencari tahu sedang menggebu-gebu, namun sayangnya semangat tersebut tidak dibekali dengan pemahaman dan bekal agama yang kuat. Sehingga menjadi tersesat dan mengikuti jalan yang salah.

"Ini bukan terjadi di Indonesia saja, tapi ini memang gejala global, di mana di usia itu, anak muda sedang mencari jati dirinya, yang pada akhirnya keliru. Mereka mudah terombang-ambing. Kalau kita lihat data CDS dari 2002-2019, keterlibatan generasi muda yang ke Suriah itu tinggi," ujarnya.

"Kalau kita lihat pola keterlibatannya, ada kecenderungan yang rentan terpapar itu pasangan yang baru menikah, tapi yang sudah lama menikah juga ada. Yang pasti, fenomena keterlibatan keluarga dan wanita meningkat setiap tahunnya," ungkapnya.

Syauqillah pun menyarankan, BIN dan BNPT lebih memperketat lagi pengawasan konten-konten radikal di media sosial. Selain itu, menurutnya BNPT juga perlu menguatkan kontra narasi terorisme dan radikalisme. Karena menurutnya program deradikalisasi saja tidak akan cukup membersihkan mantan pelaku terorisme untuk kembali bersih 100 persen dari ajaran radikal.

Berdasarkan data Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), sepanjang tahun 2002 hingga 2020, sebanyak 11,4 persen atau lebih dari 90 orang dari 825 bekas narapidana teroris kembali terlibat gerakan terorisme selepas dari penjara.

Dia menjelaskan, kontra radikalisasi merupakan upaya penaaman nilai-nilai nasionalisme serta nilai-nilai non kekerasan dengan strategi pendekatan melalui pendidikan formal maupun non formal. Kontra radikalisasi membutuhkan kerjasama antara masyarakat, tokoh agama, pendidikan, adat, pemuda, hingga stakeholder terkait.

Dia yakin, narasi kebangsaan dan perdamaian yang berorientasi dengan nasionalisme serta kemanusiaan bisa mengalahkan doktrinisasi radikal yang banyak temukan di media sosial.
Namun sayangnya, hingga saat ini, masih belum ada peraturan pelaksana yang mengatur lebih lanjut tentang kontra radikalisasi. Untuk itu, dia mendorong agar DPR segera membentuk peraturan-peraturan tersebut.

"Kalau program deradikalisasi kan sudah berjalan ya tapi kontra narasi yang belum ada. Seharusnya dari sisi regulasi, ada peraturan-peraturan di bawah UU terorisme yang sampai saat ini belum dibuat yakni soal kontra radikalisasi," ungkapnya.

"Padahal kontra radikalisme itu penting, selain adanya sinergitas antar lembaga juga. Hal ini yang menjadi kerja berat dan PR kita ke depan" kata Ketua Program Studi Kajian Terorisme Pascasarjana Universitas Indonesia itu.

Demo di Dalam Laut

Perbedaan Cuaca dan Iklim, serta Pengaruhnya Terhadap Climate Change

Merdeka.com 2020-06-25 16:15:00
Perubahan iklim. ©2013 Merdeka.com

Perbedaan antara cuaca dan iklim adalah bahwa cuaca terdiri dari perubahan jangka pendek (menit ke bulan) di atmosfer. Kebanyakan orang berpikir tentang cuaca dalam hal suhu, kelembaban, curah hujan, kekeruhan, kecerahan, visibilitas, angin, dan tekanan atmosfer, seperti pada tekanan tinggi dan rendah.

Perbedaan cuaca dan iklim adalah perihal ukuran waktu. Cuaca adalah kondisi atmosfer dalam waktu yang singkat, dan iklim adalah bagaimana atmosfer "berperilaku" selama periode waktu yang relatif lama. Ketika kita berbicara tentang perubahan iklim, kita berbicara tentang perubahan dalam rata-rata jangka panjang dari cuaca harian.


Pengertian Cuaca

Cuaca adalah keadaan atmosfer sehari-hari di suatu wilayah dan variasi jangka pendeknya berlangsung dari menit ke minggu, terutama sehubungan dengan efeknya terhadap kehidupan dan aktivitas manusia.

Perbedaan cuaca dan iklim adalah bahwa cuaca terdiri dari perubahan jangka pendek (menit ke bulan) di atmosfer. Kebanyakan orang berpikir tentang cuaca dalam hal suhu, kelembaban, curah hujan, kekeruhan, kecerahan, visibilitas, angin, dan tekanan atmosfer, seperti pada tekanan tinggi dan rendah.

Di sebagian besar tempat, cuaca dapat berubah dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dan musim ke musim.


Pengertian Iklim

Iklim adalah rata-rata peristiwa cuaca selama periode waktu yang lebih lama (biasanya 30 tahun atau lebih). Beberapa ilmuwan mendefinisikan iklim sebagai cuaca rata-rata untuk wilayah dan periode waktu tertentu. Ini benar-benar pola cuaca rata-rata untuk wilayah tertentu.

Ketika para ilmuwan berbicara tentang iklim, mereka sedang melihat rata-rata curah hujan, suhu, kelembaban, sinar matahari, kecepatan angin, fenomena seperti kabut, embun beku, dan badai hujan es, dan ukuran cuaca lainnya yang terjadi dalam jangka waktu lama khususnya pada suatu tempat.

Misalnya, setelah melihat data pengukur hujan, tingkat danau dan reservoir, dan data satelit, para ilmuwan dapat mengetahui apakah selama musim panas, suatu daerah mengalami kondisi yang lebih kering daripada rata-rata sebelumnya.

Apabila keadaan tersebut ternyata memang menjadi lebih kering dalam periode waktu yang lama, mislanya selama musim panas, hal tersebut artinya menunjukkan terjadinya perubahan iklim.


Iklim Bumi

Iklim bumi dimulai dengan matahari, satu-satunya sumber energi untuk planet kita. Iklim dipengaruhi oleh interaksi yang melibatkan matahari, lautan, atmosfer, awan, es, daratan, dan organisme hidup. Seringkali, ini dianggap sebagai "sistem iklim." Iklim bervariasi menurut wilayah sebagai akibat dari perbedaan lokal dalam interaksi ini. 

shutterstock

Di Indonesia misalnya, memiliki iklim tropis, dan hanya terdiri dari musim hujan dan musim kemarau setiap 6 bulan sekali. Namun kini, telah terjadi perubahan iklim yang dapat dilihat dari tidak menentunya jadwal musim hujan dan musim kemarau dibandingkan puluhan tahun yang lalu. 


Komponen Cuaca dan Iklim

Selain itu, perbedaan cuaca dan iklim juga memiliki komponen. Ada beberapa aspek cuaca. Komponen cuaca terdiri dari sinar matahari , hujan, awan, angin, hujan es, salju, hujan es, hujan beku, banjir, badai salju, badai es, badai petir, panas yang berlebihan, gelombang panas dan banyak lagi.

Iklim terdiri dari curah hujan, suhu, kelembaban, sinar matahari, kecepatan angin, fenomena seperti kabut , embun beku, dan badai hujan es selama periode waktu yang lama.


Climate Change (Perubahan Iklim)

Iklim bumi sekarang berubah lebih cepat dari pada titik mana pun dalam sejarah peradaban modern, terutama sebagai hasil dari aktivitas manusia. Perubahan iklim global telah menghasilkan berbagai dampak di setiap wilayah negara dan banyak sektor ekonomi yang diperkirakan akan tumbuh dalam beberapa dekade mendatang. 

Pemanasan global merupakan salah satu gejala terjadinya perubahan iklim. 

Hal tersebut disebabkan karena karbon dioksida (CO2), dan polutan udara lainnya serta gas rumah kaca berkumpul di atmosfer kemudian menyerap sinar matahari dan radiasi matahari yang memantul dari permukaan bumi.

Radiasi ini biasanya akan melarikan diri ke luar angkasa, namun karena adanya polutan sehingga radiasi dan sinar matahari terperangkap selama bertahun-tahun di atmosfer. Fenomena ini dikenal dengan efek rumah kaca.

Gas-gas yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca yang berdampak besar yaitu Karbon dioksida (CO2), Nitro Oksida (NOx), Sulfur Oksida (Sox), Metana (CH4), Chloroflurocarbon (CFC), Hydrofluorocarbon (HFC).


Dampak Perubahan Iklim

Tak hanya soal perbedaan cuaca dan iklim saja, tapi perbedaan ini juga berdampak bagi perubahan iklim. Pada tahun 2019, terjadi kenaikan suhu rata-rata di Indonesia sebesar 0,58 derajat Celcius. Hal ini menjadikan tahun 2019 sebagai tahun terpanas kedua sejak rentang kenaikan suhu tahun 1981-2010 setelah tahun 2016.

World Meteorological Organization (WMO) mengungkapkan terjadi kenaikan suhu rata-rata global mencapai 1,1 derajat Celcius. Kenaikan tersebut mengakibatkan banyak terjadinya bencana alam sebagai respon naiknya suhu bumi selama tahun 2019, seperti badai, kekeringan, banjir, mencairnya es kutub utara dan selatan, kenaikan air laut hingga kebakaran hutan.

Berbagai peristiwa tersebut tidak lepas dari gaya hidup dan kegiatan manusia dari tahun ke tahun sejak era industri. Pembakaran batu bara yang digunakan untuk menghasilkan energi untuk pabrik mengakibatkan peningkatan jumlah karbon dioksida di udara.