Volume 17

Beraksi di Kelab Malam

Penyamaran Polwan Cantik Iptu Rita di Kelab Malam, Bawa Daster buat Penari Striptis

Merdeka.com 2021-02-19 10:02:55
Potret Polwan Cantik Iptu Rita Yuliana. Instagram/@ritayuliana_45 ©2021 Merdeka.com

Aparat Kepolisian Nusa Tenggara Barat menerima laporan adanya kasus pornografi di sejumlah kelab malam. Polisi langsung membentuk tim untuk mengungkapnya. Perwira muda Iptu Rita Yuliana ditunjuk memimpin operasi tersebut.

Saat itu Rita baru pulang dinas dari China. Dengan cepat lulusan Akademi Kepolisian 2013 itu membentuk tim kecil. Membawahi empat anggota.

Rita bertugas di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Nusa Tenggara Barat, Unit Pelayanan Perempuan Dan Anak (Unit PPA), periode September 2019 sampai Juli 2020.

"Selama penyelidikan kegiatan saya selesai subuh. Mendatangi beberapa kelab malam, lalu buat laporan kepimpinan," katanya saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (19/2).

Untuk menyelesaikan misinya Rita harus menyamar. Cara itu dilakukan agar mudah masuk ke dalam kelab. Penampilannya berubah drastis dari ujung kaki hingga kepala.

"Saya pakai wig panjang," ungkap Rita yang kini jadi Kasat Lantas Polres Lombok Barat itu.

Berikut kisah penyamaran Iptu Rita hingga berhasil membongkar praktik pornografi:


Menyamar Menjadi Tamu

Setelah melakukan penyelidikan Rita berfokus pada satu kelab malam yang terindikasi melakukan pelanggaran. Rita dan timnya berpura-pura menjadi tamu. Memesan ruang khusus karaoke.

"Pembuktiannya harus benar-benar, enggak bisa hanya sekali. Harus kumpulkan bukti transfer, aksinya nyata baru kita lakukan penindakan," tutur polisi yang fasih berbahasa Mandarin itu.

Hasil penyelidikannya tidak sia-sia. Malam itu Rita mendapati dua wanita beraksi tanpa busana. Selain dua penari diamankan juga seorang papi. Mereka dijerat Undang-Undang tentang Pornografi.

"Sistem pesannya tidak sembarangan. Satu penari bayarannya Rp3 juta," tuturnya.


Bawakan Daster

Saat melakukan penindakan, Rita juga menyiapkan pakaian untuk para penari. Para pelaku tidak berkutik langsung dibawa ke kantor polisi.

"Kita bawakan daster dan baju dalaman," imbuhnya.

Untuk pria dipanggil Papi, kata Rita, rekeningnya dipakai untuk menampung uang transferan dari tamu.


Dilakukan Terselubung

Menurut Rita, praktik itu dilakukan secara terselubung. Pihak kelab malam mendapat teguran keras karena sistem pengawasannya tidak berjalan dengan baik.

"Ini dilakukan secara ilegal, pemilik kelab tidak tahu. Si penari ketika dapat orderan menyewa tempat tersebut," tandasnya.


Polwan Cantik Iptu Rita Viral

Nama Iptu Rita belakangan viral. Ditambah lagi parasnya yang cantik berhasil mencuri perhatian netizen. Lewat unggahan akun Instagram @satlantaslombokbarat, Rita muncul dengan mengucapkan selamat tahun baru Imlek 2021.

Instagram/@ritayuliana_45 ©2021 Merdeka.com

Salah satu netizen bahkan mengungkapkan, hatinya sampai keseleo melihat kecantikan Rita. "Aduhhh duhhh keseleo hati sy," tulis komentar @agung.podomoro6969.

Banyak dari mereka, dibuat terpesona akan kecantikan parasnya. "Keren ibu bu kasat yg cantik," ungkap akun Instagram @dita.candra.71.

"Ibu KASAT cantik BNGET," lanjut @muharis_becak.

 

Baca juga:
Intip Briptu Sefin Berbusana Adat Aceh, Kelewat Cantik Diminta Daftar Putri Indonesia
Kisah Briptu Ika Wulandari, Polwan Cantik Pemberantas Narkoba Idolanya Para Tahanan
Intip Aksi Polwan Cantik Iptu Rita Yuliana, Siang dan Malam Ada di Jalan
Cantiknya Enggak Habis-Habis, Ini Sosok Polwan Berhijab Briptu Ika Wulandari
Pesona Briptu Sefin, Polwan Kelewat Cantik Ternyata Punya Adik Polisi Ganteng

Penakluk Hercules

Dulu Takut Ketinggian, Kini Anisa Jadi Pilot Hercules dan Hobi Bermanuver Ekstrem

Merdeka.com 2019-10-02 12:10:20
Letda Pnb Anisa Amalia Octavia. ©2019 Merdeka.com

Letda Pnb Anisa Amalia Octavia (25) adalah pilot perempuan pertama di Indonesia untuk pesawat jenis Hercules. Lulus Akademi Angkatan Udara (AAU) dan Sekolah Terbang (Sekbang), Anisa ditempatkan di Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh Malang.

Perempuan kelahiran Sleman, DI Yogyakarta, 13 Oktober 1994 itu ditempatkan di Skuadron Udara 32, markas pesawat Hercules. Anisa menjalani massa transisi, belajar mendalami seputar pesawat Hercules dan menambah jam terbangnya.

"Perasaannya nano-nao, ada senang, bangga tapi juga ada rasa beban moril juga. Kan pertama jadi contoh nantinya. Kalau misalnya ada adik penerusnya, saya jadi percobaan lah bisa enggak sih saya dikasih Hercules. Jadi ya saya harus semangat lagi bisa menyelesaikan di Hercules ini," kata Anisa kepada merdeka.com di Lanud Abdulrachman Saleh Malang belum lama ini.

Anisa tidak pernah menyangka akan menjadi seorang penerbang, apalagi mempiloti pesawat angkut berat Hercules. Karena sejak awal mengalami phobia ketinggian, bahkan sepanjang hidup hingga lulus AAU tahun 2017 tidak pernah naik pesawat terbang.

"Ibu saya itu takut ketinggian juga, dari kecil itu doktrinnya jangan naik pesawat kalau bepergian, jalan darat saja, takut jatuh. Ibu saya selalu gitu," kisahnya.

"Jadi tidak mungkin banget saya jadi penerbang. Walaupun saya kagum saat melihat penerbang, pesawat itu kayak wah gitu," sambungnya.


Awal Meniti Karir

Anisa lulus SMA Taruna Nusantara tahun 2012 dan sesuai keinginannya sejak awal untuk kuliah di kedinasan. Anisa mengikuti tes di Akademi Kepolisian (Akpol), karena tahun itu memang belum dibuka untuk Taruni (perempuan) TNI, baru Kepolisian. Tetapi ternyata tidak lolos.

Tahun berikutnya sempat akan mencoba Akpol kembali, tetapi ternyata dibuka Taruni Akademi TNI (AAD, AAL dan AAU). Namun saat mendapat informasi ternyata hanya AAU yang belum menggelar tes.

"Mungkin takdir, dua hari sebelum tes dikasih tahu teman dan ikut tes. Akhirnya masuk dan pendidikan," katanya.

Tiga tahun Anisa menempuh pendidikan AAU, setahun di Magelang bersama matra yang lain dan dua tahun di DI Yogyakarta. Anisa kemudian mengikuti Kursus Intensif Bahasa Inggris (KIBI) selama 3 bulan di Halim Perdana Kusuma Jakarta.

Saat itulah, 12 orang Taruni lulusan AUU tahun 2017 diwajibkan tes Sekolah Penerbang (Sekbang). Namun hanya dua dinyatakan lulus, yakni Anisa dan Letda Pnb Mega Coftiana, yang saat ditempatkan di Skuadron Udara 4 untuk pesawat Cassa di Lanud Abdulrachman Saleh Malang.

Saat tes, Anisa jujur menyampaikan alasan kalau orang tuanya tidak memperbolehkan menjadi penerbang, termasuk phobianya pada ketinggian. Tetapi beberapa hari kemudian justru keluar pengumuman namanya dinyatakan lulus tes.

"Padahal saya sudah jujur. Ya sudah saya laksanakan, itu kan sudah perintah, tertulis dari atasan. Saya melaksanakan attitude tes di Yogyakarta, tes untuk bakat minat menjadi penerbang," katanya.

Sejak saat itu, Anisa yang phobia ketinggian merasakan pertama kali naik pesawat terbang. Tetapi sekali naik langsung diajak bermanuver oleh instrukturnya dengan pesawat latih. Bisa dibayangkan, Anisa yang takut ketinggian dan tidak pernah naik pesawat, menjalani cek mental dengan manuver menggunakan pesawat dua awak.

"Dikasih manuver-manuver. Saya pertama terbang, kaku semua badan saya. Tapi saya pura-pura berani saja, soalnya gengsi gitu ditanyain, "Kamu takut tidak? Siap! Tidak'. Makinlah dibolak-balik. Kaki saya tidak bisa gerak, saking kakunya. Mual-mual mau muntah gengsi juga, baru sampai bawah ke kamar mandi," ungkapnya mengingat.

Sejak saat itu juga, Anisa bertekat harus melaksanakan pendidikan Sekbang sampai tuntas. Dalam benaknya tidak mungkin mundur, karena sudah sekian tahapan dijalaninya dan tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang sudah diberikan.

"Mau tidak mau harus bisa belajar berusaha melewati menyelesaikan pendidikan itu. Saat pendidikan mau enggak mau mengubah mindset. Midsetnya harus lulus, berhasil, jangan kalah sama yang cowoknya. Begitu lulus, saya dijuruskan ke Skuadron 32 (Hercules)," kisahnya.


Hobi Manuver Ekstrem

Seiring waktu setelah terbang beberapa kali, tidak terasa phobia ketinggiannya pun hilang dengan sendirinya. Sekarang justru sebaliknya, Anisa semakin gila manuver dan berformasi ekstrem.

"Karena kalau saya mempertahankan itu, malah saya terseok-seok di pendidikan. Jadi saya mencoba menghilangkan, saya tuh biar bisa mudah menjalani pendidikan di sana. Akhirnya saya seneng manuver, seneng formasi, yang ektrem-ekstrem itu. Jadi seneng. Enggak tahu kapan phobianya hilang. Ternyata bisa dilawan phobia itu," kisahnya.

Seiring waktu juga, orang tuanya dapat menerima dan legowo dengan status anaknya yang saat ini menjadi seorang pilot. Orang tuanya dengan sepenuh hati mendukungnya sebagai pilot perempuan, yang memang tidak banyak dimiliki oleg bangsa ini.

"Ibu saya mikirnya, sudahlah kalau ibu tetep nggendoli, nahan kamu, entar kamu malah enggak lancar. Ibu juga mengubah mindset, ibu doain kamu daripada mempersusah. Akhirnya orang tua saya setuju, saya masuk AU, jadi pilot," ungkap Sulung dari 3 bersaudara ini.

Anisa kali pertama menerbangkan pesawat latih jenis TP-120, kemudian setelah penjurusan di fix wing berlatih dengan pesawat KT1B. Masing-masing ditempuh dengan 100 jam penerbangan. Belum genap sebulan Anisa di Skuadron Udara 32 dan baru menjalani 6 shorty penerbangan setara 8 jam terbang dengan Hercules C-130.

Saat pertama kali menerbangkan Hercules yang dirasakannya cukup berat dan butuh tenaga. Karena di pesawat sebelumnya yang diketahui masih menggunakan pesawat latih dengan alat kemudi bentuk joystick. Sekuat tenaga dikeluarkan, tetapi tuas power tidak bergerak, padahal friction yang berfungsi meringankan sudah di posisi.

"Instrukturnya bilang, 'Ah kamu gini aja enggak kuat! Saya harus satu tangan memegang kontrol colum buat geraknya pesawat. Satu tangan buat power. Kalau take off gitu enggak boleh pakai dua tangan. Satu angkat pesawat, satunya memajukan atau mendorong pesawat. Dua-duanya harus kuat," ungkapnya.

Setiap sore dan pagi, Anisa pun harus olah raga angkat barbel dan push up agar tangannya bisa kuat mengendalikan tuas pesawat. Tetapi memang tidak hanya dirinya, para pilot yang masih baru semua merasakan berat.

"Yang cowok saja saya tanya, pertama kali terbang bagaimana sih, dulu juga enggak kuat. Ternyata masih bisa dilatih," tegasnya mengaku lega.

Baca juga:
Anisa dan Mega, Duo Perempuan Penakluk 'Burung Besi' dari TNI AU
Tugas Serba Guna TNI di Papua, dari Selamatkan Anak Tenggelam Hingga Jadi Guru
Aksi Prajurit TNI dalam Latihan Gabungan Dharma Yudha 2019
Perjuangan TNI Padamkan Kebakaran Hutan Hingga Salat Beralas Daun
TNI AU Bantu Pencarian Pesawat Twin Otter yang Hilang di Papua

Menyamar PSK Bongkar Prostitusi

Sepak Terjang Bripka Popy Menyamar Jadi PSK Demi Bongkar Prostitusi

Merdeka.com 2021-04-18 03:33:00
Bripka Popy Puspasari. ©2021 Merdeka.com

Bripka Popy Puspasari merupakan seorang polisi wanita yang bertugas di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal Polres Garut. Setidaknya, di unit tersebut ia sudah bekerja selama 10 tahun, atau mulai tahun 2011.

Menjadi polisi, bagi Popy mengandung arti siap memberikan pelayanan kepada masyarakat secara kafah dan tanpa lelah. Bagaimana tidak, di tahun 2018 dia mengaku harus sampai menyamar menjadi pekerja seks komersial (PSK) demi mengungkap kasus perdagangan orang di Pulau Dewata, Bali.

Cerita itu berawal saat unitnya menerima laporan seorang warga Garut yang kehilangan anggota keluarganya yang masih di bawah umur.

"Saat melapor ke kita, anak perempuan ini mengaku akan dipekerjakan sebagai pelayan di Bandung di sebuah kafé, tapi setelah itu keluarganya hilang kontak,” ujarnya saat ditemui di Mapolres Garut, Jumat (16/4).

Setelah pihaknya melakukan penelusuran, ternyata korban diketahui berada di Bali setelah dijual oleh seseorang pencari 'bakat'. Jumlah korban pun ternyata tidak satu orang saja, namun diketahui ada dua orang warga Garut yang mengalami kondisi serupa di Pulau Dewata.

Tim Reskrim Polres Garut kemudian melakukan penyelidikan akan kasus itu, dan berhasil menangkap seorang penghubung korban dengan bos di Bali di wilayah Bandung. Tim pun kemudian melakukan pengembangan dan merencanakan skema pengungkapan.

"Skema yang dilakukan akan dengan melakukan penyamaran menggunakan penghubung itu. Jadi foto saya oleh pelaku yang sudah diamankan bersama satu lainnya dikirimkan ke bosnya, ngakunya akan dijadikan PSK. Jadi kaya profiling gitu. Ternyata bosnya menyetujui dan menunggu saya di Bali," kata wanita kelahiran Indramayu, 5 Mei 1988 ini.

Mendapat respons baik dari bos di Bali, ia pun bersama penghubung itu berangkat ke Pulau Dewata menggunakan pesawat. Tim lainnya menyusul menggunakan pesawat berbeda agar tidak mencurigakan.


Berangkat Bermodalkan Doa dan Bela Diri

Popy mengaku bahwa saat dirinya berangkat ke Bali untuk melakukan penyamaran sebagai PSK, segala atribut kepolisian hingga senjata api ditanggalkan agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Ya modal doa saja dan kemampuan bela diri polisi," akunya.

Walau begitu, Popy mengaku bahwa ada rasa takut yang muncul dalam diri, apalagi saat itu ia sudah memiliki anak. Namun karena sudah menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah bagian dari tugas yang harus dijalankan, ia dengan yakin melangkah dan memantapkan hati.

"Sebelum berangkat ya minta doa lah ke orang tua, ke siapa. Ini kan betul-betul saya sama temen saja berdua, pasti takut apa-apa dan di apa-apa. Walau sudah dibekali bela diri polisi, tetap saja ada rasa takut mah ya, namanya juga manusia," katanya.

Sepanjang perjalanan, Popy mengaku terus melawan rasa takut tersebut, hingga akhirnya ia pun sampai di bandara I Ngurah Rai, Bali. Dari sana ia pun ia bergerak ke wilayah Sanur, tepatnya di salah satu villa di kawasan tersebut.


Banyak Temukan Korban Perdagangan Orang

Saat sampai di villa, Popy mengaku kaget karena lokasinya eksklusif dan hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu. Rasa takutnya sempat kembali karena sejumlah bodyguard pun tampak serius menjaga tempat itu.

"Sampai di villa, saya langsung celengak celinguk nyari orang Garut yang jadi korban. Dan ternyata memang ada di sana, kaya di dalam akuarium gitu. Di dalam akuarium juga banyak perempuan lainnya yang juga korban," sebutnya.

Setelah itu, ia pun kemudian diajak ngobrol oleh seseorang yang dipanggil bos dan juga termasuk bendaharanya. Namun di dalam ruangan itu tidak hanya ada dua orang itu saja, ada juga sejumlah lelaki hidung belang lainnya yang diduga sebagai pelanggan.

Saat mengobrol itu, Popy menyebut bahwa saat itu otaknya berpikir keras memikirnya rencana selanjutnya seperti apa. "Alhamdulillah tidak ada kecurigaan dari bos itu, kita juga jalani komunikasi biasa saja. Was-was mah mah ada, tapi yakin saja, demi masyarakat," ucapnya.

Setelah puluhan menit mengobrol, ia pun kemudian diminta oleh sang bos untuk berganti pakaian layaknya PSK sebelum masuk ke dalam akuarium. Momen tersebut oleh Popy digunakan untuk berkomunikasi dengan tim yang sudah siap melakukan penyergapan. Tidak lama setelah itu, tim yang sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat langsung menyergap lokasi tersebut.

"Ada 10 orang wanita yang kebanyakan yang di bawah umur yang Alhamdulillah bisa kita selamatkan, termasuk dua di antaranya orang Garut. Kalau untuk tersangkanya ada sekitar delapan orang yang berhasil diamankan, mereka ini jaringan," katanya.


Mendapat Apresiasi Pimpinan

Ia mengaku bahwa aksi nekatnya itu mendapat apresiasi dari pimpinannya pada saat itu. Lebih dari itu ia pun sempat mendapat undangan dari Polda Jabar dan Mabes Polri.

"Kalau hal-hal itu sebetulnya bukan tujuan yang utama. Tugas kita sebagai polisi adalah memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Dan tugas anggota adalah taat kepada pimpinan, selama itu tidak melanggar aturan, harus kita laksanakan," tegasnya.

Popy, menyebut bahwa saat itu Kapolres dan Kasat Reskrim mempercayainya karena dinilai memiliki kemampuan untuk itu. "Saya berterima kasih kepada Kombes Pol Budi Satria Wiguna (Kapolres Garut saat itu) dan Kompol Aulia Djabbar (Kasat Reskrim saat itu) yang sudah mempercayai tugas berat itu, dan Alhamdulillah berhasil," tutup Popy.

Baca juga:
Kessya Aurelia Nabilla, Srikandi Polda Sumsel Jago Smash
Bripda Agustina Untari, Santriwati Gontor Pertama yang Lolos Jadi Polwan
Dinda Ega, Polwan dari Banten Tak Hanya Jago Tangkap Penjahat Tapi Juga Mengaji
Riza Sativa, Kapolsek di Wilayah Sejuta Ormas yang Pernah Bercita-cita Jadi Hakim
Polwan Jago Bela Diri dari Tanah Madura

Srikandi TNI Ahli Bela Diri

Alma Shinta Carissa, Srikandi TNI AL Ahli Bela Diri yang Ingin Berbakti untuk NKRI

Merdeka.com 2021-04-18 08:04:00
Letda Laut Alma Shinta Carissa. ©2021 Merdeka.com

Dia dikenal disiplin, ulet dan bertanggung jawab. Sifat yang melekat dalam diri Alma Shinta Carissa (23). Masuk melalui jalur Angkatan Darat, kini Alma menjadi Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal).

Alma sapaan akrabnya, lulus dengan nilai seleksi terbaik pada Pendidikan Pertama Prajurit Karir (PA PK) TNI Angkatan Darat tahun 2019. Alma saat ini berdinas di Psikologi TNI Angkatan Laut di Surabaya. Di matra itu, dara kelahiran 16 November 1997 ini bertekad untuk mengabdi pada bangsa dan negaranya.

"Tujuannya tidak harus tentara. Tapi dalam diri dulu memang ingin mengabdi untuk negara, waktu itu sempat ingin bisa masuk Akpol," katanya.

©2021 Merdeka.com

Pada 2016, mimpi untuk memasuki gerbang Akpol urung terlaksana. Pilihannya justru masuk akademi militer. Keinginan itu berubah setelah pengalamannya magang di Pusat Psikologi Angkatan Darat di Bandung semasa berkuliah di UNJ.

"Kemudian ikut latihan agar lolos seleksi dan Alhamdulillah lolos seleksi di Matra Laut. Kebetulan juga didorong prestasi-prestasi di Kempo," jelasnya.

Alma masih ingat betul perjuangannya untuk bisa lolos menjadi bagian dari kesatuan TNI AL. Apalagi saat itu berbarengan dengan penyelesaian tugas skripsi kuliahnya.

"Saya ingat betul selama berbulan-bulan sambil saya menyelesaikan skripsi, pagi bimbingan dosen dan sore latihan fisik di lapangan Atang, Kopasus, Cijantung, untuk persiapan seleksi Akmil," kata Alma.

Wanita yang lama menetap di wilayah Serang, Banten, ini mengaku sangat senang berada di lingkungan militer. Tugas berat yang diemban tak menyurutkan semangatnya. Sekalipun harus jauh dari keluarga tercinta.

"Sebagai anak negara, apapun tugas dan tanggung jawab saya sebagai Kowal, saya siap laksanakan. Kalau kangen (keluarga) pasti. Apalagi lebaran kemarin dan tahun ini juga engga akan boleh mudik," katanya.

©2021 Merdeka.com

Jago Bela Diri

Alma juga dikenal prajurit ahli bela diri. Bukan tanpa sebab. Dia merupakan seorang atlet olahraga Kempo. Alma menorehkan beragam prestasi sebagai atlet Kempo. Tak heran namanya melejit dalam olahraga bela diri tersebut.

Dari kecintaannya terhadap seni bela diri Kempo, Alma juga meraih banyak kesempatan selama menempuh pendidikan strata I di fakultas Psikologi, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan meraih beasiswa pendidikan.

"Waktu itu masuk UNJ lewat jalur undangan dari sekolah di SMAN 58 Jakarta Timur. Pilihan saya memang jurusan psikologi," ucapnya.

Kecintaannya wanita berpangkat Letda Laut (KH/W) Alma Shinta Carissa terhadap Kempo tak pernah hilang meski kini tugasnya sebagai prajurit TNI. Alma tidak akan meninggalkan olahraga bela diri yang telah menempa hidupnya sampai saat ini.

"Selama pendidikan sampai saat ini belum latihan lagi. Dalam waktu dekat saya akan cari Dojo (sasana) untuk kembali berlatih Kempo," kata wanita kelahiran Bogor, Jawa Barat itu.

Kapolsek di Wilayah Sejuta Ormas

Riza Sativa, Kapolsek di Wilayah Sejuta Ormas yang Pernah Bercita-cita Jadi Hakim

Merdeka.com 2021-04-18 07:32:00
Kapolsek Pondok Aren Riza Sativa. ©2021 Merdeka.com

Wanita yang satu ini berpegang pada komitmennya mengedepankan sikap profesional, zero complain dan cepat memberikan pelayanan untuk masyarakat. Salah satu programnya adalah sambung warga.

Dia adalah Riza Sativa, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Pondok Aren, Polres Tangerang Selatan. Sebagai salah satu pemimpin penegak hukum di wilayah paling heterogen di Kota Tangerang Selatan, berbagai tantangan harus siap dihadapi.

"Di setiap tempat ada tantangan dengan karakter tersendiri, yang pasti saya cepat menyesuaikan diri, beradaptasi dan selalu mengikuti perkembangan zaman," kata wanita berpangkat Komisaris Polisi ini.

Sebagai penyangga ibukota Jakarta, Wilayah Pondok Aren memiliki kelompok masyarakat yang sangat beragam. Wilayah hukum yang dipimpinnya ini dikenal berjuluk wilayah sejuta ormas.

"Ormas adalah bagian dari masyarakat, jadi intinya bagaimana menghadapi masyarakat secara profesional. Di Kepolisian SOP nya jelas, dan bagaimana kita melayani masyarakat dengan cepat dan meminimalisir komplain dari masyarakat," kata wanita kelahiran Kotabaru, Kalimantan Selatan itu.

©2021 Merdeka.com

Untuk itu, Riza yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Polsek di wilayah kepulauan Batam itu selalu rutin menggelar silaturahmi dan sambang warga serta tokoh di wilayah. Masyarakat dilibatkan dan diajak berpartisipasi menjaga lingkungan dan keamanan.

"Bertemu tokoh, orang tua, pemuka agama dan itu banyak sekali manfaatnya. Dengan langsung turun, masyarakat merasa lebih nyaman, aman dan membuktikan Polisi sahabat masyarakat," jelasnya.

Sempat Bercita-cita Jadi Hakim

Wanita kelahiran 28 April 1984 ini tidak pernah terbayang menjadi Polisi. Karena cita-citanya justru menjadi hakim. Riza sapaan akrabnya, menempuh studi Sarjana di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta dan lulus pada 2005.

Dia kemudian melanjutkan studinya pada program magister di Universitas Gadjah Mada. Di tengah perkuliahan meraih gelar magister, dia menerima informasi pembukaan Akademi Kepolisian (Akpol) melalui jalur sarjana pada tahun 2007.

Bermula dari dukungan orang terdekat dan orang tua, Riza akhirnya membulatkan niat mengikuti seleksi Akpol angkatan pertama jalur sarjana di Polda Kalimantan Selatan saat itu.

"Bersyukur setelah proses seleksi, 6 orang dikirim dari perwakilan Polda Kalsel ke Semarang, dari seleksi di Semarang, hanya 5 orang termasuk saya yang dinyatakan lolos dan masuk Akpol dari Polda Kalsel. Tahun itu, hanya 250 orang akpol jalur Sarjana yang diterima se-Indonesia," ucap wanita murah senyum ini.

Dia menyadari, sudah banyak wanita yang ingin menjadi Polisi. Namun bagi Riza, panggilan untuk bisa mengabdi kepada negara menjadi cerita yang ingin ditorehkan dalam kehidupannya.

©2021 Merdeka.com

Akhirnya dia mengurungkan niat menjadi Hakim. Riza fokus agar bisa lolos seleksi taruna Akpol dari jalur Sarjana.

"Tahun 2009 saya lulus Akpol dan ditugaskan pertama kali itu di Kepolisian Resor Karimun, Polda Kepulauan Riau, sebagai kepala SPK," kenangnya.

Riza belajar dan menggali kemampuannya saat bertugas di sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa. Seperti di Polda Papua Barat, Polda DIY dan baru akhir-akhir ini ditempatkan di Polda Metro Jaya untuk ditugaskan sebagai Kapolsek Pondok Aren pada Juli 2020.

Kini sudah hampir 12 tahun Riza berdinas di Institusi Polri. Riza tak pernah menyesal atas keputusannya. Justru semakin kuat keinginannya untuk berbuat lebih banyak bagi institusi dan negaranya.

Sebagai anggota kepolisian, Riza selalu siap ditugaskan dimana pun. "Zaman sekarang ini wanita punya banyak kesempatan bisa mendapat pendidikan tinggi. Baik berkarir atau tidak, kita sebagai wanita menjalankan sesuai kodratnya. Apabila dipercaya pimpinan, kita jalankan tugas dan tanggungjawab itu dengan sebaik-baiknya," ucap pengagum berat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati itu.

Di mata Riza, jabatan, tugas dan tanggungjawabnya yang diamanatkan negara harus dilaksanakan dengan maksimal. Sebagai aparat pelayan dan pengayom masyarakat, dia ingin selalu dekat dengan warga di wilayah hukumnya.

"Namanya karir di Kepolisian tidak selamanya di sini, saya tunjukkan saya bekerja dengan baik. Saya berdinas dengan baik dan melaksanakan tugas semaksimal mungkin," tutupnya.

Punya Tendangan Maut

Dini Mitasari, Prajurit TNI AD Bela Negara Lewat Olah Raga

Merdeka.com 2021-04-18 09:34:00
Sertu (K) Dini Mitasari. Istimewa

Sertu (K) Dini Mitasari (27) mengoleksi segudang prestasi membanggakan di bidang olahraga Sepak Takraw. Prajurit Kodam IV Diponegoro itu bangga berbagi cerita hidupnya. Hobi yang digelutinya menjadi awal peluang karir penting dalam perjalanan hidupnya.

Banyaknya medali yang dikoleksinya mengantarkan Dini mendapat tawaran bergabung di TNI Angkatan Darat melalui jalur prestasi. Saat itu dia sedang menjalani studi di Fakultas Ilmu Keolahragaan Jurusan Kependidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Dia masih ingat betul saat pertama kali mendapat tawaran untuk bergabung dengan TNI AD. Namun saat itu Dini belum berminat. Hingga akhirnya, tawaran datang untuk kedua kalinya. Berkat prestasi yang diraihnya.

"Saya dulu ditawari gabung TNI AD tahun 2010, tapi saya belum minat. Pernah daftar CPNS di Kemenpora tapi tidak masuk. Lalu setelah kompetisi Sea Games 2014 di Korea dapat perunggu. Tahun 2015 dapat lagi tawaran itu, lalu saya terima," kata Dini yang sedang jalani pemusatan latihan di Jepara, Jumat (16/4).

©2021 Merdeka.com

Tidak lama setelah bergabung dengan TNI AD, Dini pindah tugas ke Mabes TNI. Tugasnya sebagai anggota TNI tidak menghalangi tugas lainnya untuk membela negara melalui olahraga. Dia meraih juara 1 dunia Word Cup di Thailand dan Sea Games di Malaysia. Berkat raihan juara, dia mendapat kenaikan pangkat lebih awal.

"Syukur tahun pada tahun 2018 dapat kenaikan pangkat lebih awal dari Serda ke Sertu. Selain itu ditawari pindah tugas di Kodam Diponegoro, syukur dekat dengan keluarga," ujarnya.

Meski di tengah masa pandemi covid-19, Dini tetap diizinkan untuk latihan rutin bersama timnya. Dini mempersiapkan diri untuk mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) pada Oktober 2021 di Papua.

©2021 Merdeka.com

"Saya bagi waktu kerja sama pelatnas. Pimpinan saya mengizinkan kalau ada panggilan pelatnas, justru komandan senang kalau anggotanya bela negara lewat olahraga," ungkapnya.

Anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) kelahiran Jepara 13 Januari 1994 menuturkan, menjadi atlet tidak akan lama seiring bertambahnya usia. Namun, ke depan dia ingin menjadi pelatih olahraga yang digemarinya.

"Ya mungkin inginnya nanti jadi pelatih cari bibit atlet yang muda. Tidak mungkin terus atlet karena faktor umur," tutup dia.

Berikut daftar prestasiDini Mitasari:

2007

Kejuaraan Dunia word cup di Thailand juara 3

2008

Kejuaraan indoor di China juara 3

PON Kaltim juara 2

2009

Kejuaraan Dunia word Cup di Thailand juara 3

Sea Games di Laos juara 3

2010

Kejuaraan Dunia word Cup di Thailand juara 3

Asian Games di Guangzhou China juara 3

Vietnam Cup di Vietnam juara 2

2011

Kejuaraan Dunia word Cup di Thailand juara 2

Sea Games di Indonesia juara 2

Super series Malaysia juara 2

2012

PON Riau juara 1

2013

Sea Games di Myanmar juara 3

Kejuaraan Dunia word Cup di Thailand juara 2

2014

Asian Games Korea Juara 3

Super series Korea juara 2

Kejuaraan Dunia word Cup di Thailand juara 2

Asian beach Games di Phuket Thailand juara 2

2015

Sea games di Singapore

2016

Kejuaraan Dunia word Cup di Thailand juara 1

PON Jabar juara 2

2017

Sea Games Malaysia juara 2

Kejuaraan word Cup Malaysia juara 1

2018

Asian Games di Indonesia juara 3

Word cup di China juara 1

Kejuaraan Dunia word Cup di Thailand juara 2

2019

Sea Games philipina juara 2

Kejuaraan Dunia word Cup di Thailand juara 1

Dor.. Tak Pernah Meleset

Brigadir Gita si Lihai Menembak dengan Sederet Prestasi

Merdeka.com 2021-04-18 04:01:00
Brigadir Gitarani Digdaya. Istimewa

Awalnya bercita-cita menjadi Wanita Angkatan Udara (Wara), Gitarani Digdaya ternyata malah menjadi anggota kepolisian. Pernah mendaftar sebagai prajurit wanita TNI Angkatan Udara di Yogyakarta tahun 2004, Gita ternyata belum berjodoh.

"Cita-cita saya sebenarnya pingin masuk Wara. Tahun 2004 saya mendaftar lewat Jogja," ujar Gita, sapaan akrabnya kepada merdeka.com belum lama ini.

Tidak beruntung di angkatan udara, wanita kelahiran Tobelo (dulu ikut Ternate) 30 September itu kemudian mendaftar ke Kepolisian. Gita mengikuti tes penerimaan polisi di Jawa Timur tahun 2005 dan diterima.

"Saya daftar Polwan tahun 2005, dan Alhamdulillah diterima," katanya.

Gita yang saat ini berpangkat Brigadir, menjalani tugasnya sehari-hari sebagai sie Humas Polsek Banjarsari, Polresta Surakarta. Kendati cita-cita awalnya tidak tercapai, Gita tetap menjalani tugas sebagai abdi negara, melayani masyarakat dengan bangga dan penuh tanggungjawab.

Gita yang hobi olahraga menembak tersebut bahkan berhasil menorehkan prestasi dengan menyabet beberapa kali kejuaraan tingkat nasional. Di antaranya kejuaraan menembak Kapolda DIY Cup 2018 yang digelar di Mako Brimob Detasemen A Gondowulung, Yogyakarta, tahun 2018 lalu, serta kejuaraan lainnya.

"Dulu itu saya meraih predikat juara 2 Kelas Tembak Reaksi Non-IPSC Putri," katanya.

Dalam kejuaraan tersebut, lanjut dia, timnya telah mengikuti tuga stage dalam kelas tembak reaksi. Selain dirinya, anggota Polresta lainnya Bripda Hilmy juga meraih predikat sebagai juara ketiga. Dalam kejuaraan yang juga diikuti peserta umum itu, para atlet dituntut untuk lihai dalam hal kecepatan dan ketepatan sasaran.

Bahkan mereka juga harus bersaing dengan atlet top lainnya di ajang bertaraf nasional itu. Di antaranya atlet tembak dari Bali, Jakarta, Jawa Barat dan Kalimantan.

"Alhamdulilah dari tujuh atlet Polresta Surakarta ada dua yang berhasil meraih juara. Ini merupakan pembelajaran berharga bagi kami untuk terus menggaungkan nama Polresta Surakarta di luar," katanya.

Selain Kapolda DIY Cup 2018 Brigadir Gitarani Digdaya juga mengukir prestasi di kejuaraan lainnya. Yakni menjadi juara 1 Pistol Ladies non-IPCS, yang diadakan di Lapangan Tembak Brimob Gunung Kendil, Boyolali, Jawa Tengah, akhir tahun lalu. Gita mengaku sering mengikuti kejuaraan menembak, bersama sejumlah anggota Polresta Surakarta lainnya.

"Zaman sama Pak Andy Rifai (mantan Kapolresta Surakarta Kombes Pol Andy Rifai) sering ikut sih. Hampir setiap session ikut terus," kata wanita yang juga hobi kulineran itu.

Gita menambahkan, tidak ada keinginan khusus selama menjalani karir sebagai seorang Polwan. Ia juga mengaku tidak ada paksaan atau dorongan untuk menjadi Polwan dari orang lain. Semua atas keinginan sendiri, dan tentu dengan dukungan penuh keluarga.

"Tidak ada yang khusus, cenderung pingin totalitas ke pelayanan masyarakat. Hitung-hitung jadi ladang ibadah," katanya.

Lebih lanjut Gita menyampaikan, saat ini sudah jarang mengikuti kejuaraan menembak. Hal itu dikarenakan tuntutan pekerjaan yang semakin banyak dan padat. Olahraga menembak baginya, memiliki keunggulan dan manfaat yang luar biasa.

"Selain menyehatkan, menembak juga melatih kecepatan, ketepatan dan ketangkasan kita," katanya.

Sebagai seorang wanita, Gita mengaku mengidolakan Martha Christina Tiahahu, seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut yang lahir sekitar tahun 1800. Pada saat itu Christina sudah berani mengangkat senjata melawan penjajah Belanda.

"Meskipun masih remaja berumur 17 tahun, tapi Christina Tiahahu berani berjuang melawan penjajah sampai mati," ucapnya.

Selain itu, sebagai wanita dia juga mengidolakan RA Kartini. Tokoh rmansipasi wanita kelahiran Jepara, 21 April 1879 itu dinilainya sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Makna emansipasi yang diteladankan Kartini menurutnya sebagai pelepasan diri dari kedudukan sosial yang rendah.

"Beliau itu pembuka cara pandang tentang wanita. Berani, enggak tanggung-tanggung," pungkas dia.

Jagoan Tarung Jarak Dekat

Serka Anggraini Gemar Bertarung Jarak Dekat

Merdeka.com 2021-04-18 06:32:00
Anggota Koramil 01 Semarang Barat Serka (K) Skolastika Anggraini Keintjem. ©2021 Merdeka.com

Menjadi prajurit harus serba bisa. Kalimat ini begitu melekat bagi Serka (K) Skolastika Anggraini Keintjem, anggota Koramil 01 Semarang Barat kodim 0733 BS Semarang. Seperti dalam hal fisik, bagi Anggraini, olahraga bela diri merupakan hal penting bagi prajurit untuk melatih keberanian dan memupuk jiwa patriotisme.

"Bagi saya jadi prajurit TNI AD semua harus serba bisa. Kami tekuni bela diri itu, dan akhirnya ikut Pelatnas," kata Serka Anggraini saat ditemui di Kodim, Sabtu (17/4).

Pertama kali gabung Yong Moo Do yang merupakan cabang olahraga wanita di tahun 2014, dia kemudian diikutkan Pelatnas untuk mewakili dari kesatuannya di TNI AD.

"Kami ikut Pelatnas, lalu ikut kejuaraan nasional 2015 dapat perak, PON 2016 dapat perunggu," ujar Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) kelahiran Poso 16 Oktober 1990 ini.

Menurut dia, bela diri pertarungan jarak dekat menunjukkan kemampuan pertempuran yang mengacu pada teknik perkelahian, pertahanan dan strategis, baik fisik, mental serta psikologis.

"Jadi seni bela diri Yong Moo Do memerlukan latihan rutin untuk memperkecil risiko yang bersifat fatal. Bela diri ini seperti tarung bebas tapi hanya serang bagian tubuh tidak boleh tendang kepala dan bawah," tutur perempuan tiga anak ini.

Terkait teknik pertarungan ini sangat unik karena hanya terdiri dari tendangan kuncian, bantingan. Suatu ketika, Anggraini mengaku memiliki pengalaman pedih. Dia pernah mengalami cidera leher dan tangan. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berlatih dan mendalami seni bela diri.

Dia saat ini tengah mempersiapkan kejuaraan Pra Prorprov pada November 2021. Mesti berat, keinginan itu sebagai prajurit harus dijalani.

"Siap siap Pelatnas lagi Jateng mewakili Kota Semarang, meski berat tapi suami tetap mengizinkan dan men-support," jelasnya.

Dalam waktu dekat akan menyiapkan diri melakukan latihan fisik mental untuk latihan. "Kuncinya disiplin latihan, hasil menang kalah yang penting hasil permainan terbaik," ungkapnya.

Dia berharap dengan raihan medali yang telah dicapainya nanti bisa menjadi jalan untuk menempuh pendidikan keperwiraan.

"Torehan medali ini belum kami ajukan kenaikan pangkat. Inginnya nanti untuk meneruskan sekolah perwira secapa," tutup dia.

Santriwati Gontor Pertama Jadi Polwan

Bripda Agustina Untari, Santriwati Gontor Pertama yang Lolos Jadi Polwan

Merdeka.com 2021-04-18 09:05:00
Bripda Agustina Untari. ©2021 Merdeka.com

Terlahir sebagai anak prajurit TNI, membuat Agustina Untari bercita-cita menjadi Korps Wanita TNI AD atau Kowad. Namun upaya itu kandas karena terkendala legalitas ijazah.

"Tahun 2014, setelah lulus dari Pondok Modern Gontor Putri 1 di Mantingan, saya mencoba mendaftar tes masuk Kowad. Cuma waktu itu saya gagal di verifikasi ijazah. Sehingga saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kuliah saja," tutur Tari, sapaan akrabnya.

Tari gagal diterima karena ijazah kelulusannya dari Gontor adalah dalam bentuk lembaga pendidikan Kulliyatul Muallimat al-Islamiyah (KMI). Model pendidikan menengah di Gontor ini menggunakan kurikulum tersendiri yang berbeda dengan kurikulum pendidikan formal.

"Ijazah saya full menggunakan bahasa Arab, sehingga saya harus menterjemahkannya lebih dulu," ujar perempuan asli Jember ini.

Sempat kuliah hampir dua semester di Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tari kemudian mendengar informasi pendaftaran polisi. Saat itu, peluangnya besar karena ada program khusus.

"Saat itu dibuka rekrutmen Polwan dalam jumlah besar, yakni 7.000 polwan untuk program 1 polsek 1 polwan. Sehingga kuotanya lebih besar daripada biasanya," papar Tari.

Rekrutmen Polwan tahun 2015 itu berdasarkan gagasan ibu negara Ani Yudhoyono, istri Presiden SBY. Ibu Ani menginginkan agar di setiap Polsek terdapat minimal 1 polwan yang bertugas. Khusus untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan perempuan.

Syarat pendaftaran juga tidak terlalu berat. Tinggi badan minimal dari sebelumnya 165 cm, diturunkan menjadi 155 cm. Juga syarat batas maksimal usia, dinaikkan menjadi di bawah 22 tahun.

"Saat itu usia saya kurang sebulan lagi sudah 22 tahun. Jadi itu kesempatan terakhir saya, cukup dramatis," tutur perempuan kelahiran 2 Agustus 1992 ini.

Bekal legalitas ijazah pesantren yang dimiliki Tari tidak dipermasalahkan saat mendaftar di kepolisian. Namun, tetap saja Tari harus berjuang lebih dibandingkan pendaftar lain.

"Selain saya harus menerjemahkan ijazah saya yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, saya juga memisahkan nilai mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama dalam ijazah tersebut. Karena yang dinilai untuk seleksi hanya mata pelajaran yang umum saja," papar putri pasangan Serma (Purn) Tono dan Yayuk Tri ini.

Setelah melalui proses seleksi ketat, Tari berhasil lolos menjadi anggota Korps Bhayangkara. Proses itu membuatnya terharu.

"Sempat tidak percaya saat akan mendaftar. Karena saya adalah alumni Pondok Gontor Putri pertama yang mengikuti pendaftaran Polwan," tutur istri dari Bripka Meldy Ance Almendo ini.

©2021 Merdeka.com

Sang ibu senantiasa memotivasi Tari untuk tetap bersemangat dalam berjuang agar lolos ke Sekolah Polisi Negara (SPN). Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Lulusan MTs (setara SMP).

"Tetapi beliau selalu bilang, kalau kamu punya keinginan, ya harus berjuang untuk menggapainya," kenang Tari.

Diterima pada 2015, Tari bersama rekan-rekannya mengikuti pendidikan Bintara Polri selama 7 bulan. Hingga akhirnya dilantik pada awal tahun 2016. Bekal pendidikan selama lima tahun sebagai santriwati di Gontor membuat Tari tidak kesulitan beradaptasi mengikuti model pendidikan di kepolisian.

"Karena di pesantren kita sudah diajarkan kemandirian. Selain itu, kita juga sudah terbiasa dari bangun tidur hingga akan tidur lagi, semuanya pendidikan," papar Tari.

Setelah berdinas hampir setahun, pada tahun 2017 muncul kebijakan baru di tubuh institusi Polri yang membolehkan Polwan untuk memakai hijab. Saat itu pula Tari langsung kembali mengenakan jilbab.

"Saat itu, Kapolrinya adalah Jenderal Pol Badrodin Haiti yang juga alumni pesantren," kenang Tari.

Badrodin Haiti merupakan jenderal polisi yang berasal dari keluarga pengasuh Pondok Pesantren Baitul Arqom, Jember.

Awal bertugas, Tari ditempatkan sebagai penyidik pembantu di salah satu polsek yang ada di Jember. Lalu dia dipindahkan ke Satbinmas Polres Jember sampai saat ini.

Selama enam tahun bertugas menjadi polwan, banyak suka-duka yang dialami Tari. Salah satunya ketika membantu menangani kasus bayi yang dibuang oleh ibunya.

"Saat itu di wilayah Polsek Patrang, ditemukan bayi yang baru berumur sekitar 24 jam dibuang dalam kondisi hidup. Beruntung, nyawanya masih bisa diselamatkan," tutur Tari.

Nalurinya sebagai seorang perempuan, membuat Tari cukup trenyuh dalam menangani kasus ini. Terlebih, pelakunya adalah seorang pelajar kelas 2 MTs yang membuang bayi tersebut karena sang kekasih enggan bertanggungjawab.

"Setelah proses hukum selesai, bayi kemudian di kembalikan kepada keluarga perempuan tersebut. Ibunya tidak dihukum, karena mau menerima kembali bayinya dan juga masih harus meneruskan pendidikan. Bayi itu akhirnya diasuh oleh seorang pengacara yang masih kerabat dengan si remaja tersebut," papar ibu satu anak ini.

Pada peringatan Hari Kartini 21 April 2021 ini, Tari mengajak para perempuan di Indonesia untuk senantiasa semangat dalam berkarya.

"Kalau kita punya cita-cita, kita harus memperkuat niat agar bisa sungguh-sungguh meraihnya," tutupnya.

Jatuh Bangun Jadi Prajurit

Jatuh Bangun Dwi Jadi Prajurit TNI

Merdeka.com 2021-04-18 05:03:00
Serda (K) Dwi Sutekasari Karmela. Istimewa

Lahir dan dibesarkan dari keluarga militer ternyata menjadi motivasi tersendiri bagi seorang Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) bernama Serda (K) Dwi Sutekasari Karmela, untuk meneruskan profesi sang ibunda, ayah dan kakaknya menjadi prajurit TNI.

Namun, jalan Dwi (sapaan akrabnya) untuk menggapai cita-citanya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kegagalan berkali-kali sempat dirasakannya saat mencoba mengikuti tes bintara Polri dan TNI Angkatan Darat. Pada tahun 2017, Dwi memulai peruntungannya.

"Tes Polwan dua kali. Kowad dua kali, juga pernah tes Sekolah Tinggi Akutansi Negara tapi gagal," kata Dwi, Kamis (15/4).

Kegagalan itu tidak membuat Dwi patah arang. Kowad yang bertugas di Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan ini kembali mengikuti tes penerimaan bintara TNI AD pada tahun 2019.

Hasilnya, tidak mengecewakan. Jatuh bangun usahanya selama ini pun terbayarkan. Dwi lolos dari berbagai tes yang telah dilakukannya dan resmi menjadi bagian anggota TNI AD di awal tahun 2020.

"Alhamdulillah, rasa bangga yang tak disangka bisa menjadi seorang prajurit TNI. Di mana sempat kalah berkali-kali, tapi banyak yang mendukung itu semua berkat usaha, latihan, dan doa restu dari orang tua yang tiada hentinya," tutur Dwi.

Dari cerita sosok gadis kelahiran tahun 1999 ini ada pelajaran yang dipetik. Tidak ada hasil yang akan mengkhianati proses.

Mengutip dari pernyataan legenda hidup pemain sepak bola asal Brazil yakni Pele, sukses bukanlah kebetulan. Ia terbentuk dari kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan paling penting cinta akan hal yang sedang atau ingin kau lakukan.

Jago Ngaji dan Ringkus Penjahat

Dinda Ega, Polwan dari Banten Tak Hanya Jago Tangkap Penjahat Tapi Juga Mengaji

Merdeka.com 2021-04-18 08:34:00
Anggota Polda Banten Bripda Dinda Ega Erlangga. ©2021 Merdeka.com

Dinda Ega Erlangga tak hanya dikenal sebagai anggota Polisi Wanita dari kesatuan Kepolisian Daerah (Polda) Banten, tapi juga seorang Hafiz Alquran. Baginya, mengaji sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Sejak kecil, orangtua Dinda selalu menanamkan kebiasaan mengaji. Dinda sudah khatam Alquran sejak kelas 4 Sekolah Dasar. Tak heran jika kemampuan itu berhasil mengantarkan Dinda menorehkan namanya sebagai Juara 2 Hafiz Quran Tingkat Nasional di Mabes Polri, Juara 3 Hafiz Quran Tingkat Polda Banten.

©2021 Merdeka.com

Dinda berpandangan, sebagai anggota Polisi tidak hanya harus bisa menjaga keamanan warga tapi juga harus memahami ajaran agama. "Jangan hanya menangkap (penjahat) saja, mengaji juga bisa," ujarnya.

Wanita yang pernah menjadi juara 1 busana muslimah Provinsi Banten ini kerap diminta oleh aparatur desa di tempat tinggalnya untuk mengajar mengaji di sebuah tempat pendidikan keagamaan.

©2021 Merdeka.com

"Pernah inisiatif ada sekolah agama, saya ikut membantu. Kebetulan di kampung sendiri. Diminta sama kelurahan pas ada kegiatan," katanya.

Dengan rendah hati, wanita yang pernah bercita-cita menjadi pramugari ini tak ingin disebut sebagai hafiz quran. Karena dia tak pernah berniat memenangkan kompetisi hafiz quran. Dia hanya menjadikan mengaji sebagai kebiasaan sejak kecil dan kini menjadi gaya hidupnya.

©2021 Merdeka.com

"Sekarang sudah jadi lifestyle. Saya bukan hafiz, tapi kenapa saya bisa menjadi runner up. Karena tipikal saya, niatnya saya tidak mau memenangkan lomba. Yang saya pikirkan, saya hapal ini ganjarannya lebih besar dari piala," tegasnya.

Penyelamat Wanita dan Anak

Iptu Dyah, Penggawa Polres Jember Tangani Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Merdeka.com 2021-04-18 14:22:24
Kepala Unit Kanit PPA Satreskrim Polres Jember Ipda Dyah Vitasari. ©2021 Merdeka.com

Beberapa waktu terakhir, sorotan publik tertuju pada kasus dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan seorang dosen PTN terhadap keponakannya sendiri yang masih di bawah umur. Respons cepat kepolisian dalam menangani kasus ini diapresiasi oleh beberapa kalangan aktivis perempuan.

Di balik proses tersebut, terdapat sosok Iptu Dyah Vitasari yang cukup berperan. Sebagai perwira yang menjabat Kepala Unit Perempuan dan Perlindungan Anak (Kanit PPA) Satreskrim Polres Jember, Dyah, sapaan akrabnya, menjadi salah satu tumpuan dalam penanganan kasus-kasus terkait perempuan dan anak di Jember.

Berkarir menjadi polisi, semula tidak terbayang dalam rencana hidup Iptu Dyah. Selain bukan berasal dari keluarga polisi, Dyah juga menempuh pendidikan yang cukup jauh dari penegakan hukum.

"Saya sebenarnya kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej), tidak ada hubungannya dengan polisi. Ayah saya juga bekerja di perusahaan rokok di Kediri, dan ibu juga ibu rumah tangga biasa," papar Dyah saat berbincang dengan merdeka.com baru baru ini.

Selepas menyandang gelar sebagai sarjana pertanian pada tahun 2003, Dyah sempat bekerja di sebuah perusahaan surveyor yang ada di Surabaya. Namun panggilan sebagai abdi negara membuat Dyah menjajal peruntungannya dengan mengikuti seleksi masuk Kepolisian.

"Alhamdulillah, sekali mencoba langsung diterima. Saya ikut pendidikan dan pada 1 Januari 2004, saya resmi dilantik sebagai anggota kepolisian," tutur Dyah mengenang awal perjalanannya sebagai Polwan.

Sejak awal menjadi polisi, karir Dyah lebih banyak dihabiskan di Korps Lalu Lintas (Korlantas). Selama 17 tahun menjadi polisi, baru setahun terakhir Dyah berpindah ke Korps Reskrim.

"Kalau di kepolisian, pindah satkung dan satkres kan sudah biasa. Memang itu atas dasar keinginan sendiri. Saya ingin mencoba tantangan, karena semakin ke depan, tantangan tugas Polri semakin berkembang. Jadi kita tidak boleh gampang berpuas diri," ujar perempuan kelahiran 19 Mei 1979 ini.

Setelah mengikuti pendidikan kejuruan Pama Dasar di Pusat Pendidikan (Pusdik) Reskrim di Megamendung, Bogor, Dyah diamanahi sebagai Kanit PPA Polres Jember hingga saat ini. Selama itu pula, beragam kasus seperti KDRT, persetubuhan, pencabulan dan sebagainya sudah ditangani Dyah dan jajarannya.

"Memang polisi yang ditempatkan di PPA ini dipilih Polwan yang humanis. Karena kasus-kasus seperti ini kan butuh penanganan khusus yang berbeda dengan kasus lain. Makanya, di ruangan kami tersedia ruangan khusus seperti play ground untuk anak dan tempat menyusui. Agar perempuan dan anak tidak takut ketika menghadapi penyidik," tutur Dyah.

Dalam menangani kasus-kasus terkait perempuan dan anak, khususnya kasus asusila dan juga KDRT, polisi tidak bekerja sendiri. "Ada pendampingan dari Pusat Perlindungan Perempuan (PPT) Dinas Perlindungan Perempuan, Anak dan KB (DP3AKB Jember). Kita juga kolaborasi dengan pekerja sosial dari Dinsos," tutur perempuan asli Kediri ini.

Seperti dalam kasus yang membelit dosen RH, pelapor yang merupakan keponakan bersama sang ibu, senantiasa didampingi oleh PPT dan juga LSM Perempuan. Yang menarik dalam kasus ini, saksi korban yakni remaja perempuan, sempat merekam aksi kekerasan seksual tersebut dengan rekaman suara di ponselnya. Rekaman suara itulah yang menjadi salah satu bukti awal untuk menjerat RH –dosen bergelar PhD dari Australia- sebagai tersangka kasus asusila.

"Intinya, kami mengimbau, setiap perempuan dan anak yang mengalami kasus-kasus kekerasan apapun, jangan takut untuk melapor kepada polisi. Soal barang bukti, itu biar urusan penyidik untuk mencarinya. Kami memiliki tekniknya. Juga akan ada pendampingan untuk perempuan dan anak," tegas Dyah.

Membagi Waktu Antara Dinas dengan Keluarga

Bekerja sebagai polisi, membuat Dyah kerap bekerja di luar jam kerja normal. Namun, ia tetap tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga.

"Polwan itu meskipun berdinas sebagai abdi negara, di rumah perannya tetap kembali sebagai ibu rumah tangga. Karena itu harus pandai membagi waktu antara dinas dan rumah tangga. Alhamdulillah, suami dan anak semuanya tetap mendukung tugas saya," ujar Dyah.

Di luar kesibukannya, Dyah harus tetap pandai membagi waktu, antara dinas dan perhatian terhadap keluarga. "Anak-anak sering tanya kapan pulang. Ya kita intens berkomunikasi kasih kabar. Kalau tidak telepon ya video call," tutur Dyah.

Tiga buah hati Dyah, semuanya adalah perempuan. Yang pertama duduk di bangku kelas 2 SMP, lalu kelas 2 SD dan yang bungsu masih bayi berusia 2 tahun.

"Selama 17 tahun menjadi polisi, ada kebanggaan terhadap profesi. Karena bisa melayani dan bermanfaat untuk masyarakat," pungkas Dyah.