Volume 18

Ular Cabai Predator Para Pembunuh

Ular Cabai, Si Predator Kecil Para Pembunuh

Merdeka.com 2021-04-16 12:00:00
Ular Cabe. ©2021 Merdeka.com/Joel Putro

Istilah 'kecil-kecil cabai rawit' nampaknya sesuai dengan yang hewan melata yang satu ini. Meski ular ini punya badan yang kecil namun ia begitu membahayakan. Bisanya termasuk bisa kuat yang mampu melumpuhkan saraf korban.

Pemilik nama latin Calliophis intestinalis ini memiliki persebaran alami di Indonesia, yaitu di Sumatera,Pulau Nias, Bangka, Belitung, Mentawai, Kepulauan Riau dan Jawa. Ular ini memang mudah ditemui di Tanah Air bahkan di kota-kota besar. Selain di Indonesia, ular cabai juga bisa dijumpai di Thailand, Malaysia dan Singapura.

Ciri khas hewan berbisa ini memiliki warna cerah bagian kepala dan ekornya. Saat ular ini melingkar, bentuknya ujung ekornya bak cabai merah. Itulah mengapa hewan ini disebut ular cabai.

©2021 Merdeka.com/Joel Putro

Ular ini memiliki pesona yang menawan. Bentuknya unik dengan warna cerah di kepala dan ekornya. Calliophis intestinalis memiliki panjang rata-rata 35 cm. Dapat mencapai panjang maksimum sekitar 55 cm. Kecil sekali bukan?

Bahkan, saking kecilnya bagian kepala tidak dapat dibedakan dengan lehernya. Meski begitu, badan kecilnya tak boleh dianggap remeh. Si kecil melata ini termasuk dalam jenis Elapidae. Ular berbisa bertaring-depan pendek yang mematikan.

©2021 Merdeka.com/Joel Putro

Bisa ular ini bersifat neurotoksin yang mampu melumpuhkan saraf. Jika tergigit, manusia akan merasakan kejang luar biasa, pusing, mual-mual, kesulitan bernapas. Terasa sakit di sekitar luka gigitan, pembengkakan, dan bahkan kematian jaringan. Jika tak segera ditangani bisa saja menyebabkan kematian.

Hewan ini dikenal sebagai "pembunuh dari pembunuh", si pemangsa ular. Si kecil ini bahkan dapat menyerang dan memangsa beberapa ular paling mematikan di Bumi termasuk King Cobra. Kekuatannya memang tak perlu diragukan lagi.

©2021 Merdeka.com/Joel Putro

Sifat alami ular ini tidak agresif bahkan ketika merasa terancam. Si kecil melata ini tidak menghindar walaupun diganggu. Ular yan berkembang biak dengan bertelur ini hanya menggulingkan bagian bawah tubuhnya. Memperlihatkan perutnya yang berwarna belang hitam-putih.

Jika mulai merasa terganggu, ular endemik di Asia Tenggara ini akan mengangkat ekornya yang berwarna merah itu sebagai tanda peringatan.

©2021 Merdeka.com/Joel Putro

Ular ini menyukai habitat dengan tanah berbatu, ber serasah, lembap, area dengan potongan batang pohon. Ular mini ini gemar menyembunyikan diri di antara serasah dedaunan sehingga ular ini tergolong jenis terrestrial dan semifossoria.

Sebenarnya, ular cabai ini ada di sekitar kita. Namun, karena ukuran ular yang mini dan tinggal di bawa tanah. Jarang orang yang melihat dan menyadarinya. Oleh karena itu, tetap hati-hati dan waspada dengan si cantik yang satu ini ya!

Cara Usir Ular dari Dalam Rumah

7 Cara Mengusir Ular dengan Bahan Alami Agar Keluar dari Rumah

Merdeka.com 2020-07-06 14:08:00
Ilustrasi ular. ©2012 Merdeka.com

Cara mengusir ular dari dalam rumah akan sangat membantu Anda, mengingat keberadaan hewan melata ini sangat-sangat tidak bisa diprediksi. Ular merupakan salah satu jenis hewan reptil yang memiliki bisa sangat beracun, ini dapat mengancam keamanan manusia.

Sebenarnya, terdapat beberapa hal yang memungkinkan ular dapat masuk ke dalam rumah Anda. Lokasi rumah berdekatan dengan alam bebas seperti sawah, rawa, hutan, kebun maupun sungai bisa menjadi penyebabnya. Bukan tidak mungkin ular terbawa oleh aliran hujan saat membanjiri lingkungan sekitar Anda.

Nah, untuk mengatasi kejadian ini Anda bisa melakukan beberapa cara seperti mencegah bahkan mengusir ular yang terlanjur masuk ke dalam rumah dengan menggunakan bahan alami. Perlu diketahui, sebenarnya banyak sekali bahan-bahan di dalam rumah Anda yang dapat digunakan untuk mengusir hewan reptil berbisa ini. Akan tetapi berhati-hati juga harus menjadi modal utama ketika mengusir ular. Berikut cara mengusir ular dengan bahan alami yang sudah dirangkum dari berbagai sumber.


Cara Mengusir Ular dengan Pembersih Lantai

Cara mengusir ular pertama yang dapat Anda lakukan adalah dengan menggunakan cairan pembersih lantai seperti karbol. Caranya adalah cukup dengan menyiramkan karbol ke bagian badan ular, ini akan mampu memberikan rasa panas serta membuat sensor gerak ular menjadi rusak.

© Britanica/Wikipedia

Dengan begitu, cara ini akan membuat ular akan pergi secara perlahan. Akan tetapi, saat melakukan cara ini Anda harus benar-benar berhati-hati apabila ular melakukan perlawanan. Pleh karena itu disarankan agar Anda tetap selalu waspada.


Cara Mengusir Ular dengan Wewangian yang Dibenci Ular

Wewangian yang dibenci atau tidak disuka ular menjadi cara selanjutnya untuk mengusirnya. Diketahui, cara yang terkenal untuk mengusir ular sedari zaman dahulu adalah dengan menggunakan garam, namun ternyata ular justru tidak kabur kala diberikan garam.

©Shutterstock/Nikola Spasenoski

Maka, cara mengusir ular agar keluar dari rumah yang ampuh dan dapat dilakukan adalah dengan menggunakan wewangian yang dibencinya. Cukup dengan menyemprotkan wewangian seperti cairan pewangi ruangan atau parfum maka akan mampu membuat ular pergi secara perlahan.


Minyak Kayu Manis dan Minyak Cengkeh

Cara alami berikutnya untuk mengusir ular dari rumah adalah dengan menggunakan minyak kayu manis dan minyak cengkeh. Menyemprotkan cairan campuran minyak kayu manis dan minyak cengkeh dipercaya akan mampu membuat ular pergi secara perlahan.

©cheryl.A.Wetelt via www.photosphrases.com

Anda juga dapat melakukan penyemprotan campuran kedua minyak ini diberbagai sudut rumah atau langsung ke ular. Lerlu menjadi perhatian agar tidak menyemprotkannya dari sisi belakang ular karena ini memungkinkannya berbalik arah dan menyerang Anda. Diketahui, mengusir ular dengan cara alami ini terbilang cukup ampuh dan bisa Anda coba lakukan.


Bubuk Belerang

Kemudian, Anda juga dapat mengusir ular dari rumah dengan menggunakan bubuk belerang. Tak hanya manusia yang tidak tahan dengan bau atau aroma dari belerang ini, ularpun juga merasakan hal yang sama. Reptil berbisa itu sangat tidak menyukai bau menyengat dari belerang.

© Britanica/Wikipedia

Nah untuk itu, Anda dapat meletakkan bubuk belerang di setiap sudut rumah Anda. Misalnya seperti di bagian dekat pintu ataupun celah-celah rumah yang dapat memungkinkan ular dapat masuk.


Cabai

Bahan alami yang dapat Anda gunakan untuk mengusir ular adalah salah satu bahan dapur. Ya cabai, dapat digunakan untuk mengusir hewan reptil berbisa itu dari dalam rumah Anda.

© wiseGEEK

Untuk mengusir ular, Anda dapat menaburkan beberapa cabai disekitar atau sekeliling rumah. Memang cara ini sedikit terdengar agak mengganjal, namun ini merupakan cara yang terbilang ampuh guna mengusir ular.


Cara Mengusir Ular dengan Amonia

Adapula cara mengusir ular berikutnya yang bisa Anda lakukan di rumah adalah dengan menggunakan amonia. Sebuah studi menunjukkan bahwa hewan melata berbahaya ini sangat tidak menyukai aroma amonia yang tidak sedap.

Dengan menyemprotkan amonia di sekitar area atau meletakkannya pada wadah yang terdapat ular akan mampu membuatnya menjauh.


Bawang Merah dan Putih

Kemudian, Anda juga dapat mengusir ular dari dalam rumah dengan menggunakan bahan alami yang biasa digunakan sebagai bumbu dapur, yakni bawang merah dan bawang putih. Hal tersebut dipercaya ampuh mengusir ular, karena mereka tidak tahan dengan asam sulfonat yang dihasilkan oleh bawang.

©2018 Merdeka.com/Pixabay

Nah biasanya, asam ini akan membuat Anda menangis ketika sedang mengirisnya. Asam tersebut juga akan berlaku pada ular, dan akan membuatnya akan langsung menghindarinya dalam waktu seketika.

Nah itu tadi merupakan 7 cara mengusir ular dengan menggunakan bahan alami agar segera keluar dari rumah yang sudah dirangkum dari berbagai sumber. Semoga informasi ini dapat membantu Anda untuk tetap waspada dan berjaga-jaga apabila suatu saat ular masuk ke rumah Anda. Selamat mencoba.

Si Biru Cantik Berbahaya

Ular Trimeresurus Insularis, Si Biru Cantik Berbahaya

Merdeka.com 2021-04-14 13:00:00
Trimeresurus Insularis. ©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Berwarna biru dengan tatapan mata yang tajam, hewan melata ini terlihat begitu cantik saat dipandang. Berkat kecantikannya, tak sedikit orang yang rasanya ingin mengulas dengan lembut hewan bersisik ini. Tetapi kamu wajib waspada, di balik pesonanya jenis ular Trimeresurus Insularis ini memiliki bisa yang berbahaya bagi manusia.

Trimeresurus Insularis adalah subspesies pit viper asli Indonesia. Hewan kecil yang saat dewasa panjangnya mencapai 93 cm ini tersebar di beberapa pulau di Indonesia. Tepatnya di Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo, Rinca, Flores, Alor, Wetar. Namun, selain di Indonesia, ular ini juga bisa ditemukan di Timor Leste.

Ular berwarna biru ini merupakan arboreal yang kerap menghabiskan banyak waktunya bertengger pada ranting-ranting pohon. Menyergap mencari mangsa dari atas ketinggian 900 sampai 1.200 meter.

©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Ular yang dijuluki berbibir putih ini masuk dalam keluarga ular beludak. Para pemangsa yang cukup agresif. Melalui sepasang taring melengkung yang beralur di tengahnya, si biru cantik ini menyuntikkan bisa di tubuh korban.

Tak main-main, Trimeresurus Insularis masuk kedalam salah satu ular berbisa tinggi yang memiliki kandungan bisa Hemotoxin. Kandungan bisa yang sangat kuat dan menyerang sel darah.

©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Jika tergigit ular ini, korban biasanya akan mengalami rasa sakit yang hebat. Pembengkakan, terasa panas di area gigitan, melepuh, bahkan kerusakan jaringan pada area gigitan.

Rasa kaku dan nyeri yang meluas perlahan-lahan ke seluruh bagian anggota yang tergigit. Kendati punya bisa yang cukup berbahaya, namun jarang hingga menyebabkan kematian.

©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Kendati demikian, tidak semua gigitan ular disertai dengan pengeluaran bisa. Gigitan ‘kering’, yang bersifat refleks atau peringatan. Biasanya tidak disertai bisa dan tidak membahayakan.

Gigitan ‘kering’ ular ini tidak menimbulkan gejala-gejala keracunan seperti di atas. Walaupun begitu tetap waspada, pasalnya untuk SABU (Serum Anti Bisa Ular) Trimeresurus Insularis ini belum tersedia di Indonesia.

©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Warna biru yang memukau pada T. Insularis ini tak akan luntur. Ia bersifat pemanen, selamanya. Uniknya, meski sama-sama berwarna biru dan satu jenis. Namun T. Insularis dari Sumbawa dan Pulau Komodo memiliki warna yang berbeda.

Pada T. Insularis dari Pulau Komodo warnanya lebih pekat, sedangkan dari Sumbawa berwarna biru langit. Bola mata dan ekor T. Insularis biasanya berwarna silver. Ada berbagai macam faktor yang membuat keduanya memiliki warna yang berbeda. Salah satunya faktor kelembapan dan suhu udara sekitar.

Dampak Isap Bekas Gigitan Ular

Sioux Ular Indonesia Sebut Isap Bekas Gigitan Weling Percepat Fase Sistemik Mematikan

Merdeka.com 2019-08-23 14:35:25
Ular Welang. ©wikipedia.com

Petugas keamanan Iskandar tewas setelah digigit Ular Weling yang ditemukan salah seorang warga tempatnya bekerja. Peristiwa itu terjadi di sebuah perumahan di kawasan Gading Serpong.

Yayasan Sioux Ular Indonesia menilai peristiwa itu bisa terjadi kemungkinan karena Iskandar tidak begitu paham dengan spesies ular.

"Korban tidak paham spesies ular, menganggap itu enggak berbahaya, ular Bungarus candidus (weling) ini memang mulai aktif di senja hingga malam hari untuk mencari makan. Salah satu ciri khas ular berbisa tinggi adalah nocturnal," dalam keterangan yang diterima merdeka.com, Jumat (23/8).

Karakter seekor ular memiliki gerakan mengejutkan. Saat Iskandar memegang bagian kepala, sesungguhnya ular tersebut sedang siap-siap menyerang dan bertahan. Sebab beda spesies akan berbeda pula cara menanganinya.

"Mengamati teknik Pak Satpam memegang kepala di video yang viral ini menunjukkan korban belum pernah mendapatkan pelatihan yang benar tentang teknik handling ular bungarus."

Tindakan Iskandar mengisap jarinya yang terkena gigitan ular justru membuat fase penyebaran bisa semakin sistemik.

"Luka di sedot oleh korban, hal yang justru mempercepat fase lokal menjadi fase sistemik yang mematikan. Teknik yang tepat adalah dengan imobilisasi agar bisa tidak masuk fase sistemik. Korban merasa hanya gatal, karena ini venom neurotoxcyn tidak langsung merasa sakit kalau kena gigit. Tapi venomnya langsung serang saraf termasuk mematikan fungsi jantung."

Selain itu, ketika seseorang terkena gigitan ular harus dipastikan segera mendapatkan penanganan cepat.

"Saran mulai saat ini Warga cluster/kompleks/siapa pun perlu mendata RS terdekat ready stock SABU (Serum Anti Bisa Ular). Perlu menguasai teknik first aid gigitan ular dengan sistem imobilisasi."

Perlu diketahui pula, ular jenis Weling memang masih banyak di alam dan di lingkungan rumah karena merupakan predator alami ular lain. Tanpa ular weling/ welang, akan ada ledakan populasi ular spesies lain di ekosistem.

"Memahami karakter sifat dan teknik handling yang benar perlu dilakukan. Menguasai teknik first aid penanganan gigitan ular berbisa tinggi dengan sistem Imobilisasi yang direkomendasikan WHO guidelines 2016."

Yayasan Sioux Ular Indonesia turut berbela sungkawa atas kejadian dialami Iskandar. Diharapkan tidak ada lagi korban gigitan ular Weling karena salah menerapkan teknik handling atau cara menangkapnya.

Cara Membedakan Ular Berbisa dan Tidak

Begini Cara Membedakan Ular Berbisa dan Tidak

Merdeka.com 2021-04-22 13:23:00
King Kobra. ©2021 Merdeka.com/Subari

Bagi sebagian orang, melihat ular seperti melihat setan, ada yang menjauhinya dengan perlahan, ada yang langsung mengambil 'langkah seribu', bahkan ada juga yang pingsan. Namun sebaiknya Anda tahu bahwa tidak semua ular itu berbahaya.

Menurut para peneliti dan ilmuwan, Anda harus tahu bahwa ular berbisa dan tidak berbisa sudah bisa dibedakan secara fisik. Tak hanya ciri fisik, bahkan banyak sisi yang dapat dimanfaatkan untuk melihat ular itu berbahaya atau tidak. Ingin tahu? Berikut ulasannya.

Ular agresif tidak berbisa

Kebanyakan, ular yang agresif justru cenderung tidak berbisa. Mereka hanya sekedar menakut-nakuti atau sekadar bertahan saat merasa terusik. Itulah cara mereka untuk mengusir predator.

Berbeda dengan ular yang tenang dan gerakannya lambat. Ular-ular jenis ini justru memiliki bisa tinggi. Contohnya seperti King Cobra, ular ini cenderung berjalan dengan pelan meskipun terusik. Jika benar-benar terusik, maka dia akan mematuk dan meninggalkan bisanya pada korban.

Keluar pada siang hari

Aktivitas ular tidak berbisa biasanya siang hari. Hampir dipastikan bahwa ular tersebut tidak berbisa. Sebab ular berbisa biasanya justru berburu pada malam hari. Seperti contohnya ular weling. namun ada pengecualian, ular King Cobra biasanya juga berburu pada siang hari.

Tak perlu membelit

Jika ular berbisa, tidak perlu membelit untuk membunuh mangsanya. Sebab dengan satu gigitan saja, mangsa akan tergeletak tak berdaya bahkan mati. Sementara untuk ular yang tidak memiliki bisa cenderung membelit mangsanya agar mati.

Bentuk kepala

Bentuk kepala ular tidak berbisa biasanya lonjong seperti telur. Sementara untuk ular berbisa, mereka memiliki bentuk kepala segitiga. Namun yang perlu diingat adalah, tetap ada pengecualian. Contohnya ular kobra, ular ini tidak memiliki bentuk segitiga namun bisanya sangat mematikan.

Jenis gigitan

Apabila Anda digigit ular, coba lihat bagaimana bekas gigitan tersebut. Apabila meninggalkan bekas dua titik akibat taring ular, maka jelas itu adalah ular berbisa. Namun jika gigitan tersebut meninggalkan bekas luka berupa deretan gigi yang tersusun rapi (bekas gigitannya melengkung membentuk gigi), maka itu bukanlah ular berbisa.

Tidak langsung pergi

Ular berbisa memiliki kebiasaan untuk menunggu korban gigitannya mati di hadapannya. Sehingga setelah menggigit, sejenis ular kobra akan tetap diam di tempat. berbeda dengan ular tanpa bisa atau berbisa rendah, mereka cenderung akan langsung pergi setelah menggigit apapun yang mengusiknya.

Pertolongan Pertama Dipatok King Cobra

Ganasnya Racun King Kobra Bunuh Mangsa Hitungan Menit & Tips Pertolongan Pertama

Merdeka.com 2019-11-12 06:30:00
King Cobra. ©2013 Merdeka.com

Nasib nahas menimpa Rendy Arga Yudha (18), pemuda asal Depok, Jawa Barat. Dia meninggal dunia setelah digigit ular jenis king kobra beberapa hari lalu.

Korban terkena racun dari bisa ular jenis king kobra. Racunnya menyebar ke beberapa bagian anggota tubuhnya. Berbagai upaya telah dilakukan tim medis untuk menyelamatkan korban namun takdir berkata lain. Korban meninggal dunia pada Minggu (10/11) pukul 03.35 WIB.

"Pasien tersebut meninggal dunia pada Minggu dini hari. Kami telah memberikan perawatan maksimal. Kami turut berduka sedalam-dalamnya atas meninggalnya pasien yang kami rawat karena komplikasi gigitan ular King Cobra," kata Humas RSUI, Kinanti, Minggu (10/11).

Belajar dari apa yang dialami Rendy, tentu amat baik jika kita mengetahui cara memperlambat racun kobra menyebar ke seluruh tubuh. Berikut cara pertolongan pertama untuk mencegah penyebaran racun king kobra ke seluruh tubuh:


King Kobra Memiliki Bisa Memastikan

Ular Kobra memiliki bisa yang sangat lengkap dan mengandung neurotoxin, cardiotoxin, dan hemotoxin. Disebut lengkap lantaran semuanya dimiliki oleh King Cobra. Bisa tersebut kemudian melumpuhkan saraf-saraf dan otot-otot si korban (mangsa) dalam waktu yang hanya beberapa menit saja.

Selain itu, ular kobra dapat melumpuhkan korbannya dengan menyemprotkan bisa ke matanya. Namun tidak semua kobra dapat melakukan hal ini. Dalam menyerang lawannya, kobra bisa berdiri sepertiga dari badannya jika bersiap menyerang.


Racun Kobra Membunuh Manusia dalam Hitungan Menit

Kobra bukan tipe penyerang manusia, kecuali diserang lebih dahulu. Dia akan membalas dengan mematok bahkan mengejar siapa saja yang mengganggu tempatnya berdiam diri. Jika racun atau bisa sudah menyerang tubuh manusia, maka korban bisa meninggal dalam hitungan menit.

"Racun yang dimilikinya sangat cepat bereaksi, dalam hitungan menit akan mematikan mangsanya," ujar Tohar, salah seorang Sekretaris Rajawali Reptil Community (Retic) saat berbincang dengan merdeka.com Kamis (6/4/2017).

Apa yang harus dilakukan jika terkena racun ular kobra?


Jangan Panik dan Jangan Banyak Bergerak

Langkah pertama yang harus diambil jika terkena serangan racun kobra adalah jangan panik dan jangan banyak bergerak. Karena panik akan menyebabkan darah mengalir lebih cepat, yang akan membuat penyebaran racun lebih cepat. Lebih baik tenangkan korban, dan buat korban berbaring.

"Padahal gigitan ular pertama harus imobilisasi, tidak boleh menggerakkan bagian tubuh yang digigit yang bisa menunda penyebaran racun," kata Pembina Sioux Indonesia regional Jawa Barat, Herlina Agustin, Minggu (21/7/2019).


Segera ke Rumah Sakit

Usahakan segera membawa orang yang terkena racun tersebut ke rumah sakit. Rumah sakit mempunyai obat untuk melawan racun yang telah masuk ke dalam tubuh.

Dosis antiracun yang tepat dari paramedis dapat mengurangi gejala-gejala yang dapat ditimbulkan oleh racun tersebut. Namun jika Anda jauh dari rumah sakit, bisa melakukan pertolongan pertama seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Baca juga:
Pemuda 18 Tahun di Depok Tewas Digigit King Cobra
Damkar Evakuasi Ular Sanca Sepanjang 4 Meter di Saluran Air Jatinegara
Kisah Pilu 4 Anak di Cianjur Jadi Yatim Piatu Usai Orangtua Tewas Dipatuk Ular
Awal Mula Penemuan Ular Piton & 33 Butir Telur yang Kejutkan Warga Samarinda
Bersihkan Semak Belukar, Warga Samarinda Temukan 33 Telur Ular Piton
Ini Tips Agar Rumah Tak Jadi Sarang Ular

Agar Rumah Tak Jadi Sarang Ular

Ini Tips Agar Rumah Tak Jadi Sarang Ular

Merdeka.com 2019-10-10 05:45:00
Ular. ©Middle East Eye

Apa jadinya jika rumah yang kita tinggali menjadi sarang ular? Ini yang terjadi di rumah milik Endik yang terletak di Perumahan Bumi Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Di rumah Endik ditemukan 20 butir telur ular kobra oleh petugas Rescue Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor.

"Tapi kita temukan gumpalan telur ular di lantai yang sudah dibongkar, terkubur dalam tanah, karena rumah itu kosong sedang direnovasi," kata Karu Rescue 1 Dinas Pemadam Kebakaran, Kabupaten Bogor, Arman.

Ada beberapa tips agar ular tidak masuk rumah dan rumah terbebas tak menjadi sarang ular. Berikut ulasannya:

Cincin Emas yang Berbahaya

Ular Cincin Emas, Si Belang Buas Menawan yang Berbisa

Merdeka.com 2021-04-15 12:30:00
Ular Cincin Emas, Si Belang Menawan Berbisa Buas

Berwarna hitam bergaris kuning keemasan di sekujur tubuhnya. Ular Cincin Emas terkenal dengan ular yang buas. Kulit sisiknya hitam mengkilat dengan mata yang hitam nan tajam. Ular Cincin Emas akan selalu bersiaga jika bahaya mengancamnya. Tatapan matanya akan membuat takut siapa saja yang memandangnya.

Ular Cincin Emas memiliki nama latin Boiga dendrophila. Ular ini tersebar luas di Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri Ular Cincin Emas mudah ditemui di pulau Sulawesi, Kalimantan Sumatra, Kepulauan Riau, Bangka-Belitung, dan Jawa. Iklim tropis dan hutan hujan di Indonesia habitat Ular Cincin Emas. Namun hutan mangrove yang basah dan lembab menjadi habitat utama ular ini. Tak jarang orang menyebutnya ular bakau.

Bisanya termasuk dalam kategori menengah. Jika manusia terkena gigitan Ular Cincin Emas, efeknya hanya berasa sakit, bengkak dan berdarah. Meskipun berbisa menengah, ular ini mempunyai sifat agresif.

©2021 Merdeka.com/Subari

Ular Cincin Emas termasuk dalam ketegori hewan aboreal. Pepohonan adalah tempat utamanya dalam mencari makan. Saat merambat di atas pohon, ular ini menggunakan ekornya yang panjang untuk menahan tubuhnya. Ular Cincin Emas merupakan pendaki pohon yang handal.

Ular Cincin Emas merupakan ular nokturnal. Saat malam hari, ular ini aktif mencari mangsa. Namun saat siang hari, ular ini mudah ditemui bertengger di atas pohon. Pepohonan yang rindang menyamarkannya dari panas matahari dan serangan pemangsa.

©2021 Merdeka.com/Subari

Saat jatuh ke dalam air, ular ini mampu berenang dengan baik. Meraih kembali ke atas pohon meraih dahan dan dedaunan. Tubuhnya yang panjang memudahkannya mendaki pohon.

Panjang tubuhnya bervariasi. Saat dewasa ular Cincin Emas mampu tumbuh hingga 1.8 hingga 2.5 meter. Saat masa reproduksi, induk telur ular ini mampu menghasilkan 4 hingga 15 telur. Saat menetas, panjang bayi ular ini berkisar antara 35 hingga 45 centimeter.

©2021 Merdeka.com/Subari

Mangsa utamanya adalah burung kecil, tikus, katak/kodok, kadal, kelelawar kecil, bahkan ular lain yang berukuran kecil. Dua taringnya akan menghujam tubuh mangsa. Dalam hitungan menit, mangsa akan mati dan disantapnya secara perlahan.

Bagi manusia, gigitan Ular Cincin Emas belum ada penangkalnya. Antibisa untuk ular ini hanya berasal dari daya tahan tubuh. Pembengkakan menengah akan terjadi saat taring belakang ular ini menghujam tubuh manusia.

©2021 Merdeka.com/Subari

Meskipun agresif, Ular Cincin Emas menjadi salah satu hewan yang banyak diminati. Loreng Emas pada tubuh yang hitam membuat ular ini menari perhatian pecinta ular.


Ular yang mempunyai nama populer black mangrove catsnake ini sangat membantu menjaga siklus rantai makanan. Nalurinya untuk menyerang dan mempertahankan diri sangat mudah muncul. Bahkan saat bertemu manusia sekalipun.

Pembunuh Terpanjang di Dunia

King Kobra, Ular Pembunuh Berbisa Terpanjang di Dunia

Merdeka.com 2021-04-19 12:00:00
King Kobra. ©2021 Merdeka.com/Subari

Tatapan mata yang tajam, tubuhnya yang berdiri tinggi membuat siapa saja dibuat merinding. Raja kobra, selalu sukses membuat takut siapa saja yang melihatnya. Tak hanya itu, bisa Ular King Kobra mampu melumpuhkan korban dalam sekejap.

Ular pemilik nama latin Ophiophagus hannah ini panjangnya mampu mencapai 5,5-6 meter dengan diameter hingga 10 cm. Menjadikan Ular King Kobra sebagai ular berbisa terpanjang di dunia. Saat dewasa, bobot King Kobra bisa mencapai 20 kg. Umurnya juga panjang, bisa mencapai 20 tahun. Pantas, julukan Raja Kobra disematkan pada ular ini.

Raja Kobra hanya akan menyerang manusia jika terancam. Sedangkan di alam liar ular ini agresif. Hanya dengan sekali gigitan, racunnya mampu menyebar ke seluruh pembuluh darah korban. Dalam hitungan menit, korban akan terbunuh dengan mudah.

© 2021 Merdeka.com/Subari

Saat terancam, King Kobra akan membuat tubuh unik. Bagian kepala ke bawah hingga sepertiga tubuhnya akan berdiri. Yang paling unik, ujung kepala dan lehernya akan memipih layaknya berbentuk sebuah sendok. Saat itu juga, ular ini akan mengeluarkan suara desisan yang keras. Bukti bahwa Raja Kobra siap menerkam.

Ular King Kobra merupakan spesies ular yang termasuk dalam keluarga Elapidae.Seperti ular berbisa lainnya dalam keluarga ini, kobra juga dikenal sebagai Elapid. Ular ini menggunakan bisa untuk melumpuhkan mangsa. Di alam liar mangsanya termasuk kelinci, tikus, burung, telur hingga ular lainnya.

King Kobra akan lebih agresif saat berganti kulit. Sisiknya yang telah usang akan mengelupas. Biasanya semak, dan bebatuan menjadi media Ular King Kobra berganti Kulit.

© 2021 Merdeka.com/Subari

Racun King Kobra memang tidak lebih kuat di antara ular berbisa lainnya. Namun, hanya dengan dua per sepuluh ons cairan bisa mampu membunuh 20 orang. Bisa yang keluar dari taringnya bahkan mampu membunuh gajah yang ribuan kali dari ukuran tubuhnya. Benar bisa yang begitu menakutkan.

Bisa ular ini mengandung racun berjenis haemotoxcin dan neurotoxcin. Saat taring King Kobra menggigit tubuh korban, bisanya akan dengan cepat menyebar. Bisa akan membuat pembuluh darah beku. Selain itu syaraf juga akan terkontaminasi dan menyebabkan kelumpuhan organ. Racun King Kobra mempengaruhi pusat pernapasan di otak, menyebabkan napas berhenti dan gagal jantung.

©2021 Merdeka.com/Subari

Jangan terlalu khawatir namun tetap waspada, ular ganas ini punya penanganannya sendiri. Jika menemui ular ini, usahakan jangan banyak bergerak. Setiap gerakan bisa jadi ancaman bagi King Kobra. Kemudian jaga jarak aman, gunakan tongkat untuk membuat ular memojok dan bersembunyi. Saat aman, menghindar dan bersembunyi saat menemui ular ini. Setelah itu hubungi pihak terkait untuk penanganan yang lebih professional.

King Kobra hidup di Asia Selatan dan Tenggara, kecuali kepulauan Little Andaman dan Mentawai. Ular ini ditemukan mulai dari Nepal, India, Cina bagian selatan, Indocina, Filipina, Malaysia, Brunei, hingga di Indonesia. Hutan lembap, rindang, semak belukar, dan liang bebatuan adalah habitat kesukaan King Kobra.

©2021 Merdeka.com/Subari

Meskipun tergolong ular terestrial, King Kobra dewasa mampu memanjat pohon. Dengan hutan yang panjang, terkadang ular ini mudah ditemui di semak semak semak. Ular ini sangat mudah ditemu saat musim pancaroba. Saat itu, King kobra memasuki musim kawin. Kobra betina mampu menghasilkan 12 hingga 60 butir telur.

Tak jarang, saat tertentu ular ini mudah ditemui. Areal perumahan yang dekat dengan semak belukar tak menutup kemungkinan dijamah Raja Kobra. Karenanya, harus selalu waspada dan turut menjaga habitat King Kobra.

Berisik yang Mematikan

Ular Derik, Hewan Melata Berisik yang Mematikan

Merdeka.com 2021-04-15 12:15:00
Ular Derik. ©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Umumnya, ular datang tanpa suara. Hening dan jarang terdengar geraknya. Namun tidak dengan hewan melata yang satu ini, ular derik. Hewan ini justru dikenal sebagai yang paling berisik di spesies ular.

Sesuai namanya, ular derik. Setiap bergerak, jenis ular yang masuk kedalam keluarga Pit Viper ini menghasilkan bunyi gemerincing dari ujung ekornya. Bunyi tersebut berasal dari zat tanduk kokoh berongga yang berupa segmen-segmen (ruas-ruas) di ujung ekor ular. Saat digetarkan akan menimbulkan suara yang keras.

Bunyi derik ini sebagai penanda agar musuh tidak mengganggunya. Terlihat unik dan menarik, ular derik atau rattlesnake merupakan salah satu spesies ular yang paling berbahaya. Hewan melata ini memiliki racun paling mematikan di antara banyak ular pada umumnya.

©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Ular derik memiliki gigi yang kuat di setiap rahang. Hewan yang besar panjangnya lebih dari 2,5 meter ini memiliki bisa yang mematikan. Sekali gigit, predator darat ini bisa melumpuhkan mangsanya. Racun yang mengandung hemotoxins ini mampu merusak sel darah merah.

Saat manusia digigit dari ujung taringnya, korban bisa langsung melemah. Sulit berbicara, bernapas dan penglihatan terasa kabur. Apabila korban gigitan ular derik tidak segera ditangani dan diberikan anti bisa akan berakibat pada kematian.

Oleh karena itu, harus segera diberi penangan khusus saat digigit ular derik ini. Kerusakan otot secara permanen bisa saja dialami oleh korban gigitan jika terlambat mendapatkan antibisa.

©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Meski begitu umumnya, mereka hanya menyerang jika benar-benar terjebak atau terancam. Jika merasa terganggu, ular ini membentuk tubuhnya seperti huruf 'S' dan menggetarkan ekornya, lalu menyerang pengganggunya.

Ular Derik paling banyak ditemukan di Amerika Tengah, Texas dan sekitarnya. Biasanya hidup di gurun atau padang rumput kering, tetapi beberapa spesies hidup di dekat perairan. Pada musim dingin, hewan melata ini seringkali ditemukan di bawah batu besar, lubang atau semacamnya. Namun, saat musim panas hewan berdarah dingin ini bisa ditemukan di antara tanaman gurun. Atau bahkan berjemur di tengah jalan.

©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Kendati demikian, ular Derik tidak bisa dijumpai di alam Indonesia. Pasalnya, bukan habitat asli mereka. Ular Derik bisa dijumpai pada pencinta reptil di Tanah Air. Biasanya corak yang ada di tubuh ular derik adalah berlian berwarna gelap, pita melintang, hingga corak menyerupai jajar genjang berwarna cerah seperti yang satu ini.

Kebanyakan dari spesies ular derik mampu bertahan hidup selama 10 hingga 25 tahun. Cukup lama ya?

©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Memiliki corak yang memukau, tak sedikit yang menilai ular derik sangat eksotis. Tak ayal, banyak orang yang memburu si hewan eksotis ini. Keberadaannya yang dianggap membahayakan membuat orang memilih membunuh ular ini saat bertemu.

Kini, keberadaan ular derik terancam punah. Populasi ular derik semakin menurun, mampu mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem di alam.


Ular Raksasa di Indonesia

Ular Raksasa dan Berbisa ini Berkembang Biak di Indonesia

Merdeka.com 2021-04-22 13:34:09
ular Cobra. ©The Telegraph

Indonesia dikenal karena keberagaman flora dan faunanya. Beberapa hewan yang berada di Indonesia, belum tentu ada di negara-negara lainnya. Salah satunya ular. Hewan melata ini dikenal berbahaya, berbisa maupun tidak berbisa.

Sudah banyak korban gigitan ular, termasuk seorang pawang ular sekalipun. Meskipun jinak, namun naluri ular untuk memangsa dan menyerang masih tetap ada. Beberapa ular yang berkembang di Indonesia juga dikenal sangat berbahaya dan cukup besar. Berikut ular-ular tersebut, seperti dikutip dari berbagai sumber:

Ular Piton Sanca Kembang (Python reticulatus)

©2018 Merdeka.com/Abdul Azis Rasjid

Ular Piton raksasa ditemukan di Mamuju Tengah, Sulawesi Selatan. Ular ini memiliki berat mencapai 158 kilogram, bahkan lebih besar dari orang desa. Menurut warga sekitar, ular ini kerap ditemukan di kebun sawit. Pada tahun 2011, ular piton raksasa juga ditemukan di sekitar warga dengan panjang hampir sembilan meter.

Ular Nabau

Selain Piton, ular Nabau juga menjadi yang terbesar di Indonesia. Ular Nabau banyak ditemukan di daerah Kalimantan dan memiliki panjang sekitar 80 meter.

Nabau berkepala naga dan memiliki tujuh lubang hidung ini dipercaya masyarakat sebagai makhluk mistik. Selain itu, masyarakat memang sering melihat ular-ular besar di sungai-sungai di Kalimantan.

Ular Kepala Merah

Tersebar di Bangka, Sumatera, Jawa, Billiton, Kalimantan, ular kepala merah jadi salah satu ular paling berbisa di Indonesia. Bisa neurotoksiknya kuat jika menyerang sistem saraf. Akibatnya, manusia atau mangsanya akan mati jika tidak ditangani.

Ular kepala merah juga merupakan spesies langka yang menghuni hutan dataran rendah, perbukitan dan daerah pegunungan rendah di bawah ketinggian 900 meter, ular ini jarang sekali dapat ditemukan di dekat tempat tinggal manusia. Tubuh bagian bawah berwarna putih pucat. Kepala agak tumpul berbeda dari tubuh, dan matanya relatif kecil.

Ular Anang atau King Cobra

©The Telegraph


King kobra juga berasal dari Indonesia. Ular ini tersebar di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Bangka, Bali, Kepulauan Mentawai dan Kepulauan Riau. Panjang ular ini mencapai sekitar 6 meter, dan menjadi ular berbisa terbesar di dunia. Sebuah gigitan dari ular ini dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat. Ular ini memiliki sifat pemalu dan lebih memilih menghindar dengan manusia.

Ular cerdas ini dapat ditemukan di berbagai habitat seperti hutan murni, hutan bakau, lahan pertanian, persawahan dan lingkungan pemukiman hingga ketinggian 2000 meter, dimana Kobra memburu mangsa utamanya yaitu ular lain, terutama ular tikus. King Cobra atau Ophiophagus memiliki arti 'pemakan ular. Walaupun terutama memangsa ular, dia juga akan memangsa kadal dan biawak kecil.

Pulau Ular, Tempat Paling Ngeri di Bumi

Mengenal Pulau Ular, Tempat Paling Berbahaya di Bumi

Merdeka.com 2021-04-22 13:42:26
Trimeresurus Insularis. ©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Pulau itu berdiri terasing di Samudera Atlantik. Dari jauh, perpaduan tebing karang dan hutan tropis kelihatan sangat indah. Siapa sangka di pulau itu hidup salah satu spesies paling berbahaya di muka bumi.

Orang lokal di Sao Paulo Brasil menyebutnya Ilha da Queimada Grande. Tapi dunia mengenalnya dengan sebutan Snake Island atau Pulau Ular.

Di sinilah hidup Bothrops insularis, atau si viper tombak emas. Namanya didapat karena kepala ular ini berwarna emas jika kena sinar matahari. Racunnya bisa membunuh manusia kurang dari satu jam.

Di pulau seluas 43 hektar ini hidup ribuan ular viper tersebut. Jika tak benar-benar awas, nyawa taruhannya.

"Dulu ada beberapa nelayan yang melihat pisang tumbuh di pulau ini. Mereka berlabuh di pulau untuk mengambilnya. Tapi tak ada yang pernah kembali," kata seorang nelayan Sao Paulo yang diwawancarai Vice dalam film dokumenter.

Di pulau itu terdapat sebuah mercusuar yang dibangun untuk menerangi perairan di Sao Paulo. Dulu sekali, ada penjaga yang tinggal di sana bersama keluarganya. Namun kabarnya ular membunuh mereka.

Kini mercusuar itu tetap ada. Hanya tak ada penjaga di sana. Meriam dijalankan otomatis dengan baterai. Setiap beberapa bulan sekali, angkatan laut yang bertugas mengganti baterai mercusuar itu. Bukan tugas yang menyenangkan untuk mereka.

Namun ternyata jumlah ular di sana terus berkurang. Selain persaingan sulitnya mencari makanan, disinyalir ada orang-orang yang sengaja menangkap viper kepala tombak yang langka itu untuk dijual. Harganya bisa ribuan dollar di pasar gelap.

Karina Rodrigues, seorang peneliti dari Butantan Institute memperkirakan jumlah ular viper di sana kini 'tinggal' 1.500 hingga 2.000 ekor

Tetap saja nama Pulau Ular membuat orang bergidik ngeri. Hanya ilmuwan, angkatan laut atau penyelundup satwa yang berani menginjakan kaki di sana.