Volume 39

Hati-Hati Hoaks Resep Obat Covid-19

CEK FAKTA: Hoaks Resep Obat untuk Pasien Covid-19

Merdeka.com 2021-06-24 18:45:00
Ilustrasi obat. shutterstock

Informasi menuliskan resep obat untuk pasien Covid-19 beredar di media sosial. Informasi itu menuliskan berbagai jenis obat beserta dosisnya.

"Kalau ada yg kena covid tidak perlu panik dan tidak harus ke RS kalau memang tidak terlalu parah sesak napas sampai perlu ICU dan ventilator, karena saat ini RS khusus covid semua penuh.

Bisa diobati sendiri, obat di RS untuk pasien covid seperti ini:
- Antibiotik:
azitromycin atau zitrothromax 500 mg diminum 10 hari
- Antivirus:
fluvir 75
- Anti batuk dan kluarin dahak:
fluimucil 200mg
- Anti radang:
Dexamethasone 0,5
- Turun panas:
Paracetamol, sanmol
- jgn panik dan Stress.

Untuk jaga imun diatas 55 thn
Tetap hrs minum multi vitamin C 1000 mg .
D 5000 Iu .
E 400 Iu .
Zinc zat (besi )dan usahakan berjemur matahari pagi hari setidaknya 15 menit.

Lianghua sangat bagus untuk membantu meredakan gejala spt batuk dan sesak napas diminum 3x4 kapsul sehari"

Penelusuran

Dari hasil penelusuran merdeka.com, dosis dan obat-obatan yang beredar belum tentu benar. Dalam artikel detik.com berjudul "Viral daftar obat untuk pasien Covid-19, ini pesan dokter paru" pada 29 Desember 2020, dijelaskan bahwa pemakaian obat tidak bisa sembarang tanpa resep dokter.

Dokter spesialis paru sekaligus Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI), dr Erlang Samoedro, SpP(K) mengatakan pemberian obat, meski pada pasien tanpa gejala, tetap harus dalam pengawasan medis. Obat harus diberikan sesuai kondisi pasien untuk mengurangi risiko efek samping penggunaannya.

"Sebaiknya atas indikasi dan pengawasan medis karena banyak efek samping yang harus dipantau," katanya saat dihubungi detikcom, Selasa (29/12/2020).

"Banyak gangguan liver, ginjal, makanya perlu pengawasan dan sesuai indikasi," lanjutnya.

Kesimpulan

Informasi resep obat untuk pasien Covid-19 beserta dosisnya adalah hoaks. Sebab pemberian jenis obat dan dosisnya harus melalui resep dari dokter dan tidak bisa sembarang.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

BPOM Belum Izinkan Ivermectin Obat Terapi Covid

Kepala BPOM Tegaskan Belum Ada Izin Ivermectin Sebagai Obat Terapi Covid

Merdeka.com 2021-07-15 19:00:17
Kepala BPOM Jelaskan Produk Obat Mengandung Ranitidin. ©2019 Liputan6.com/Faizal Fanani

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito menegaskan belum ada izin penggunaan darurat Ivermectin sebagai obat terapi Covid-19. Penegasan ini sebagai penjelasan atas Surat Edaran BPOM tentang Pelaksanaan Distribusi Obat dengan Persetujuan Penggunaan Darurat.

Dihubungi merdeka.com, Kamis (15/7), Penny mengatakan tujuan penerbitan Surat Edaran dengan Nomor: PW.01.10.3.34.07.21.07 Tahun 2021 itu agar produsen dan distributor obat-obat yang digunakan untuk pengobatan Covid-19 selalu melaporkan telah mendistribusukan obatnya ke mana saja.

Ada delapan daftar obat yang mendukung penanganan terapi Covid-19, dan harus ada laporan distribusinya. Daftar obat tersebut adalah obat yang mengandung;

1. Remdesivir
2. Favipiravir
3. Oseltamivir
4. Immunoglobulin
5. Ivermectin
6. Tocilizumab
7. Azithromycin
8. Dexametason (tunggal)

"Obat-obat tersebut ada 2 yang punya EUA yaitu Remdesivir dan Favipiravir," ucap Penny.

"Kalau Ivermectin adalah obat uji untuk pengobatan Covid-19, karena sekarang sedang menjalani uji klinik," sambungnya.

Penny mengatakan, Ivermectin bisa digunakan untuk pengobatan Covid-19 melalui uji klinik di 8 rumah sakit. Dan saat ini, imbuhnya, uji klinik diperluas di rumah sakit yang sudah mendapat izin dari Kementerian Kesehatan.

Perluasan uji klinik, kata Penny, sesuai Perka Badan POM yang baru tentang Perluasan Akses untuk obat uji seperti Ivermectin, dengan resep dokter dan terapi atau dosis dan pemberian sesuai dengan uji klinik.

Obat Antivirus & Antibiotik Sulit Didapat

Jokowi Telepon Menkes Usai Sidak: Saya Cari Obat Antivirus & Antibiotik Enggak Ada

Merdeka.com 2021-07-23 22:10:00
Presiden Jokowi Sidak Apotek di Bogor. ©2021 Merdeka.com

Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung menghubungi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin setelah mengetahui obat Oseltamivir dan Favipiravir yang kosong di apotek. Jokowi siang tadi memang sempat mendadak berkunjung ke Apotek Villa Duta di Bogor, Jawa Barat.

"Halo Pak Menteri selamat sore, ini saya cek ke apotek, apotek di Bogor saya cari obat anti virus Oseltamivir enggak ada, cari lagi obat antivirus yang Favipiravir juga enggak ada, kosong. Saya cari obat yang antibiotik Acetromicin juga enggak ada," katanya saat menelepon Menkes Budi saat dilihat di tayangan youtube Sekretariat Presiden, Jumat (23/7).

"Baik kami cek ya," jawab Budi.

Jokowi mengatakan, stok obat anti virus tersebut sudah kosong seminggu lebih. Kepala Negara hanya mendapatkan sebuah multivitamin.

"Stok enggak ada sudah seminggu lebih, terus vitamin D3 juga yang 5000IU juga enggak ada, ini saya yang dapat hanya multivitamin yang mengandung zinc, hanya itu," kata Jokowi.

"Suplemen juga suplemen ini D3-nya ada tapi hanya yang 1000IU hanya dapat ini aja, kemudian yang suplemen yang kombinasi multivitamin ada, jadi yang lain lain yang obat anti virus, antibiotik enggak ada semuanya," ungkap Jokowi.

©2021 Merdeka.com

"Di kota Bogor ya pak? mohon maaf ya pak," tanya Budi.

"Iya iya, ini apoteknya di Villa Duta," ucap Jokowi.

Budi lalu menjelaskan kepada Jokowi soal ketersediaan obat anti virus tersebut. Dia menjabarkan sejumlah apotek yang menjual obat itu.

"Karena saya ada catatan Pak Presiden kita kan sudah ada yang online, saya barusan cek ya pak, misalnya untuk Favipiravir di apotek Kima Farma Tajur Baru ada 4.900," ucapnya.

"Apotek Kimia Farma Juanda 30 ada 4.300, Kimia Farma di Semplal Bogor ada 4.200 jadi nanti saya double cek, nanti saya kirim ke ajudan bapak itu ada data online yang ada di rumah sakit, itu bisa dilihat by kota segala macam, untuk apoteknya Kimia Farma, Century, Guardian, K24," papar Budi.

"Di situ ada semuanya?," tanya Jokowi.

"Ada, online. Bisa dibaca oleh semua rakyat pak," jawab Budi.

"Oke saya ke sana aja, saya beli itu coba ada enggak," ujar Jokowi.

"Nah boleh pak," kata Budi.

"Oke Pak Menkes terima kasih," tutup Jokowi.

Impor Obat Covid-19 Akan Tiba Agustus 2021

Menkes Budi Sebut Obat Remdesivir, Actemra, Gammaraas akan Tiba Juli dan Agustus

Merdeka.com 2021-07-26 16:20:36
Kemenkes Terima 500 Ton Oksigen dari Industri Nikel di Morowali. ©ANTARA/HO

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan terdapat tiga jenis obat terapi Covid-19 yang akan didatangkan dari negara lain. Tiga obat tersebut yaitu remdesivir, actemra dan gammaraas.

"Ini adalah obat-obatan yang di seluruh dunia juga sedang short supply karena semua orang sedang membutuhkan obat-obat ini. Saya sampaikan bahwa rencananya remdesivir Juli ini akan datang, kita bisa impor 150.000, dan Agustus kita akan impor 1,2 juta," kata Budi dalam konferensi pers di chanel Youtube Sekretariat Presiden, Senin (26/7).

Sementara itu, kata Budi, saat ini Indonesia sedang berusaha memproduksi remdesivir di dalam negeri. Dia berharap upaya tersebut dapat dilakukan.

"Ya doakan mudah-mudahan itu bisa segera terjadi," ujar dia.

Kemudian untuk Actemra, ujar dia, pada Juli ini Indonesia akan kedatangan 1.000 vial. Lalu pada Agustus akan mengimpor 138.000 (vial) dari negara-negara yang tidak membahayakan akan impor.

"Kita cari ke seluruh pelosok dunia mengenai Actemra ini," ungkapnya.

Selanjutnya Gammaraas, pemerintah akan impor 26.000 pada Juli dan akan impor lagi 27.000 di Agustus. Dia menjelaskan obat-obatan tersebut akan datang secara bertahap Agustus.

"Kita harapkan sudah lebih baik distribusinya kita bekerjasama dengan GP farmasi, terima kasih dengan teman-teman GP Farmasi mereka juga sudah sadar ini bukan masalah harga lagi, ini adalah masalah distribusinya dan mereka akan membantu kita mendistribusikan ke sekitar 12 ribu Apotek aktif di Indonesia," kata dia.

Sebelumnya, pemerintah terus mengusahakan kebutuhan obat untuk menangani pasien Covid-19. Terdapat tiga obat yang hingga kini stoknya menipis yaitu Remdesivir dari India, Gammaraas, dan Actemra produksi perusahaan farmasi Roche di Swiss.

"Jadi 3 obat impor itu yang sekarang sedang kita terus kejar agar bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Jumat (16/7).

Dia menjelaskan, untuk mengejar kebutuhan obat Remdesivir pihaknya perlu melakukan impor dari India, Pakistan, dan China. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat ini sudah berusaha agar bisa membuka kembali kran ekspor. Sehingga minggu ini Indonesia akan kedatangan 50 ribu vial untuk mencukupi kebutuhan obat Remdesivir.

"Minggu ini akan datang sekitar 50 ribu vial dan nantinya akan bertahap setiap minggunya," ujarnya

Kementerian Kesehatan juga akan mendatangkan obat Gammaraas dari China sebanyak 30 ribu vial. Tetapi kebutuhan tersebut belum bisa tercukupi, sehingga Kementerian Luar Negeri akan melakukan lobi-lobi dengan China.

"Kita juga mencari obat yang namanya Gammaraas itu merek dagang dari kategori obat yang dikenal dengan grup IV IG ini produksinya ada di Cina, kita juga membutuhkan cukup banyak dan sekarang kita sudah bisa mendatangkan sekitar 30 ribu vial," ungkapnya.

Kemudian untuk Actemra, kata Budi, pemerintah juga sudah melobi CEO Roche. Walaupun kata dia, hingga saat ini kebutuhan global suplai sangat ketat, sehingga dengan stok yang ada saat ini masih jauh dari yang diharapkan.

"Kita mencari beberapa alternatif obat yang mirip dengan produk Actemra ini dari Amerika Serikat karena kebetulan AS pada saat gelombang I dan kedua memiliki stok obat yang cukup banyak. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa membawa ke Indonesia alternatif yang mirip dengan Actemra," tutupnya.

Favipiravir Jadi Obat Antivirus

Menkes: Favipiravir Gantikan Oseltamivir Jadi Obat Antivirus

Merdeka.com 2021-07-26 14:34:39
Budi Gunadi Sadikin. ©2020 Merdeka.com

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan obat Favipiravir dapat dikonsumsi masyarakat sebagai obat antivirus. Dia menjelaskan Favipiravir akan menggantikan peran obat Oseltamivir sebagai antivirus.

"Favipiravir ini akan mengganti oseltamivir sebagai obat antivirus. Kalau azitromisin tadi antibiotik, favipiravir ini masuk kategori anti virus," kata Budi saat konferensi pers di akun Youtube Sekretariat Presiden, Senin (26/7).

Dia menjelaskan obat tersebut pun sudah dikaji oleh para dokter di Indonesia. Mereka kata dia menganjurkan agar antivirus digunakan Favipiravir.

"Oleh dokter-dokter ahli 5 profesi di Indonesia sudah mengkaji dampaknya terhadap mutasi virus delta ini, mereka menganjurkan agar antivirusnya digunakan favipiravir," ungkapnya.

Dia pun berharap pada Agustus sudah memiliki stok kapasitas produksi dalam negeri 2 hingga 4 juta tablet per hari. Hal tersebut kata dia bisa memenuhi kebutuhan.

"Diharapkan nanti di bulan Agustus kita sudah punya kapasitas produksi dalam negeri antara 2 sampai 4 juta tablet per hari yang bisa memenuhi kebutuhan," ungkapnya.

Favipiravir Obat Keras, Harus Pakai Resep

Epidemiolog Tegaskan Favipiravir Obat Keras, Khawatir Dijual Bebas Tanpa Resep

Merdeka.com 2021-07-26 19:38:49
ilustrasi obat. ©www.sundaynews.co.zw

Kementerian Kesehatan mengumumkan Favipiravir akan menggantikan peran Oseltamivir sebagai obat anti virus. Epidemiolog Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia, dr Pandu Riono menegaskan Favipiravir tidak boleh dijual tanpa resep dokter. Dia khawatir obat itu dijual bebas di apotek.

"Kalau pakai resep dokter (tidak masalah), yang berbahaya kalau orang bisa beli bebas. Karena itu bukan obat bebas, itu obat keras," katanya saat dihubungi, Senin (26/7).

"Setiap obat keras, antibiotik dan macam macam itu tidak bisa dibeli tanpa resep dokter," ujarnya.

Selain itu, Pandu juga tidak setuju paket obat dan vitamin gratis yang didistribusikan kepada masyarakat bagi orang tanpa gejala (otg) maupun gejala ringan yang sedang isoman.

Menurutnya, paket distribusi obat maupun vitamin kepada masyarakat tidak tepat. Termasuk jika di dalamnya ada Favipiravir.

"Obat itu harusnya ditaruh dipelayanan kesehatan atau di apotek jadi belinya itu pengawasan dokter. Kalau dia dirawat harus dapet obat ya boleh kan obat itu diberikan dokternya, di awasi, kalau ada apa-apa bisa di stop," jelasnya.

"Kalau otg gak usah dikasih vitamin kenapa sih. Ya gak perlu emang dia kekurangan vitamin? istirahat, isoman, otg itu tidak perlu obat sama sekali. (gejala) ringan itu saya masih berbeda pendapat sama dokter. Dokter ingin tetap dikasih obat, kalau saya gak perlu kecuali kalau dia dirawat," ujarnya.

Pandu menambahkan, bahwa obat Favipiravir memang dimasukkan dalam pedoman 5 profesi dokter-dokter ahli karena obat itu dianggap masih dibutuhkan. Tetapi, Pandu tetap punya pandangan lain.

"Kalau saya pribadi tidak setuju kalau selama dia tidak dirawat. Kecuali kalau dirawat, kalau dirawat dokter bisa memberikan (Favipiravir) bisa mengawasi," kata Pandu.

Diberitakan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan obat Favipiravir dapat dikonsumsi masyarakat sebagai obat antivirus. Dia menjelaskan Favipiravir akan menggantikan peran obat Oseltamivir sebagai antivirus.

"Favipiravir ini akan mengganti oseltamivir sebagai obat antivirus. Kalau azitromisin tadi antibiotik, favipiravir ini masuk kategori anti virus," kata Budi saat konferensi pers di akun Youtube Sekretariat Presiden, Senin (26/7).

Dia menjelaskan obat tersebut pun sudah dikaji oleh para dokter di Indonesia. Mereka kata dia menganjurkan agar antivirus digunakan Favipiravir.

"Oleh dokter-dokter ahli 5 profesi di Indonesia sudah mengkaji dampaknya terhadap mutasi virus delta ini, mereka menganjurkan agar antivirusnya digunakan favipiravir," ungkapnya.

Dia pun berharap pada Agustus sudah memiliki stok kapasitas produksi dalam negeri 2 hingga 4 juta tablet per hari. Hal tersebut kata dia bisa memenuhi kebutuhan.

"Diharapkan nanti di bulan Agustus kita sudah punya kapasitas produksi dalam negeri antara 2 sampai 4 juta tablet per hari yang bisa memenuhi kebutuhan," ungkapnya.

Favipiravir Bisa Digunakan Pasien Gejala Ringan

Mengenal Favipiravir, Obat yang Ditemukan China Buat Sembuhkan Virus Corona

Merdeka.com 2020-02-21 14:26:00
aktivitas pasien corona di rumah sakit darurat. ©2020 AFP PHOTO/STR

Para peneliti akhirnya menemukan obat untuk menyembuhkan pasien virus corona. Obat-obat itu tentu saja sudah melakukan uji coba terhadap sejumlah pasien virus corona. Obat itu menunjukkan hasil yang cukup memuaskan dalam melawan virus corona dan pasien dengan gejala ringan.

Sebelumnya, sejumlah obat dipercaya bisa menyembuhkan corona, seperti obat HIV dan obat flu. Kemudian, sejumlah pasien juga mengaku diberikan vitamin kekebalan tubuh, agar tak mudah terinfeksi virus corona. Meski begitu, penelitian di bidang farmasi untuk mengatasi virus corona masih terus dilakukan.

Pil Buatan Pfizer Bisa Halangi Virus Berkembang

Pfizer Ciptakan Pil untuk Obati Covid-19, Mulai Diuji Coba Pada Manusia

Merdeka.com 2021-03-24 17:09:00
Vaksin Covid-19 buatan Pfizer. ©REUTERS/Dado Ruvic

Pfizer menyampaikan pihaknya mulai melakukan uji coba pada manusia terhadap pil yang diciptakan untuk mengobati Covid-19, yang bisa digunakan saat muncul gejala pertama penyakit tersebut.

Jika uji coba berhasil, pil ini bisa digunakan saat infeksi awal untuk menghalangi virus berkembang biak sebelum pasien bertambah parah. Pil ini mengikat enzim yang disebut protease untuk mencegah virus berkembang biak. Obat penghambat protease telah berhasil mengobati jenis virus lain, termasuk HIV dan hepatitis C.

“Mengingat cara Sars-CoV-2 bermutasi dan dampak global Covid-19 yang berkelanjutan, tampaknya sangat penting untuk memiliki akses ke pilihan pengobatan baik sekarang maupun setelah pandemi,” jelas Kepala Bidang Ilmiah Pfizer, Mikael Dolsten, dalam sebuah pernyataan, dilansir South China Morning Post, Rabu (24/3).

Dalam sebuah wawancara, Dolsten mengatakan sejauh ini tidak ada masalah tak terduga yang terlihat dalam penelitian tersebut dan dapat memberikan hasil dalam beberapa pekan ke depan.

Pil ini adalah obat kedua Covid-19 yang diuji coba Pfizer pada manusia. Pfizer juga sedang menguji obat lain yang diberikan secara intravena kepada pasien Covid yang dirawat di rumah sakit.

Di antara perusahaan farmasi besar, Merck & Co juga memiliki pil virus corona yang sudah banyak diuji pada manusia. Obat antivirus eksperimental molnupiravir itu bekerja dengan mekanisme yang berbeda dari pil Pfizer dan sedang dalam uji coba tahap akhir pada manusia.


Miliki beberapa manfaat

Dolsten mengatakan, jika semua berjalan lancar, Pfizer dapat memulai uji coba fase 2, fase 3 gabungan yang jauh lebih besar di awal kuartal kedua 2021 yang berpotensi memungkinkan pihaknya mengajukan izin penggunaan darurat ke Badan Pengawas Obat dan Makanan AS atau FDA pada akhir tahun ini.

Obat tersebut kemungkinan akan diberikan dua kali sehari selama sekitar lima hari.

Sementara pengujian kemanjuran awal akan difokuskan pada orang dengan infeksi awal, Pfizer juga berencana untuk mengeksplorasi apakah obat tersebut ampuh untuk melindungi orang sehat yang telah terpapar virus corona, seperti anggota keluarga atau teman sekamar yang tinggal dengan seseorang yang sakit.

Dolsten mengatakan obat dengan kode PF-07321332 ini memiliki beberapa manfaat. Dalam uji laboratorium, obat ini ampuh melawan banyak jenis virus corona, termasuk SARS dan MERS.

Dia mengatakan, protease virus corona tidak banyak bermutasi, yang berarti obat tersebut kemungkinan ampuh melawan berbagai varian virus corona.

Dolsten mengatakan, secara teori, protease inhibitor juga dapat dikombinasikan dengan obat antivirus lain, seperti yang dikembangkan Merck.

Pfizer mengatakan pihaknya berencana untuk membagikan lebih banyak data terkait hal ini pada pertemuan American Chemical Society pada 6 April.

Baca juga:
CEK FAKTA: Hoaks Vaksin Covid-19 Bisa Mengakibatkan Kemandulan
Lansia di Jepang Meninggal Beberapa Hari Setelah Disuntik Vaksin Pfizer
Satu Dosis Vaksin Pfizer Bisa Kurangi Risiko Infeksi Covid-19 Sampai 72 Persen
Penelitian Israel: Suntikan Pertama Vaksin Pfizer-BioNTech 85 Persen Efektif
Penelitian Lab: Vaksin Pfizer & Moderna Bisa Melindungi dari Varian Baru Virus Corona
Korea Selatan Tuding Korea Utara Berusaha Retas Info Vaksin Pfizer

Remdesivir Mampu Serang Virus di dalam Tubuh

Begini Cara Kerja Obat Covid-19 Remdesivir di Dalam Tubuh Melawan Virus Corona

Merdeka.com 2020-10-06 07:16:00
Corona. Unsplash ©2020 Merdeka.com

Pada 1 Mei 2020, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menerbitkan pengesahan penggunaan darurat remdesivir, obat percobaan anti virus. Dengan adanya otorisasi ini, dokter di AS diizinkan menggunakan obat tersebut untuk mengobati pasien dengan kasus Covid-19 parah.

Remdesivir bukan hal baru. Awalnya obat ini dikembangkan untuk mengobati Hepatitis C dan RSV, virus yang menyebabkan infeksi paru-paru.

Dikutip dari TIME, Senin (5/10), Remdesivir juga diteliti untuk mengobati Ebola termasuk SARS dan MERS—dua virus corona lain yang menginfeksi manusia yang mirip seperti virus yang menyebabkan Covid-19.

Tak pernah mencapai tahap persetujuan untuk penggunaan obat ini, tetapi selama empat bulan terakhir, para ilmuwan yang sangat membutuhkan pilihan untuk membantu mengurangi pandemi virus corona telah mencari obat-obatan lama yang dapat digunakan kembali. Remdesivir menempuh jalur yang belum pernah terjadi sebelumnya menuju pengesahan, menjadi salah satu terapi paling menjanjikan melawan Covid-19 hingga saat ini.

Remdesivir bukan vaksin, sehingga tak bisa mencegah infeksi; namun, obat bekerja dengan menyerang virus setelah ia menyebar ke dalam tubuh.

Berikut ini gambaran bagaimana virus Covid-19 menyebar di tubuh manusia, dan bagaimana Remdesivir menghentikan proses itu.

Langkah 1: Virus memasuki sel

Virus tidak dapat berkembang biak tanpa menggunakan mesin pembuat protein sel. Jadi, pertama-tama mereka perlu masuk ke sel yang sehat. Virus corona, seperti yang menyebabkan Covid-19, memiliki cangkang protein runcing yang memungkinkannya mengikat sel.

©TIME