Volume 41

Varian Baru Covid Pengaruhi Efikasi Vaksin

Satgas Sebut Varian Baru Covid-19 Pengaruhi Efikasi Vaksin

Merdeka.com 2021-06-02 08:17:40
Pelaku UMKM jalani vaksinasi Covid-19 di Mal Ciputra. ©2021 Merdeka.com/Imam Buhori

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyatakan, varian baru Covid-19 dapat mempengaruhi efikasi vaksin Covid-19. Menurutnya, varian Covid-19 hingga saat ini terus bermutasi dan berdasarkan Whole Genom Sequencing (WGS) terdeteksi sebarannya hampir di seluruh pulau di Indonesia dan didominasi Pulau Jawa.

World Health Organization (WHO) menyatakan sejauh ini varian utama terdeteksi yakni B117 (Inggris), B1351 (Afrika Selatan), B11281 atau P1 (Brazil/Jepang) dan B1617 dari India dan mempengaruhi efikasi vaksin.

"WHO berdasarkan studi yang dilakukan beberapa peneliti, menyatakan beberapa varian memiliki pengaruh yang sedikit hingga sedang terhadap angka efikasi tiap vaksin pada kasus positif dengan varian tertentu," kata Wiku dalam keterangan tertulisnya, Selasa (1/6).

Pada pengaruh efikasinya, varian B117 mempengaruhi vaksin AstraZaneca. Varian B1351 mempengaruhi vaksin Moderna, Prfizer, AstraZaneca dan Novavac. Sedangkan varian P1 mempengaruhi efikasi Moderna dan Pfizer. Dan untuk varian B1617 mempengaruhi Moderna dan Pfizer.

Wiku mengungkapkan, hal ini disebabkan, vaksin yang ada masih menggunakan virus atau original varian yang ditemukan di Wuhan, China.

Meski demikian, WHO juga menyatakan bahwa pengaruh varian terhadap efikasi masih bersifat sementara. Dan masih bisa berubah tergantung hasil studi lanjutan yang sedang dilakukan.

Dan perubahan efikasi tidak menurunkan efikasi vaksin di bawah 50 persen yang menjadi ambang batas minimal yang ditolerir WHO untuk sebuah produk vaksin yang layak. Bahkan beberapa vaksin diantaranya masih memiliki efikasi di atas 90 persen.

Wiku menjelaskan, untuk mengantisipasi hal ini, perlunya dilakukan berbagai solusi secara paralel dan secara kolektif. Di antaranya, pertama mengefektifkan testing dan karantina pelaku perjalanan demi menekan bertambahnya varian yang masuk. Karena saat ini yang terdeteksi berdasarkan WGS ialah 4 dari 8 varian akibat mutasi Covid-19.

Kedua, menggiatkan WGS secara komplit untuk mengetahui distribusi secara tepat, dan dapat menjadi dasar kebijakan pengendalian yang spesifik sesuai risiko per daerah.

Ketiga, penegakan protokol kesehatan di semua sektor dan kini kegiatan demi menurunkan peluang kemunculan varian baru atau gabungan dengan kasus-kasus yang ada di Indonesia. Karena pada prinsipnya, mutasi akan menjadi lebih masif, saat penularan di masyarakat juga tinggi.

Keempat, melanjutkan vaksinasi. Karena vaksin yang digunakan saat ini masih tergolong efektif. Baik untuk mencegah penyakit, maupun menghindari gejala parah pada kasus positif.

Wiku juga memohon kepada seluruh pemimpin daerah, petugas di lapangan untuk kembali mengevaluasi kebijakan yang diterapkan. Karena solusi-solusi tersebut tidak akan efektif jika tidak ada kekompakan dalam menjalankannya.

Menurutnya perlu ditanamkan keyakinan terhadap kemampuan bangsa untuk sukses mengendalikan Covid-19. Dan sangat berarti dari setiap usaha kecil dan sesederhana seperti memakai masker saat keluar rumah, hingga upaya berskala besar seperti vaksinasi.

"Semua adalah pahlawan dengan caranya masing-masing. Maka berkontribusilah terhadap pengendalian Covid-19 dengan kemampuannya masing-masing," pungkas Wiku.

Reporter: Yopi Makdori
Sumber: Liputan6.com

Efikasi Turun, Vaksin Masih Beri Perlindungan

Kemenkes: Imun Vaksin Sinovac Turun usai 6 Bulan, Tapi Masih Beri Perlindungan

Merdeka.com 2021-07-29 09:27:42
Vaksinasi Pelajar Tangsel. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Jubir Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi mengakui imunogenisitas atau hasil kadar imun vaksin Sinovac turun 6 bulan usai seseorang disuntik penuh vaksin tersebut. Namun, ia mengatakan vaksin Sinovac masih tetap memberikan perlindungan.

"Memang dari hasil monitoring 6 bulan terlihat ada penurunan titter antibodi tetapi ini masih memberikan perlindungan, tetap memberikan perlindungan," katanya lewat pesan, Kamis (29/7).

Saat ini pun pemerintah tengah menggencarkan vaskinasi dosis pertama dan kedua bagi 208 juta penduduk RI. Hal ini, kata Nadia, seperti rekomendasi World Health Organization (WHO) agar tercipta kekebalan kelompok.

"WHO sendiri tetap merekomendasikan untuk percapatan vaksinasi yang mendapatkan dosis 1 dan 2 di tengah keterbatasan vaksin dibandingkan pemberian vaksin ke 3," ucapnya.

"Karena semakin banyak orang yang telah mendapatkan vaksin lengkap dua dosis maka laju penularan dan pandemi dapat dikendalikan," tambah Nadia.

Nadia memastikan hingga saat ini belum diperlukan untuk memberikan booster vaksin corona kepada masyarakat umum. Seperti tenaga kesehatan yang divaksinasi ketiga.

"Belum perlu (masyarakat umum) sampai saat ini," pungkasnya.

WHO: Vaksin Efektif Lawan Covid-19

WHO: Dunia Sulit Menang Lawan Varian Delta, Tapi Vaksin Masih Efektif

Merdeka.com 2021-08-01 12:33:58
Direktur WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. ©2020 AFP PHOTO/CHRISTOPHER BLACK/WORLD HEALTH ORGANIZATION

Badan Kesehatan Dunia (WHO) dua hari lalu mengatakan dunia sulit menang melawan virus corona varian Delta yang sangat mudah menular tapi vaksin yang ada saat ini masih efektif melawan varian tersebut.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Amerika Serikat (CDC) menyebut varian Delta sebagai virus yang mudah menular seperti penyakit cacar dan memperingatkan bahwa dampaknya bisa sangat parah, demikian menurut laporan dokumen CDC yang dikutip the Washington Post dan dilansir laman Al Arabiya, Jumat (30/8).

Penularan Covid-19 kini meningkat hingga 80 persen dalam empat pekan terakhir di berbagai belahan dunia, kata Direktur Jenderal WHo Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Kematian di Afrika, wilayah yang baru 1,5 persen dari populasinya sudah divaksin--meningkat 80 persen dalam periode yang sama.

"Keberhasilan yang sudah dicapai kini terancam atau bahkan lenyap, sistem kesehatan di banyak negara kini kewalahan," kata Tedros dalam jumpa pers.

Varian Delta kini terdeteksi di 132 negara dan menjadi varian dominan, kata WHO.

"Vaksin yang ada dan sudah disetujui WHO memberikan perlindungan signifikan terhadap sakit berat dan perawatan di rumah sakit dari semua varian, termasuk varian Delta," ujar pakar kedaruratan WHO Mike Ryan.

"Kita menghadapi virus yang sama tapi virus itu menjadi lebih cepat dan lebih baik dalam beradaptasi untuk menulari manusia, itulah perbedaannya," kata dia.

Maria van Kerkhove, kepala teknis WHO dalam penanganan Covid-19 mengatakan varian Delta sekitar 50 persen lebih menular ketimbang varian awalnya yang pertama muncul di China akhir 2019.

Vaksin di Indonesia Masih Ampuh Lawan Varian Delta

Satgas Sebut Vaksin Covid-19 di RI Masih Efektif Lawan Varian Delta

Merdeka.com 2021-06-15 15:50:39
Juru bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito. ©2020 Merdeka.com

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengatakan, vaksin Covid-19 yang ada di Indonesia masih efektif melawan varian baru B16172 Delta. Efikasi vaksin Covid-19 yang digunakan saat ini berada di atas 50 persen.

"Tentunya secara keseluruhan sekarang masih memiliki karena efektivitas di atas 50 persen masih terpenuhi," katanya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BNPB Indonesia, Selasa (15/6).

Meski demikian, sambung Wiku, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas vaksin Covid-19 bagi penerimanya.

"Tentunya penelitian lebih lanjut harus terus dilakukan, dimonitor agar betul-betul vaksin yang digunakan adalah memang vaksin yang efektif," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Kesehatan melaporkan telah menemukan 145 kasus varian baru Covid-19 di 12 provinsi. Temuan 145 kasus ini berdasarkan hasil pemeriksaan dan analisis terhadap 1.989 sekuens genom virus SARS-CoV-2.

Dari temuan 145 kasus varian Covid-19, sebaran terbanyak ada di Jawa Tengah mencapai 76. Kemudian disusul DKI Jakarta 48, Sumatera Selatan 4, Kalimantan Timur 3, Kalimantan Tengah 3, Jawa Timur 3, Jawa Barat 2, Sumatera Utara 2, Kalimantan Selatan 1, Bali 1, Riau 1 dan Kepulauan Riau 1.

Jika dilihat dari varian Covid-19 yang paling mendominasi adalah B16172 Delta, mencapai 104 kasus. Varian ini paling banyak ditemukan di DKI Jakarta dan Jawa Tengah.

Sementara varian B117 Alfa sebanyak 36 kasus, ditemukan paling banyak di DKI Jakarta. Adapun varian B1351 Beta sebanyak 5 kasus, ditemukan paling dominan juga di DKI Jakarta.

Indonesia sendiri tengah menggunakan tiga merek vaksin Covid-19, yakni Sinovac buatan Sinovac Biotech Ltd asal China. Sinopharm hasil produksi China National Pharmaceutical Group. Kemudian AstraZeneca buatan Universitas Oxford, Inggris.

Belum Perlu Vaksin Dosis Ketiga untuk Masyarakat

Vaksin Booster, Perlukah Masyarakat Dapat Vaksin Dosis Ketiga?

Merdeka.com 2021-07-28 11:00:00
Antusiasme lansia ikuti vaksinasi Covid-19. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Saat ini banyak beredar informasi terkait suntikan vaksin ketiga yang berfungsi menambah jumlah antibodi guna melawan paparan virus corona atau bisa disebut vaksin booster. Perlukah vaksin booster untuk masyarakat umum?

Vaksinolog dr.Dirga Sakti Rambe, M.Sc, Sp.PD menyebut saat ini baru tenaga kesehatan (nakes) yang dianggap perlu mendapatkan suntikan vaksin dosis ketiga atau booster. Hal itu lantaran nakes merupakan garda terdepan yang kemungkinan terpapar virus sangat tinggi. Mereka inilah yang merawat pasien-pasien Covid 19 untuk bisa kembali pulih alias negatif.

Penerimaan vaksin booster sendiri bukanlah sebagai pengganti dosis kedua. Tujuan dosis ketiga ini adalah untuk menambahkan antibodi pada vaksin sebelumnya. “Jika seseorang yang ingin mendapatkan vaksin booster, harus melengkapi dulu primary series-nya, sebanyak dua kali," ujar dr. Dirga dalam Virtual Class Cek Fakta Liputan6.com yang digelar Selasa (27/7).

Sementara masyarakat umum, menurut dr. Dirga belum perlu mendapatkan dosis ketiga sebagai booster. Sebab, Indonesia masih fokus untuk memperluas cakupan vaksinasi di Indonesia.

Saat ini, penerima vaksin di Indonesia masih jauh dari target untuk mencapai herd immunity. “Daripada satu orang mendapatkan vaksin tiga kali atau empat kali tapi masih banyak orang di sekitarnya belum vaksin, hal ini membuat manfaatnya kurang,” ungkapnya.

Maka itu, sampai saat ini anjuran di Indonesia adalah melakukan sebanyak dua kali untuk mencapai antibodi yang optimal menghadapi Covid 19. Pemerintah sudah membuka area vaksinasi secara luas walaupun masih terhalang karena ada masalah distribusi dan stok vaksin.

Bagi Anda yang sudah melaksanakan dua kali vaksinasi, protokol kesehatan tetap harus dilaksanakan secara disiplin untuk terhindar dari Covid-19. Gunakanlah masker dobel agar terhindar dari mutasi virus corona terbaru seperti varian Delta dan Delta Plus.

Sumber: Liputan6.com

Imunogenitas Vaksin Sinovac 99% Sampai 3 Bulan

BPOM: Imunogenitas Vaksin Sinovac 99 Persen Sampai Tiga bulan

Merdeka.com 2021-01-14 19:53:59
Hari pertama vaksinasi Covid-19 untuk tenaga kesehatan. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito menjawab isu efikasi vaksin Covid-19 Sinovac yang dianggap rendah. Menurut Penny, sebaiknya tidak hanya dilihat dari efikasi, tetapi juga imunogenitas dari vaksin tersebut.

Penny mengatakan, berdasarkan uji klinik ketiga di Bandung, vaksin Sinovac memiliki imunogenitas yang sangat tinggi. Sampai tiga bulan mampu bertahan sampai 99 persen. Imunogenitas itu adalah kemampuan untuk memicu respons imun dalam tubuh.

"Uji klinik fase tiga di Bandung menunjukkan bahwa imunogenitas dari vaksin Sinovac itu tinggi, sangat valid meyakinkan, bahkan sampai tiga bulan masih 99 persen," jelas Penny dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Kamis (14/1).

Jika terjadi penurunan, kata Penny, tidak begitu banyak. Misal dari 99,7 persen turun sampai 99,3 persen.

"Turunnya cuma sedikit jadi konsisten. 99 orang masih mempunyai tingkat titer antibodi di atas 4 kali, averagenya 23 kali," jelas Penny.

Meski demikian, Penny mengakui belum ada pengamatan enam bulan dalam uji klinis fase ketiga. Namun jika melihat data uji klinis fase pertama dan kedua di Cina dalam waktu enam bulan tingkat imunogenitas masih berada di angka 80 persen.

"Kalau berdasar fase satu, dua di Cina masih 80 persen, jadi masih bagus masih tinggi," kata Penny.

Dilansir dari Wikipedia, Imunogenisitas adalah kemampuan suatu substansi (seperti antigen atau epitope) dalam memicu respons imun dari tubuh manusia atau hewan lainnya. Dalam kata lain, imunogenisitas adalah kemampuan untuk memicu respons imun humoral dan/atau dimediasi sel.

Terdapat perbedaan antara imunogenisitas yang diinginkan dan tak diinginkan:

Imunogenisitas yang diinginkan biasanya dihasilkan oleh vaksin, ketika penyuntikan suatu antigen (dari vaksin) memicu respons imun terhadap patogen (virus, bakteri) untuk melindungi organisme. Pengembangan vaksin adalah proses yang rumit, dan imunogenisitas merupakan unsur utama dalam kemujaraban suatu vaksin.

Imunogenisitas yang tidak diinginkan merupakan respons imun dari suatu organisme terhadap antigen untuk terapi (seperti protein rekombinan atau antibodi monoklonal). Akibatnya, dikeluarkan antibodi anti-obat yang menghilangkan efek terapi atau malah memicu dampak negatif.