Prediksi Jakarta Tenggelam

Kota-kota Paling Cepat Tenggelam di Dunia, Salah Satunya Jakarta

Merdeka.com 2020-01-02 07:22:00
Air bening dikelilingi air keruh. ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek sejak malam pergantian tahun hingga kemarin siang membuat sebagian wilayah Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya terendam banjir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan banjir di Jakarta disebabkan hujan ekstrem dan melanda sebagian besar Jawa bagian Barat-Utara sehingga menyebabkan banjir besar yang merata di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung Barat, bahkan Cikampek dan Cipali. Hujan kali ini bukan hujan biasa.

Suhu global dan permukaan air laut saat ini terus naik sementara sejumlah kota mengalami penurunan muka air tanah. Akibatnya sejumlah kota di berbagai belahan dunia bisa mengalami banjir parah dan daratannya berada di bawah permukaan air laut. Dengan kata lain kota-kota itu bergerak tenggelam, sebagian dengan kecepatan yang mencengangkan.

Berikut kota-kota di dunia yang mengalami penurunan muka tanah cukup cepat hingga bisa tenggelam:


Jakarta

Menurut organisasi Forum Ekonomi Dunia, Jakarta termasuk kota yang paling cepat tenggelam atau mengalami penurunan muka air tanah. Sekitar 40 persen wilayah Jakarta saat ini berada di bawah permukaan air laut dan mengalami penurunan muka tanah dengan kecepatan 10 inchi per tahun akibat penyedotan air tanah yang berlangsung massif.

Wilayah Jakarta dan sekitarnya mengalami penurunan muka tanah hingga 4 meter dalam 30 tahun terakhir. Di Jakarta Utara keadaannya lebih buruk lagi: penurunan muka tanah mencapai 2,5 meter dalam 10 tahun terakhir. Dengan kecepatan semacam itu 95 persen wilayah Jakarta Utara akan terendam air pada 2050.

Penyebabnya tiada lain infrastruktur Jakarta yang tidak memiliki jaringan pipa


Houston, Amerika Serikat

Kota Houston sudah mengalami penurunan muka tanah selama beberapa dekade. Seperti Jakarta, penyebabnya adalah penyedotan air tanah secara besar-besaran.

Harian Houston Chronicle mengutip Badan Survei Geologi AS, melaporkan, di wilayah Harris County, terjadi penurunan muka tanah hingga tiga meter sejak 1920-an. Daerah itu juga terus menerus mengalami penurunan tanah hingga 2 inchi per tahun dan angka itu terus bertambah.


Lagos, Nigeria

Kota di pesisir Nigeria ini memiliki populasi terbanyak di Afrika/ Letak geografisnya membuat Lagos rawan mengalami banjir dan pesisir pantainya juga sejak lama erosi.

Pada studi 2012 dari Universitas Plymouth, pesisir pantai kota itu sangat rendah sehingga naiknya permukaan air laut sekitar 1-3 meter saja bisa berdampak cukup parah.

Penelitian lain tahun lalu mengatakan naiknya permukaan air laut global bisa berdampak makin tingginya permukaan air laut hingga 2 meter di akhir abad ini.


Beijing, China

Sebuah penelitian pada 2016 memperlihatkan Beijing sedang tenggelam sebanyak 10 sentimeter per tahun di sejumlah lokasi.

Peneliti mengatakan penyebab turunnya muka air tanah itu akibat penyedotan air di bawah tanah, sama seperti situasi di Jakarta dan Houston.

Beijing yang bukan merupakan kota pesisir sangat bergantung kepada sumur tanah sebagai sumber air. Penyedotan massif dalam skala besar membuat muka air tanah kian turun.


Dhaka, Bangladesh

Ibu Kota Bangladesh ini mengalami penurunan muka tanah sebanyak 1,5 sentimeter per tahun. Meski kondisi ini tidak membuat Dhaka separah Jakarta, tapi permukaan air laut di Teluk Benggala terus naik hingga 10 kali lebih cepat dari rata-rata global.

Sama seperti Jakarta, penurunan muka tanah di Dhaka juga akibat pengambilan air tanah dalam skala yang besar.

Baca juga:
Ini Fakta-Fakta Penyebab Jakarta Direndam Banjir
Menpan RB: PNS Korban Banjir Boleh Mengajukan Cuti
Data Kemensos: 21 Orang Meninggal Akibat Banjir di Jabodetabek
Banjir Bandang Terjang Kabupaten Lebak, 427 KK Mengungsi dan 2 Orang Hilang
Wakil Wali Kota Tangsel Sebut Banjir Tahun Ini Terparah, Merata di 7 Kecamatan
13 Wilayah di Tangerang Terdampak Banjir, Terparah di Ciledug

Ilmuwan Sudah Prediksi 15 Tahun Lalu

Heboh Isu Jakarta Tenggelam Tahun 2050, Pakar UGM: Bukan Hal Mustahil

Merdeka.com 2021-06-08 14:39:00
Ilustrasi Jakarta. ©2014 Merdeka.com/shutterstock/Khoroshunova Olga

Isu tenggelamnya Kota Jakarta sudah merebak sudah lama. Inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa ibukota harus dipindahkan ke Kalimantan yang dinilai lebih aman dari bencana. Menurut Pakar tata ruang Universitas Gadjah Mada Bambang Hari Wibisono, prediksi bahwa Jakarta akan tenggelam di tahun 2050 bukanlah hal yang mustahil.

“Saya kira ini bukan sesuatu yang mustahil, tapi keniscayaan yang akan terjadi kalau Jakarta tidak cermat melakukan pengelolaan pembangunannya. Ini suatu peringatan yang harus kita perhatikan,” kata Bambang dikutip dari ANTARA pada Senin (7/6).

Menurut Bambang, prediksi semacam itu menjadi peringatan penting akan ancaman yang dihadapi Jakarta di masa mendatang. Oleh karena itu, perlu upaya serius yang perlu dilakukan saat ini.


Penataan Tata Ruang yang Ketat

©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Isu penurunan tanah di Jakarta menjadi perhatian para ilmuwan sejak 10 hingga 15 tahun yang lalu. Bahkan, dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Fitch Solution Country Risk and Industry research menyebutkan bahwa tahun 2050 diperkirakan Jakarta akan tenggelam akibat sejumlah persoalan yang dihadapi saat ini.

Menanggapi hal ini, Hari menghendaki ada instrumen penataan ruang yang sangat ketat untuk pembangunan di ibukota.

“Tata ruang harusnya sudah mengatur mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Mana yang merupakan kawasan budidaya yang bisa dikembangkan dan mana pula yang memiliki fungsi lindung,” kata Bambang.


Pembangunan Jakarta Saat Ini

©2021 Merdeka.com/Imam Buhori

Menurut Bambang, pembangunan Jakarta hari ini masih hanya mempertimbangkan soal kapasitas atau daya tampung, namun belum memikirkan tentang daya dukung.

Padahal di samping kapasitas lahan untuk menampung penduduk dalam jumlah tertentu, hal lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi bagi setiap penduduk untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

“Setiap orang tentunya membutuhkan air bersih, listrik, dan input lainnya. Sementara dari segi output mereka akan menghasilkan limbah yang harus diolah. Penting untuk diperhatikan apakah Jakarta memiliki kemampuan dalam hal Input dan Output ini,” jelas Bambang.


Belum Terlambat

©AFP PHOTO/GOH CHAI HIN

Menurut Bambang, jumlah penduduk Jakarta yang mencapai 10 juta jiwa dengan luas wilayahnya yang hanya 661 kilometer persegi belum lagi pembangunan yang masih terus dilakukan sebenarnya memberi beban bagi lahan. Hal inilah yang membuat banyak ahli memprediksi tentang tergenangnya Jakarta.

Meski demikian, menurut Bambang belum terlambat untuk melakukan intervensi dan langkah nyata untuk menghentikan persoalan tersebut, dan menghentikan ancaman tenggelamnya Jakarta.

“Semakin lambat mengambil langkah effort-nya pasti akan semakin berat. Tapi tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu,” kata Bambang.

Penurunan Tanah Jadi Penyebab

Pemprov DKI Ungkap Terjadinya Penurunan Tanah dan Tingginya Permukaan Laut

Merdeka.com 2021-08-04 10:29:12
Anak Pesisir Berenang saat Banjir Rob. ©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Kepala Seksi Perencanaan pada Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Elisabeth Tarigan mengatakan dataran Jakarta mengalami penurunan. Hal ini terjadi disebabkan beberapa hal seperti kompaksi tanah secara alamiah karena masih tanah muda atau tanah bekas reklamasi.

"Land subsidence ini bisa beberapa sebab di antaranya kompaksi tanah secara alamiah karena masih tanah muda atau tanah ex reklamasi," ucap Elisabeth kepada merdeka.com, Rabu (4/8).

Kemudian, beratnya beban dari gedung-gedung ataupun bangunan di Jakarta , turut andil menurunkan muka tanah. Dan terakhir, terjadinya penurunan permukaan tanah disebabkan oleh pengambilan air tanah.

"Pengambilan air tanah yang menyebabkan kekosongan pada aquifer bawah tanah,"

Dari kondisi-kondisi tersebut, lima wilayah Jakarta yang memiliki risiko tinggi alami land subsidence adalah Jakarta Utara. Hal ini dikarenakan wilayah utara banyak tanah reklamasi.

Namun, belum disampaikan oleh Elisabeth terkait penurunan muka tanah di Jakarta Utara per tahunnya.

Yang jelas, kata Elisabeth, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI telah melakukan pemberian sanksi kepada bangunan-bangunan yang terdata yang memiliki air tanah dalam, dan penggunaannya dianggap melebihi batasan. Kedalaman, air tanah dalam menurut Elisabeth adalah 40 meter lebih.

Sanksi yang diberikan oleh Dinas SDA yaitu penyegelan atau penutupan sumur.

"Pengawasan berada di Dinas SDA, yaitu bisa dengan penyegelan/penutupan sumur," ungkapnya.

Tanah Jakarta Turun 1 cm Tiap Tahun

Pemprov DKI Ungkap Terjadinya Penurunan Tanah dan Tingginya Permukaan Laut

Merdeka.com 2021-08-04 10:29:12
Anak Pesisir Berenang saat Banjir Rob. ©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Kepala Seksi Perencanaan pada Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Elisabeth Tarigan mengatakan dataran Jakarta mengalami penurunan. Hal ini terjadi disebabkan beberapa hal seperti kompaksi tanah secara alamiah karena masih tanah muda atau tanah bekas reklamasi.

"Land subsidence ini bisa beberapa sebab di antaranya kompaksi tanah secara alamiah karena masih tanah muda atau tanah ex reklamasi," ucap Elisabeth kepada merdeka.com, Rabu (4/8).

Kemudian, beratnya beban dari gedung-gedung ataupun bangunan di Jakarta , turut andil menurunkan muka tanah. Dan terakhir, terjadinya penurunan permukaan tanah disebabkan oleh pengambilan air tanah.

"Pengambilan air tanah yang menyebabkan kekosongan pada aquifer bawah tanah,"

Dari kondisi-kondisi tersebut, lima wilayah Jakarta yang memiliki risiko tinggi alami land subsidence adalah Jakarta Utara. Hal ini dikarenakan wilayah utara banyak tanah reklamasi.

Namun, belum disampaikan oleh Elisabeth terkait penurunan muka tanah di Jakarta Utara per tahunnya.

Yang jelas, kata Elisabeth, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI telah melakukan pemberian sanksi kepada bangunan-bangunan yang terdata yang memiliki air tanah dalam, dan penggunaannya dianggap melebihi batasan. Kedalaman, air tanah dalam menurut Elisabeth adalah 40 meter lebih.

Sanksi yang diberikan oleh Dinas SDA yaitu penyegelan atau penutupan sumur.

"Pengawasan berada di Dinas SDA, yaitu bisa dengan penyegelan/penutupan sumur," ungkapnya.

Anies Berguru ke Jepang

Pemprov DKI Berguru Pada Jepang Atasi Persoalan Penurunan Muka Tanah

Merdeka.com 2019-01-16 14:01:53
progres pembangunan tanggul laut Jakarta. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengatakan pihaknya akan belajar dari Jepang dalam menanggulangi penurunan muka tanah. Hal tersebut dia sampaikan usai rapat Joint Coordinating Committee (JCC) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA).

Dia menyebut, Tokyo adalah salah satu kota yang mengalami hal serupa dan mampu menanggulanginya. Anies berharap JICA dapat memberikan beberapa pengalamannya.

"Penanganan ini harus belajar dari kota-kota lain di dunia yang pernah mengalami penurunan permukaan tanah seperti ini," kata Anies di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (16/1).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bersama JICA telah menyusun beberapa kelompok kerja yang akan melaksanakan beberapa tugas. Pertama melakukan pengumpulan data, analisis data, serta membuat sistem pengendalian melalui pembangunan sumur pantau.

Lalu kata Anies, menyusun rencana tindakan mitigasi berupa pembatasan pengambilan air tanah dan alternatif penyediaan sumber air bersih dalam jangka menengah maupun jangka panjang.

"Ketiga melakukan investigasi risiko dan kerusakan akibat penurunan muka tanah melalui survei dan wawancara, serta menyusun rencana adaptasi termasuk perkiraan biaya yang akan digunakan," ucapnya.

Selanjutnya, kata Anies yakni menyiapkan alat bantu visual yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum melalui aktivitas seperti halnya kuliah umum. Serta membuat peta jalan (road map) serta menyusun rencana aksi.

"Tadi saya sampaikan juga dalam kesempatan ini bahwa pengukuran itu penting sekali, karena dengan pengukuran yang tepat, dengan lokasi yang akurat maka kita bisa menemukan sebab-sebabnya," jelasnya.

Reporter: Ika Defianti

Sumber: Liputan6.com

Perlu Ada Larangan Pemakaian Air Tanah di Jakarta

Peneliti UI: Tiap Tahun, Permukaan Tanah di Jakarta Utara Turun 1 Cm

Merdeka.com 2018-12-04 13:12:40
Kehidupan warga Kamal Muara. ©2016 merdeka.com/arie basuki

Peneliti dari Universitas Indonesia, Syamsu Rosid mengungkap hasil penelitian mikro gravitasi empat dimensi (4D) antara tahun 2014-2018, hampir di semua kawasan di Jakarta Utara terindikasi penurunan permukaan tanah.

"Laju penurunan rata-rata sekitar 11 sentimeter per tahun," kata Syamsu dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Selasa (4/12).

Dia menyebut fenomena penurunan permukaan tanah tersebut kemungkinan disebabkan adanya eksploitasi air tanah yang berlebihan. Syamsu juga menyatakan penurunan permukaan tanah juga diakibatkan adanya aktifitas manusia yang banyak memicu munculnya getaran pada permukaan tanah.

Sepeti halnya, kata dia, truk-truk bertonase berat ataupun pembangunan infrastruktur berbobot berat yang cukup intensif

"Penurunan permukaan tanah ini tentu saja dapat berdampak kepada stabilitas gedung-gedung dan bangunan infrastruktur yang ada di atasnya dan makin tingginya potensi untuk terjadinya banjir rob di daerah Jakarta Utara. karena daratan yang semakin rendah dibandingkan permukaan air laut terutama saat terjadinya air pasang oleh adanya gaya tarik bulan," papar dia.

Karena hal itu, dia menyarankan pihak Provinsi DKI Jakarta dapat mewaspadai kondisi itu. Yaitu dengan pengawasan dan pengevaluasian rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) di Jakarta Utara.

"Fokus mengawasi dan mengevaluasi RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) khususnya di wilayah Jakarta Utara," jelasnya.

Reporter: Ika Defianti
Sumber : Liputan6.com

Normalisasi Sungai Cegah Jakarta Tenggelam

Cara Pemprov DKI Cegah Jakarta Hilang Tenggelam

Merdeka.com 2021-08-04 09:07:36
Anak Pesisir Berenang saat Banjir Rob. ©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Jakarta kerap kali mendapat prediksi menjadi kota tenggelam seiring masifnya penggunaan air tanah oleh pemukiman, dan berdampak dengan turunnya permukaan tanah. Terbaru, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden mengatakan, tanah Batavia ini akan mungkin tenggelam pada 10 tahun mendatang.

Namun, durasi waktu 10 tahun yang disebut Joe Biden ditentang oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.

Riza tidak membantah potensi dataran Jakarta terus menurun dan berdampak dengan tinggi muka air saat banjir, namun tidak secepat 10 tahun seperti prediksi Joe Biden. Alasannya, Pemprov DKI berupaya beragam cara agar dataran ibu kota tidak cepat hilang terendam air.

"Pemprov DKI Jakarta tetap mengupayakan agar Jakarta tidak tenggelam, di antaranya penyedotan air tanah, pipanisasi PAM Jaya ditingkatkan agar kebutuhan air bersih semua dari PAM," katanya di Jakarta, Sabtu (31/7).

Katanya, Pemprov DKI Jakarta dan PUPR terus membuat program percepatan pipanisasi, air bersih, air minum di Jakarta. Hal itu guna mengurangi penurunan tanah.

"Mudah-mudahan ini bisa mengurangi (penurunan) muka air tanah di Jakarta. Saya kira tidak seperti yang disampaikan demikian bahwa Jakarta akan tenggelam. Kami terus menyiapkan program agar ROB di Jakarta Utara bisa diatasi," jelasnya.

"Jadi InsyaAllah Jakarta tidak tenggelam 10 tahun lagi," pungkasnya.

Berikut langkah yang dilakukan Pemprov DKI:

Mengoptimalkan fungsi waduk

Riza berujar, beragam cara telah dilakukan oleh Pemprov DKI dalam penanggulangan banjir. Di antaranya, Pemprov DKI melakukan optimalisasi waduk dengan cara melakukan pengerukan.

Membangun drainase vertikal

Data terakhir yang dipublikasi oleh Pemprov DKI, pada 2020 Jakarta sudah memiliki 3.000 unit sumur resapan dari target 300.000 sumur resapan baru.

Lakukan Pembebasan Lahan untuk Normalisasi Sungai

Pemprov DKI memiliki andil dalam normalisasi sungai yang melintasi Jakarta. Kendati demikian, dalam hal ini peran Pemprov sebatas melakukan pembebasan lahan. Pembangunan infrastruktur dilakukan oleh pemerintah pusat melalui Dinas Pekerjaan Umum.

Selain Jakarta, 112 Daerah Diprediksi Tenggelam

Daftar 112 Daerah Indonesia yang Terancam Tenggelam

Merdeka.com 2021-08-03 16:43:07
nusantara tenggelam. ©2021 Merdeka.com/heri andreas ITB

Kepala Laboratorium Geodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Heri Andreas mengungkap kajian, bukan hanya Jakarta yang diproyeksikan bakal tenggelam. Dalam data penelitiannya, banjir rob yang perlahan-lahan menenggelamkan wilayah pesisir akibat efek global warming, sea level rise dan land subsidence telah terjadi di banyak tempat di wilayah pesisir Nusantara, ada 112 kabupaten kota yang terancam tenggelam akibat perubahan iklim.

"Penurunan tanah di sana lebih cepat dan besar. Wilayah-wilayah di bawah lautnya juga bisa lebih besar dari Jakarta serta masih ada 112 kabupaten kota yang berpotensi untuk tenggelam mulai dari Pantai Timur Sumatera, Pesisir Kalimantan, Pantura Jawa, sedikit di Sulawesi dan Papua," kata Heri Andreas kepada merdeka.com, Senin (2/8).

Penurunan lahan akibat global warming di pesisir nusantara berada di tingkat mengkhawatirkan. Pasalnya beberapa daerah di Indonesia dapat mengalami penurunan tanah (Land Subsidence) mencapai 8 - 18 centimeter per tahunnya. Beberapa daerah tersebut diantaranya Langsa, Medan, Jakarta, Karawang, Blanakan, Indramayu, Semarang, Pekalongan, Demak, Palangkaraya, Banjarmasin.

Jutaan hektare wilayah pesisir Nusantara ditakutkan akan hilang perlahan secara permanen ke dalam laut, serta jutaan orang ditakutkan akan terkena dampaknya. Konsekuensi nilai ekonomi akibat banjir rob di wilayah Nusantara saat ini ditaksir melebihi angka Rp1000 triliun.

©2021 Merdeka.com/heri andreas ITB

Penurunan tanah dapat dikurangi bahkan dihentikan dengan mengurangi atau menghentikan eksploitasi air tanah, mengontrol eksploitasi migas dan mengontrol eksploitasi lahan gambut.

"Faktor dominan eksploitasi air tanah dengan mereduksi atau memberhentikan eksploitasi air tanah. Adanya program substitusi air tanah dengan pipanisasi, sumber-sumber air permukaan," ujarnya.

Lebih dalam, Heri Andreas juga mengatakan dalam menyikapi potensi tenggelamnya Nusantara adalah dengan pembangunan sistem monitoring dan pemetaan risiko serta early warning.


Daftar 112 Kab/Kota

Berikut 112 Kabupaten Kota yang terancam tenggelam

1. Pesisir Kabupaten Aceh Besar
2. Kabupaten Pidie
3. Kabupaten Pidie Jaya
4. Kota Lhokseumawe
5. Kabupaten Bireuen
6. Kabupaten Aceh Utara
7. Kabupaten Aceh Timur
8. Kota Langsa
9. Kabupaten Aceh Tamiang
10. Kabupaten Langkat
11. Kabupaten Deli Serdang
12. Kota Medan
13. Kabupaten Serdang Bedagai
14. Kabupaten Batubara
15. Kabupaten Asahan
16. Kabupaten Labuhanbatu Utara
17. Kabupaten Labuhanbatu
18. Kota Sibolga
19. Kabupaten Rokan Hilir
20. Kota Dumai
21. Kabupaten Bengkalis
22. Kabupaten Kepulauan Meranti
23. Kabupaten Siak
24. Kabupaten Indragiri hilir
25. Kabupaten Tanjung Jabung Barat
26. Kabupaten Tanjung Jabung Timur
27. Kota Pangkal Pinang
28. Kabupaten Bintan
29. Kabupaten Karimun
30. Kabupaten Lingga

©2021 Merdeka.com/heri andreas ITB

31. Kota Padang
32. Kabupaten Banyuasin
33. Kabupaten Ogan Komering Ilir
34. Kabupaten Tulang Bawang
35. Kabupaten Lampung Timur
36. Kabupaten Lampung Selatan
37. Kota Bandar Lampung
38. Kabupaten Serang
39. Kota Serang
40. Kabupaten Tangerang
41. DKI Jakarta
42. Kabupaten Bekasi
43. Kabupaten Karawang
44. Kabupaten Subang
45. Kabupaten Indramayu
46. Kabupaten Cirebon
47. Kota Cirebon
48. Kabupaten Cilacap
49. Kabupaten Brebes
50. Kota Tegal


Nasib Bali?

51. Kabupaten Tegal
52. Kabupaten Pemalang
53. Kabupaten Pekalongan
54. Kota Pekalongan
55. Kabupaten Batang
56. Kabupaten Kendal
57. Kota Semarang
58. Kabupaten Demak
59. Kabupaten Pati
60. Kabupaten Rembang
61. Kabupaten Gresik
62. Kota Surabaya
63. Kabupaten Sidoarjo
64. Kabupaten Bangkalan
65. Kabupaten Sampang
66. Kabupaten Sumenep
67. Kabupaten Pasuruan
68. Kota Pasuruan
69. Kabupaten Probolinggo
70. Kota Probolinggo
71. Kabupaten Situbondo
72. Kota Singkawang
73. Kabupaten Bengkayang
74. Kabupaten Pontianak
75. Kota Pontianak
76. Kabupaten Kubu Raya
77. Kabupaten Kayong Utara
78. Kabupaten Ketapang
79. Kabupaten Sukamara
80. Kabupaten Kotawaringin Barat
81. Kabupaten Seruyan
82. Kabupaten Katingan
83. Kabupaten Pulau Pisau
84. Kabupaten Kapuas
85. Kabupaten Barito Kuala
86. Kota Banjarmasin
87. Kabupaten Banjar
88. Kabupaten Tanah Laut
89. Kabupaten Tanah Bumbu
90. Kabupaten Kotabaru
91. Kabupaten Pasir
92. Kabupaten Penajam Paser Utara
93. Kota Balikpapan
94. Kota Bontang
95. Kabupaten Kutai Kartanegara
96. Kota Samarinda
97. Kabupaten Berau
98. Kabupaten Kutai Timur
99. Kabupaten Donggala
100. Kabupaten Mamuju Utara
101. Kabupaten Mamuju Tengah
102. Kabupaten Mamuju
103. Kabupaten Pohuwato
104. Kabupaten Sorong Selatan
105. Kabupaten Teluk Bintuni
106. Kabupaten Kaimana
107. Kabupaten Mimika
108. Kabupaten Asmat
109. Kabupaten Mappi
110. Kabupaten Merauke
111. Kabupaten Gorontalo
112. Kota Sibolga


Reporter Magang: Leony

Baca juga:
Pakar ITB Nilai Beda dari Jakarta, Bali & Nusa Tenggara Luput dari Ancaman Tenggelam
Ancaman Jakarta Tenggelam, BMKG Perkuat Monitoring Wilayah Pesisir
Pakar ITB: Bukan Jakarta, Ada 112 Daerah di RI yang akan Lebih Cepat Tenggelam
Anies Enggan Tanggapi Proyeksi Biden Soal Jakarta Tenggelam: Kita Urus Covid Dulu
Jakarta Kembali Diprediksi Tenggelam, Ini Tanggapan Walhi

Bali dan Nusa Tenggara Aman dari Tenggelam

Pakar ITB Nilai Beda dari Jakarta, Bali & Nusa Tenggara Luput dari Ancaman Tenggelam

Merdeka.com 2021-08-03 18:38:48
Bali Sepi Dampak Covid-19. ©2021 AFP/Sonny Tumbelaka

Isu proyeksi Jakarta bakal tenggelam kembali terdengar. Kali ini disinggung oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden saat berpidato di Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, Selasa (27/7) lalu. Berdasarkan riset, Biden menyebut tenggelamnya Jakarta akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

Ketua Lembaga Riset Kebencanaan IA Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mengatakan masih ada 112 Kabupaten/Kota di Tanah Air yang lebih berpotensi lebih besar tenggelam daripada Ibukota. Sebut saja Jawa Tengah seperti Pekalongan, Semarang, dan Demak.

"Penurunan tanah di sana lebih cepat dan besar. Wilayah-wilayah di bawah lautnya juga bisa lebih besar dari Jakarta serta masih ada 112 kabupaten kota yang berpotensi untuk tenggelam mulai dari Pantai Timur Sumatera, Pesisir Kalimantan, Pantura Jawa, sedikit di Sulawesi dan Papua," kata Heri Andreas kepada Merdeka, senin (2/8).

Kabar baiknya, Heri berpendapat wilayah Tengah dan Timur yakni Bali serta Nusa Tenggara masih aman dari ancaman penurunan permukaan tanah yang menyebabkan tenggelamnya suatu daratan.

"Tanah sedimen mudanya enggak banyak. Jadi tanahnya sudah relatif keras sehingga penurunan tanahnya kecil. Jadi belum ada indikasi banjir rob karena topografinya masih umumnya di atas permukaan laut," jelasnya.

Meski demikian, Heri tetap mengatakan bahwa pidato Presiden Amerika Serikat tersebut tetap bagus sebagai awareness supaya upaya-upaya manajemen risiko akan lebih baik lagi kedepannya.

Reporter Magang: Leony Darmawan