Volume 53

Masih Hidup Meski Sempat Terkubur Abu Vulkanik

Kisah Saiman dan Halimah Selamat Saat Rumah Terkubur Erupsi Gunung Semeru

Merdeka.com 2021-12-05 16:03:00
Pengungsi erupsi Gunung Semeru. ©2021 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Pasangan Saiman dan Halimah berulang kali mengucapkan puji syukur dapat menyelamatkan diri saat erupsi Gunung Semeru, Sabtu (4/12) pukul 15.00 WIB. Kendati rumahnya dalam kondisi rusak berat dan terkubur lahar, namun nyawanya berhasil selamat dari bencana tersebut.

Rumah warga Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, itu diterjang awan panas bercampur air. Namun segera disadarinya untuk menyelamatkan diri kendati harus meninggalkan semua harta kekayaannya.

"Sangat bersyukur masih bisa selamat," kata Saiman di Pengungsian Balai Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang.

Saiman menceritakan kalau kejadian tersebut berlangsung cepat dan mengagetkan semua warga. Seketika warga bingung dengan kejadian yang tiba-tiba gelap gulita itu.

"Tak ada suara atau tanda-tanda, tiba-tiba suara tetangga teriak-teriak, langsung bikin saya bingung," ucap Saiman.

Halimah menambahkan, saat luncuran awan panas datang warga gaduh, dan kondisinya mendadak gelap. Hatinya pasrah dan berdoa agar mendapat keselamatan, meski tetap tidak dapat menyembunyikan kepanikan.

"Semua gelap tidak ada cahaya sedikit pun, hanya terdengar teriakan orang-orang," kata Halimah.

Saiman dan Halimah mengaku langsung berlari ke arah selatan untuk menyelamatkan diri. Keduanya pun lega saat warga memberinya pertolongan berupa tumpangan untuk menuju lokasi pengungsian.

Ibu dan Empat Anak Terpisah saat Erupsi

Kisah Ibu dan Empat Anak yang Terpisah saat Erupsi Gunung Semeru

Merdeka.com 2021-12-05 20:06:40
Warga Korban Erupsi Semeru Selamatkan Barang Berharga. ©2021 AFP/Juni Kriswanto

Lasimin tak berhenti mengucap syukur. Hatinya lega setelah mendengar kabar empat anaknya selamat dari erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (4/12).

"Saya dikabari kalau Semeru katanya meletus. Saya bingung karena keluarga di rumah," ujarnya saat ditemui di salah satu pos kamling tidak jauh dari Kampung Renteng di Lumajang, Minggu (5/12) sore. Dilansir Antara.

Dia berbagi cerita. Pada Sabtu (4/12) sore, dia tidak ada di rumah karena sedang ada kegiatan. Tapi keluarganya ada di tempat tinggal yang berlokasi di Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.

Asap tebal keluar dan mendadak cuaca menjadi gelap gulita. Lasimin mencoba berusaha mendapat kabar keberadaan anak-anaknya.

"Alhamdulillah, akhirnya saya dapat kabar kalau mereka baik-baik saja. Tapi, mereka ada di tempat-tempat pengungsian berbeda. Tidak apa-apa, yang penting semuanya selamat," ucapnya.

Sampai saat ini, Lasimin dan keluarga belum bisa kembali ke rumah. Karena akses jalan di perkampungan tempat tinggalnya tertimbun abu dan material lainnya.

"Rumah saya tidak tertimbun, tapi tidak bisa ke sana karena banyak material. Makanya barang-barang yang tersisa tidak bisa diamankan dulu," katanya.

Kampung Renteng menjadi lokasi paling terdampak karena puluhan rumah tertimbun abu material dan awan panas guguran hingga menyebabkan beberapa warga dinyatakan hilang.

Di lokasi tersebut juga ditemukan sejumlah hewan ternak mati, lalu ditemukan juga dua unit truk yang terjebak tebalnya abu material dan membuat pengemudinya terpaksa naik ke atap rumah untuk menghindari awan panas guguran.

Sementara itu, beberapa warga lainnya masih sempat menyelamatkan barang-barang yang tertinggal di rumah. Mereka ada yang membawa kasur, meja, kursi, televisi dan berbagai perabotan rumah tangga lainnya.

Pada Sabtu (4/12) sore, Gunung Semeru mengeluarkan asap panas dan menimbulkan hujan abu ke daerah di sekitarnya. Warga yang tinggal di perkampungan di sekitar gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut itu mengungsi untuk menghindari dampak guguran awan panas.

Jenazah Ibu Gendong Bayi Tertimbun Lahar

Relawan Temukan Jenazah Ibu Gendong Bayi Tertimbun Lahar Erupsi Gunung Semeru

Merdeka.com 2021-12-05 20:25:01
Basarnas dan TNI Sisir Lokasi Terdampak Erupsi Semeru. ©2021 AFP/Juni Kriswanto

Relawan Baret Rescue Gerakan Pemuda Nasdem Jember menemukan jenazah seorang ibu sedang menggendong bayinya, tertimbun lahar Gunung Semeru di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Minggu (5/12).

"Saat melakukan penyisiran, relawan menemukan jenazah ibu dan anak yang tertimbun lahar Semeru," kata Ketua Baret Gerakan Pemuda Nasdem Jember David Handoko Seto saat dihubungi di Lumajang. Dilansir Antara.

Ada 15 orang tim Baret Rescue yang terjun ke lokasi letusan Gunung Semeru untuk membantu tim BPBD Lumajang melakukan evakuasi korban.

"Kami juga menemukan tiga jenazah yang masih terjebak di dalam truk pengangkut pasir yang tertimbun lahar Semeru," katanya.

Pihaknya langsung berkoordinasi dengan Basarnas dan BPBD Lumajang untuk mengevakuasi jenazah tersebut. Tim relawan menemukan sekitar tujuh jenazah yang tertimbun lahar Semeru dan langsung berkoordinasi dengan Basarnas.

David mengatakan seluruh rumah warga rata dengan tanah tertimbun material lahar Gunung Semeru, bahkan relawan sempat kesulitan ke lokasi karena ketebalan abu vulkanik Semeru.

Selain membantu evakuasi korban letusan Gunung Semeru, tim relawan Baret Jember membantu menyalurkan logistik di posko pengungsian di beberapa titik.

"Kami mengimbau masyarakat bisa membantu korban terdampak letusan Gunung Semeru dan yang yang paling dibutuhkan makanan siap saji dan obat obatan," ujarnya.

Erupsi Ditandai Guguran Lava Pijar

Kronologi Erupsi Gunung Semeru

Merdeka.com 2020-12-03 10:14:55
Kondisi Kerusakan Akibat Erupsi Gunung Sumeru di Lumajang. ©2020 AFP/Juni Kriswanto

Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dan salah satu gunung aktif dengan puncak ketinggian mencapai 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dengan Malang.

Semeru merupakan gunung api yang memiliki tipe strato dengan kubah lava, dan aktivitas saat ini terdapat di Kawah Jonggring Seloko yang terletak di sebelah tenggara puncak Mahameru yang terbentuk sejak 1913.

Letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian berupa penghancuran kubah atau lidah lava, serta adanya pembentukan kubah lava atau lidah lava baru. Penghancuran ini mengakibatkan pembentukan awan panas guguran yang merupakan karakteristik dari Gunung Semeru.

Meningkatnya aktivitas gunung tersebut terjadi sejak Jumat (27/11), yang ditandai dengan guguran lava pijar sebanyak empat kali dengan jarak luncur 200-300 meter.

Kemudian terus mengalami peningkatan setiap harinya hingga mengalami erupsi tidak menerus dengan meluncurkan awan panas guguran ke arah lereng selatan dan tenggara hingga jaraknya 1 kilometer, serta lontaran batu pijar pada Selasa (1/12) pukul 01.23 WIB.

Kepala Subbidang Mitigasi Gunung api Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Nia Haerani mengatakan, teramati awan panas guguran dari kubah puncak, dengan jarak luncur 2 kilometer hingga 11 kilometer ke arah Besuk Kobokan di sektor tenggara dari puncak Gunung Semeru pada Selasa (1/12).

Ia mengatakan pengamatan visual menunjukkan adanya kenaikan jumlah gempa guguran dan beberapa kali awan panas guguran yang diakibatkan oleh adanya ketidakstabilan kubah lava di bagian puncak.

"Dari kegempaan hingga 1 Desember 2020 pukul 06.00 WIB didominasi oleh gempa guguran dan beberapa kali gempa awan panas guguran," katanya. Dikutip dari Antara.

PVMBG juga memetakan potensi ancaman bahaya erupsi Gunung Semeru berupa lontaran batuan pijar di sekitar puncak, sedangkan material lontaran berukuran abu dapat tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin.

Potensi ancaman bahaya lainnya berupa awan panas guguran dan guguran batuan dari kubah/ujung lidah lava ke sektor tenggara dan selatan dari puncak. Jika terjadi hujan, dapat terjadi lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak.

Nia menjelaskan berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, serta potensi ancaman bahayanya, maka tingkat aktivitas Gunung Semeru masih ditetapkan pada Level II (Waspada).

Ia mengimbau agar warga tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah/puncak Gunung Semeru dan jarak 4 km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara.

Masyarakat juga diminta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Semeru. Radius dan jarak rekomendasi itu akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.

Erupsi Gunung Semeru yang meluncurkan guguran awan panas yang mengarah pada Besuk Kobokan menyebabkan tertimbunnya sejumlah alat berat dan kendaraan milik penambang pasir yang berada di jalur DAS yang dilewati lahar panas tersebut.

Satu orang dikabarkan hilang yakni operator alat berat di areal pertambangan pasir itu, namun pihak BPBD Lumajang belum bisa memastikan apakah operator alat berat itu tertimbun lahar panas atau berada di tempat lain saat kejadian erupsi Gunung Semeru.

Erupsi Gunung Semeru tentu menjadi aktivitas rutin bagi gunung aktif secara berkala, sehingga warga di lereng gunung pun merasa sudah terbiasa dengan bencana erupsi yang berdampak pada turunnya hujan abu vulkanik tersebut.

Salah seorang warga di lereng Gunung Semeru yang berada di Kecamatan Pronojiwo Tien mengaku mendengar suara gemuruh pada Selasa (1/12) sekitar pukul 03.00 WIB, sehingga ia bersama warga sekitar berbondong-bondong untuk ke luar rumah mencari tempat aman.

Ia mengaku sudah terbiasa dengan aktivitas Gunung Semeru dan mengetahui apa yang harus dilakukan saat terjadi erupsi sehingga sebagian warga menuju ke jalan raya dan ke balai desa setempat yang dinilai aman.

Warga terdekat dengan Gunung Semeru yang berada di Dusun Curah Kobokan dan Dusun Kajar Kuning juga berbondong-bondong untuk menuju tempat yang aman, namun mereka juga tetap menggunakan masker saat keluar rumah karena Kabupaten Lumajang pada akhir November 2020 masuk zona merah Covid-19.

Berdasarkan data BPBD Lumajang, ratusan warga mengungsi di Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru di Gunung Sawur yang berada di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro dan sebagian di Balai Desa Supiturang.

Wilayah yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik Gunung Semeru meliputi Desa Supiturang, Oro-oro Ombo, dan Rowobaung di Kecamatan Pronojiwo serta Desa Sumberwuluh di Kecamatan Candipuro di Kabupaten Lumajang.

Peringatan Dini Dua Hari Sebelum Erupsi

PVMBG Sudah Kirim Peringatan Dini Dua Hari Sebelum Gunung Semeru Erupsi

Merdeka.com 2021-12-05 18:41:55
Erupsi Gunung Semeru. ©2021 Antara

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Batubara (ESDM) telah memantau aktivitas Gunung Semeru sejak 1 Desember 2021, atau empat hari sebelum erupsi. Demikian disampaikan, Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani.

"Jadi kejadian awan panas 4 Desember sebetulnya pada kejadian ini sudah dimulai sejak 1 Desember, dan pada hari itu (1 Desember) terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 1.700 meter dari puncak atau 700 meter dari ujung aliran lava dengan arah luncuran ke tenggara," kata Andiani saat konferensi pers virtual, Minggu (5/12).

Setelah adanya pengamatan itu, kata Andiani, pihaknya telah mengirimkan surat kepada Pemerintah Daerah Lumajang bahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai early warning atau peringatan dini.

"Sudah diberitakan dalam wa grup bahkan 2 Desember sudah diimbau agar, sudah berhati-hati," katanya.

"Dan penyampaian evaluasi aktivitas Gunung Semeru setiap 15 hari kita sampaikan kepada stakeholder dan kita sampaikan saat rapat koordinasi dan melakukan press konferens kepada BNPB dan kami juga menjelaskan kepada media," tutup Andiani.

Gelap Gulita Saat Erupsi Siang Hari

Gunung Semeru Erupsi, 2 Kecamatan di Lumajang Gelap Gulita

Merdeka.com 2021-12-04 16:51:47
Semeru Erupsi. ©2021 Istimewa

Erupsi Gunung Semeru menyebabkan dua kecamatan di Kabupaten Lumajang gelap gulita pada Sabtu (4/12) sore hari. Dua kecamatan tersebut yakni Pronojiwo dan Candipura.

Dari video @netizen_NUjatim, warga terlihat berlarian menyusul semburan asap tebal Gunung Semeru. Hingga saat ini, erupsi masih berlangsung. Belum ada laporan korban jiwa atau daerah terdampak erupsi.

Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) mengalami erupsi. Erupsi disertai panas guguran dan hujan abu vulkanik cukup tebal hingga dua kecamatan terpantau gelap gulita di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari mengatakan aktifitas vulkanologi Gunung Semeru terjadi pada 15.00 WIB.

"Terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi, disertai APG. Pemantauan dan menyiagakan personel BPBD KAB. LUMAJANG," jelas dia.

34 Kali Gempa, Awan Panas Jarak Luncur 4.000 meter

PVMBG: Penyebaran Abu Vulkanik Gunung Semeru Tergantung Arah dan Kecepatan Angin

Merdeka.com 2021-12-05 09:24:03
Semeru Erupsi. ©2021 Istimewa

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa material lontaran seukuran abu dari Gunung Semeru di Jawa Timur dapat tersebar lebih jauh tergantung pada arah dan kecepatan angin.

Sebagaimana dikutip dalam siaran pers yang disiarkan di laman resmi PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada Minggu (5/12), peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Semeru juga menghadirkan potensi bahaya lain. Yakni lontaran batuan pijar di sekitar puncak serta awan panas guguran dan guguran batuan dari kubah/ujung lidah lava ke sektor tenggara dan selatan dari puncak.

Pada 4 Desember 2021 pukul 14.50 WIB teramati ada awan panas guguran dengan jarak luncur empat kilometer dari puncak Gunung Semeru atau dua kilometer dari ujung aliran lava ke arah tenggara (Besuk Kobokan).

"Tetapi hingga saat ini sebaran dan jarak luncur detail belum dapat dipastikan," demikian menurut keterangan PVMBG.

Menurut PVMBG, hasil pengamatan visual menunjukkan bahwa guguran dan awan panas guguran diakibatkan oleh ketidakstabilan endapan lidah lava.

Aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1 dan 4 Desember, menurut PVMBG, merupakan aktivitas permukaan (erupsi sekunder) dan hasil analisis data kegempaan tidak menunjukkan adanya kenaikan jumlah dan jenis gempa yang berasosiasi dengan suplai magma/batuan segar ke permukaan.

Pada Minggu, menurut pengamatan PVMBG, Gunung Semeru melontarkan awan panas guguran dengan jarak luncur 4.000 meter dari puncak atau 2.000 meter dari ujung aliran lava ke tenggara (Besuk Kobokan).

PVMBG juga mendeteksi gempa vulkanik yang berkaitan dengan letusan, guguran, dan hembusan asap kawah, yang terdiri atas 34 kali gempa letusan, dua kali gempa awan panas guguran, 13 kali gempa guguran, 15 kali gempa hembusan, dan satu kali gempa tektonik jauh.

Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahayanya, PVMBG menyatakan bahwa tingkat aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level II (Waspada).

Dalam status Level II (Waspada), warga dan wisatawan diminta tidak beraktivitas dalam radius satu kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru dan pada jarak lima kilometer dari arah bukaan kawah di sektor selatan tenggara.

Warga juga diminta mewaspadai kemungkinan munculnya awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama di sepanjang aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sarat. Dikutip Antara.

Sejarah Letusan Gunung Semeru

Sejarah Panjang Letusan Gunung Semeru

Merdeka.com 2021-12-04 19:18:08
Semeru Erupsi. ©2021 Istimewa

Pada Sabtu sore (4/12), Gunung Semeru yang berada di wilayah Provinsi Jawa Timur mengalami guguran awan panas. Material vulkanik yang terpantau pada pukul 15.20 WIB ini mengarah ke Besuk Kobokan, Desa Sapiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang. Semeru memiliki catatan panjang sejarah erupsi yang terekam pada 1818.

Catatan letusan yang terekam pada 1818 hingga 1913 tidak banyak informasi yang terdokumentasikan. Kemudian pada 1941-1942 terekam aktivitas vulkanik dengan durasi panjang. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan leleran lava terjadi pada periode 21 September 1941 hingga Februari 1942. Saat itu letusan sampai di lereng sebelah timur dengan ketinggian 1.400 hingga 1.775 meter. Material vulkanik hingga menimbun pos pengairan Bantengan.

Selanjutnya beberapa aktivitas vulkanik tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955 – 1957, 1958, 1959, 1960. Tak berhenti sampai di sini, Gunung Semeru termasuk salah satu gunung api aktif yang melanjutkan aktivitas vulkaniknya. Seperti pada 1 Desember 1977, guguran lava menghasilkan awan panas guguran dengan jarak hingga 10 km di Besuk Kembar. Volume endapan material vulkanik yang teramati mencapai 6,4 juta m3. Awan panas juga mengarah ke wilayah Besuk Kobokan. Saat itu sawah, jembatan dan rumah warga rusak. Aktivitas vulkanik berlanjut dan tercatat pada 1978 – 1989.

PVMBG juga mencatat aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007 dan 2008. Pada tahun 2008, tercatat beberapa kali erupsi, yaitu pada rentang 15 Mei hingga 22 Mei 2008. Teramati pada 22 Mei 2008, empat kali guguran awan panas yang mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur 2.500 meter.

Menurut data PVMBG, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D mengatakan aktivitas Gunung Semeru berada di kawah Jonggring Seloko. Kawah ini berada di sisi tenggara puncak Mahameru. Sedangkan karakter letusannya, Gunung Semeru ini bertipe vulkanian dan strombolian yang terjadi 3 – 4 kali setiap jam. Karakter letusan vulcanian berupa letusan eksplosif yang dapat menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya. Sementara, karakter letusan strombolian biasanya terjadi pembentukan kawan dan lidah lava baru.

Saat ini Gunung Semeru berada pada status level II atau ‘waspada’ dengan rekomendasi sebagai berikut.

Ancaman Khas Gunung Semeru

ESDM: Awan Panas Guguran Adalah Karakteristik Ancaman Khas Gunung Semeru

Merdeka.com 2021-12-05 17:00:17
Gunung Semeru. ©2015 Merdeka.com

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa awan panas guguran adalah ancaman khas dari Gunung Semeru. Letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian berupa penghancuran kubah atau lidah lava, serta pembentukan kubah lava atau lidah lava baru.

"Penghancuran kubah atau lidah lava ini lantas mengakibatkan pembentukan awan panas guguran di Gunung Semeru. Awan panas guguran ini merupakan karakteristik ancaman khas dari Gunung Semeru, yakni berupa awan panas yang berasal dari ujung aliran lava pada bagian lereng gunung," kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Minggu (5/12). Dilansir Antara.

Dia menjelaskan, endapan awan panas guguran terdiri dari material bebatuan yang memiliki suhu berkisar 800 sampai 900 derajat Celcius yang bergerak ke arah lereng tenggara Gunung Semeru.

Jika terjadi hujan, endapan awan panas guguran ini dapat menyebabkan banjir lahar dingin pada sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak.

Potensi ancaman bahaya lainnya dari erupsi Gunung Semeru, berupa lontaran batuan pijar di sekitar puncak, sedangkan material lontaran berukuran abu dapat tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin.

Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1 dan 4 Desember 2021 merupakan aktivitas permukaan (erupsi sekunder) dan hasil analisis data kegempaan tidak menunjukkan adanya kenaikan jumlah dan jenis gempa yang berasosiasi dengan suplai magma atau batuan segar ke permukaan.

Pada 1 Desember 2021 terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 1.700 meter dari puncak atau 700 meter dari ujung aliran lava dengan arah luncuran ke tenggara. Setelah kejadian awan panas guguran terjadi guguran lava dengan jarak dan arah luncur tidak teramati.

Pada 4 Desember 2021 mulai pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir, kemudian pada pukul 14.50 WIB teramati awan panas guguran dengan jarak luncur empat kilometer dari puncak atau dua kilometer dari ujung aliran lava ke arah tenggara (Besuk Kobokan).

"Kami akan terus memperbarui data kondisi terakhir pemantauan Gunung Semeru dengan tujuan agar masyarakat dapat memperoleh informasi akurat," ucap Eko Budi Lelono.

Dahsyatnya Kerusakan Akibat Erupsi Semeru

2.970 Rumah di Lumajang Terdampak Erupsi Gunung Semeru

Merdeka.com 2021-12-05 22:29:01
Kerusakan rumah warga tertimbun abu vulkanik. ©2021 AFP/Juni Kriswanto

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mencatat data sementara sebanyak 2.970 rumah terdampak awan panas guguran Gunung Semeru.

"Hingga hari ini pukul 17.00 WIB untuk kerusakan rumah tercatat sebanyak 2.970 rumah dan 13 fasilitas umum berupa jembatan, sarana pendidikan, dan tempat ibadah juga mengalami kerusakan," kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Lumajang, Wawan Hadi Siswoyo, Minggu (5/12).

Menurutnya 14 orang meninggal dunia dan 69 mengalami luka-luka mendapat perawatan di beberapa puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Lumajang.

Wawan mengatakan, dampak materiil akibat awan panas guguran Gunung Semeru yakni jembatan Gladak Perak jalur utama arah Lumajang - Malang lewat selatan terputus total sehingga warga di dua kecamatan yakni Kecamatan Pronojiwo dan Tempursari terisolasi, sehingga tidak ada akses jalan lagi menuju Kota Lumajang.

"Akses jalan menuju lokasi pengungsi masih tertutup hujan yang disertai abu vulkanik Gunung Semeru yang masih cukup tebal," ujarnya.

Bukan Erupsi Tapi Awan Panas Guguran

PVMBG: Bukan Erupsi, Bencana Gunung Semeru Awan Panas Guguran

Merdeka.com 2021-12-06 10:39:05
Basarnas dan TNI Sisir Lokasi Terdampak Erupsi Semeru. ©2021 AFP/Juni Kriswanto

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani meluruskan status bencana Gunung Api Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada Sabtu (4/12). Dia menegaskan, bencana tersebut bukan erupsi, melainkan awan panas guguran (APG).

"Awan panas guguran," katanya kepada merdeka.com, Senin (6/12).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur juga menegaskan hal serupa. Manager Pusat Pengendalian Ops Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Jawa Timur Dino Andalananto mengatakan, aktivitas Gunung Semeru itu merupakan awan panas guguran.

"Kebetulan ini kemarin kan awan panas guguran yang sifatnya rapid-onset. Jadi tiba-tiba," ujarnya.


Apa Bedanya?

Dia menjelaskan, erupsi merupakan aktivitas magma di dalam perut bumi didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi.

Sementara guguran awan panas merupakan peristiwa ketika suspensi dari material gunung berupa batu, kerikil, abu, pasir dalam suatu massa gas vulkanik panas keluar dari gunung berapi.

Menurut Dino, secara teknis, awan panas guguran berkaitan dengan curah hujan tinggi. Saat hujan dengan intensitas tinggi terjadi, material yang ada pada permukaan gunung bereaksi.

"Bahan-bahan material yang ada di gunung itu kan ada belerang, sebagainya, apabila terkena air akan bereaksi. Nah itu kemarin, sampai sekarang pun lahar dingin itu posisinya masih panas di bawah," jelasnya.


Kata Ahli Vulkanologi

Sementara ahli vulkanologi, Surono mengatakan, aktivitas Gunung Semeru dua hari lalu itu merupakan guguran kubah lava. Guguran ini menghasilkan awan panas guguran.

"Kalau saya sebut guguran kubah lava," kata dia.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Jawa Timur, awan panas guguran Gunung Semeru mengakibatkan 15 orang meninggal dunia. Sementara luka berat sebanyak 69 orang dan luka ringan 100 orang.

Total korban terdampak di Kabupaten Lumajang sebanyak 5.205 orang. Rumah terdampak 2.970 unit dan fasilitas umum terdampak 13 unit.

Baca juga:
Lokasi Pengungsian Korban Awan Panas Guguran Gunung Semeru Dipindah ke Zona Aman
Tertimbun Abu Vulkanik 4 Meter, Begini Kondisi Desa Paling Terdampak Erupsi Semeru
KAI Salurkan Bantuan untuk Korban Erupsi Gunung Semeru
Jejak Letusan Semeru, Gunung yang Konon 'Dipindahkan' Dewa dari India
Update Korban Awan Panas Guguran Gunung Semeru: 15 Orang Meninggal Dunia
Kisah Lasimin, Bapak Empat Anak yang Jadi Saksi Meletusnya Gunung Semeru

Alasan BNPB Tak Beri Peringatan Dini

BPBD Ungkap Alasan Tak Ada Peringatan Dini saat Bencana Semeru

Merdeka.com 2021-12-06 11:31:46
Basarnas dan TNI Sisir Lokasi Terdampak Erupsi Semeru. ©2021 AFP/Juni Kriswanto

Manager Pusat Pengendalian Ops Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Dino Andalananto mengungkap, alasan tak ada peringatan dini awan panas guguran (APG) Gunung Api Semeru, Kabupaten Lumajang pada Sabtu (4/12). Menurutnya, aktivitas Gunung Semeru saat itu masuk kategori rapid-onset.

"Nah kebetulan ini kemarin kan awan panas guguran yang sifatnya rapid-onset. Jadi tiba-tiba. Kayak longsor, longsor itu juga bencana yang tiba-tiba, rapid-onset," katanya kepada merdeka.com, Senin (6/12).

Dino menyebut, ada dua kategori bencana, yaitu rapid-onset dan slow-onset. Bencana rapid-onset merupakan bencana yang terjadi secara mendadak sehingga tidak bisa diamati tanda-tandanya, seperti awan panas guguran.

Sedangkan bencana slow-onset ialah bencana yang terjadi perlahan dan dapat dilihat gejalanya, misalnya erupsi. Bencana slow-onset bisa diprediksi dan diikuti peringatan dini.

"Makanya saya bilang tadi, ini bukan erupsi. Kalau erupsi bisa diamati karena ada kegempaan yang meningkat, kemudian ada parameter-parameter yang bisa dilihat lainnya," jelasnya.

Sementara ahli vulkanologi, Surono menilai, tak semua bencana harus disampaikan peringatan dini sebelum kejadian. Sebab, Gunung Semeru sudah menunjukkan tanda-tanda aktivitas jauh-jauh hari.

"Kalau tinggal di daerah rawan kan risikonya banyak sekali," ujarnya.

Surono megibaratkan tinggal di kaki Gunung Semeru seperti hidup di tengah jalan tol. Masyarakat tidak bisa menyalahkan pemerintah soal peringatan sebelum kecelakaan. Masyarakat seharusnya sudah tahu tinggal di tengah jalan tol bisa menjadi korban kecelakaan.

Menurutnya, bencana yang terjadi pada Gunung Semeru itu bukan aktivitas baru. Guguran kubah yang menghasilkan awan panas itu sudah sering terjadi. Bahkan, laharnya selalu melewati Besuk Kobokan.

"Sudah sering terjadi makanya Besuk Kobokan itu menjadi ajang pencarian pasir karena di situ-situ juga," ucapnya.

Surono mendorong pemerintah Jawa Timur dan masyarakat terdampak awan panas guguran Gunung Semeru duduk bersama. Membahas jalan keluar bagi daerah yang rawan bencana Gunung Semeru.

"Kita evaluasi saja yang terdampak di situ tempatnya bahaya atau enggak. Kalau daerah bahaya ada jalan enggak untuk mengurangi risiko bahaya. Kalau enggak ada hanya satu pilihan relokasi, enggak usah marah-marah lah," kata dia.


Peringatan Dini PVMBG

Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani mengaku telah mengeluarkan peringatan dini sebelum Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran pada Sabtu 4 Desember 2021. Peringatan itu dikeluarkan bersamaan dengan 69 gunung api aktif lainnya.

"Peringatan dini untuk bahaya erupsi gunung api sudah dilakukan bukan hanya di Semeru, tetapi juga di 69 gunung api aktif yang dipantau oleh PVMBG melalui pemasangan peralatan pemantauan, serta pengamatan visual selama 24 jam," kata Andiani kepada merdeka.com dalam pesan singkat, Senin (6/12).

Dia menjelaskan pada 1 Desember 2021 sudah terjadi guguran lava pijar di lereng Gunung Semeru. Bahkan, pada 2 Desember, Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru sudah mengeluarkan peringatan agar masyarakat tidak beraktivitas di sekitar Besuk Kobokan, Besuk Kembar, Besuk Bang, dan Besuk Sarat, untuk mengantisipasi kejadian awan panas guguran.


15 Orang Meninggal

Jumlah korban meningggal dunia akibat guguran awan panas Gunung Api Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, bertambah satu. Sehingga total keseluruhan menjadi 15 orang.

"Ada tambahan satu korban meninggal dunia, jadi total 15. Cuma tambahan satu belum dirilis," kata Manager Pusat Pengendalian Ops Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Jawa Timur Dino Andalananto saat dihubungi merdeka.com, Senin (6/12).

Dino menjelaskan, peristiwa yang terjadi di Gunung Semeru pada Sabtu (4/12) merupakan guguran awan panas . Bukan erupsi. Erupsi merupakan aktivitas gunung vulkanik aktif yang mengeluarkan gas dan lava dari lubang vulkanik.

Sementara guguran awan panas merupakan peristiwa ketika suspensi dari material gunung berupa batu, kerikil, abu, pasir dalam suatu massa gas vulkanik panas keluar dari gunung berapi.

"Masih banyak yang belum memahami ini padahal kita sudah kasih pengertian di awal. Makanya di keadaan darurat itu kan awan panas guguran," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, guguran awan panas Gunung Semeru mengakibatkan 10 kecamatan terdampak dan 8 kecamatan terdampak debu vulkanik. Total jiwa dari 4 kecamatan terdampak yaitu 5.205 jiwa. Namun hanya 1.300 jiwa memilih untuk mengungsi di tempat pengungsian yang telah disediakan.

BPBD Kabupaten Lumajang melaporkan terdapat 902 warga mengungsi yang tersebar di beberapa titik kecamatan, antara lain :

305 orang mengungsi di beberapa fasilitasi pendidikan dan balai desa di Kecamatan Pronojiwo dengan rincian :

- SDN Supiturang 04 ± 80 orang
- Masjid Baitul Jadid Dsn. Supiturang ± 50 orang
- SDN Oro-Oro Ombo 3, ± 20 orang
- SDN Oro-Oro Ombo 2, ± 35 orang
- Masjid Pemukiman Dusun Kampung Renteng Desa Oro-oro Ombo ± 20 orang
- Balai Desa Oro-Oro Ombo ± 40 orang
- Balai Desa Sumberurip ± 25 orang
- SDN Sumberurip 2, ± 25 orang
- Sebagian masyarakat mengamankan diri di rumah keluarganya di sekitar ketinggian Dusun Kampung Renteng dan Dusun Sumberbulus, Desa Oro-Oro Ombo.

409 orang di lima titik balai desa di Kecamatan Candipuro dengan rincian :

- Balai desa Sumberwuluh
- Balai desa Penanggal
- Balai desa Sumbermujur
- Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh
- Dusun Kajarkuning, Desa Sumberwuluh

188 orang mengungsi di empat titik yang terdiri dari rumah ibadah dan balai desa di Kecamatan Pasirian dengan rincian :

- Balai desa Condro
- Balai desa Pasirian
- Masjid Baiturahman Pasirian
- Masjid Nurul Huda Alon² Pasirian.

Baca juga:
10 Letusan Gunung Api Paling Dahsyat di Indonesia
Ketua DPR Minta Pemerintah Prioritaskan Kebutuhan Korban Bencana Erupsi Semeru
16 Korban Luka Bakar akibat Awan Panas Gunung Semeru Dirawat di RSUD Pasirian
PVMBG: Bukan Erupsi, Bencana Gunung Semeru Awan Panas Guguran
Lokasi Pengungsian Korban Awan Panas Guguran Gunung Semeru Dipindah ke Zona Aman

 

10 Letusan Gunung Api Paling Dahsyat di Indonesia

10 Letusan Gunung Api Paling Dahsyat di Indonesia

Merdeka.com 2021-12-06 11:44:25
Warga Korban Erupsi Semeru Selamatkan Barang Berharga. ©2021 AFP/Juni Kriswanto

Gunung Semeru mengalami awan panas guguran pada Sabtu (4/12). Akibat musibah tersebut, data sementara mencatatkan, 15 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka, baik ringan maupun berat.

Selain korban jiwa, erupsi gunung tertinggi di Pulau Jawa ini juga menyebabkan rumah warga di Lumajang tertimbun material. Bahkan Jembatan Gladak Perak yang menjadi penghubung antara Kabupaten Malang dan Lumajang juga terputus.

Guguran awan panas Gunung Semeru mengakibatkan 2 kecamatan terdampak dan 8 kecamatan terdampak debu vulkanik.Total warga dari kecamatan yang terdampak yaitu 5.205 jiwa. Namun hanya 1.300 jiwa memilih untuk mengungsi di tempat pengungsian yang telah disediakan.

merdeka.com merangkum 10 letusan gunung berapi di Indonesia yang berdampak besar. Letusan gunung berapi ini tercatat ada yang menyebabkan ribuan orang meninggal dunia.

1. Gunung Kelud

Gunung Kelud termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Gunung berapi ini terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia.

Dalam laporan Carl Wilhelm Wormser (1876-1946), pejabat Pengadilan Landraad di Tulung Agung (masa kolonial Belanda), yang menjadi saksi mata letusan Gunung Kelud tahun 1919. Akibat letusan tersebut, 5.160 jiwa meninggal dunia dan merusak sampai 15.000 ha lahan produktif karena aliran lahar.

Disebutkan, hari itu bumi berguncang, mentari hilang ditelan kegelapan. Kelud memuntahkan abu disertai sambaran petir. Disusul lahar panas yang tanpa ampun membakar apapun yang dilewatinya.

Meski masih dalam skala yang jauh lebih kecil, letusan Kelud 2014 memicu kekhawatiran masyarakat: gunung berapi yang lain akan mengikuti tingkah Kelud. Apalagi, Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara, yang tak jua berhenti menggeliat dari tidur panjangnya selama 400 tahun, baru saja menyudahi nyawa 17 orang pada awal Februari.

2. Gunung Agung

Gunung Agung pernah meletus di tahun 1963. Gunung yang terletak di Bali ini terkenal dengan letusannya yang terjadi hingga setahun lamanya. Sebanyak 1.000 penduduk menjadi korban saat Gunung Agus meletus. Abu panas dan gas melambung hingga 20 kilometer tingginya.

Gunung Agung juga meletus pada tahun 2017. Letusan tersebut menyebabkan ribuan orang mengungsi dan mengganggu perjalanan udara. Hingga 27 November 2017, tingkat siaga berada pada level tertinggi dan perintah evakuasi telah dikeluarkan.

Gempa bumi tektonik dari gunung berapi telah terdeteksi sejak awal Agustus, dan aktivitas gunung berapi tersebut meningkat selama beberapa minggu sebelum menurun secara signifikan pada akhir Oktober. Periode kedua dari kegiatan utama dimulai pada akhir November.

3. Gunung Samalas

Gunung Samalas yang terletak di Lombok meletus pada 1257 M. Letusan tersebut memunculkan kaldera Segara Anak di ujung barat Gunung Rinjani.

Letusan Gunung Samalas menghasilkan kolom erupsi setinggi puluhan kilometer ke atmosfer serta aliran piroklastik yang mengubur hampir seluruh Pulau Lombok. Sebagian material piroklastik bahkan mencapai Pulau Sumbawa di seberang.

Kejadian ini terekam di dalam naskah lontar Babad Lombok, mengisahkan aliran piroklastik menghancurkan pemukiman-pemukiman penduduk, termasuk Pamatan, yang kala itu menjadi ibu kota sebuah kerajaan di Lombok. Jejak abu dari letusan ini terdeteksi hingga sejauh 340 kilometer (210 mi) di Pulau Jawa. Total material abu dan bebatuan yang dimuntahkan dalam letusan ini mencapai lebih dari 10 kilometer kubik.


4. Gunung Merapi

Gunung Merapi yang berada di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah merupakan gunung berapi teraktif di Indonesia. Gunung ini memiliki potensi kebencanaan yang tinggi karena menurut catatan modern mengalami erupsi setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh permukiman yang padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali.

Letusan Merapi yang paling parah adalah pada akhir Oktober 2010. Ledakannya begitu besar hingga menewaskan 350 korban lebih, termasuk Mbah Marijan, sang juru kunci merapi.

5. Gunung Galunggung

Gunung Galunggung memiliki ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut, terletak di Tasikmalaya. Gunung ini memiliki dua puncak yaitu Puncak Dinding Ari dan Puncak Beuticanar, kedua puncak tersebut dapat dijangkau dengan cara mendaki melalui jalur yang tersedia.

Gunung Galunggung tercatat pernah meletus pada tahun 1822. Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah.

Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober, letusan menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.

6. Gunung Tambora

Gunung Tambora terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Gunung ini terbentuk akibat zona subduksi aktif di bawahnya. Pada masa lampau, ketinggian Gunung Tambora mencapai sekitar 4.300 meter yang membuat gunung ini menjadi salah satu puncak tertinggi di Indonesia.

Aktivitas vulkanis gunung berapi ini memuncak pada letusannya bulan April tahun 1815 yang mencapai skala tujuh. Suara letusan tercatat terdengar hingga pulau Sumatera lebih dari 2.000 km ke barat. Hujan abu vulkanis terjadi di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Letusan tersebut menelan korban jiwa sedikitnya 71.000 orang dengan 11.000-12.000 di antaranya merupakan korban langsung dari letusan.

Beberapa peneliti memperkirakan jumlah korban jiwa yang mencapai 92.000 orang, tetapi angka ini diragukan karena dinilai terlalu besar. Letusan tersebut juga menyebabkan perubahan iklim dunia saat itu.


7. Gunung Awu

Gunung Awu merupakan Gunung api Strato terbesar di Kepuluan Sangihe dan berada di pulau Sangihe. Lembah dalam yang membentuk lorong untuk lahar membelah sisi-sisi gunung api Awu, yang dibangun dalam kaldera selebar 4,5 kilometer.

Gunung dengan ketinggian 1.320 dari atas permukaan laut tersebut mengalami 19 erupsi kala holosen sejak sejarah. Erupsi eksplosif yang dahsyat pada Gunung Awu meliputi tahun 1711, 1812, 1856, 1892, dan 1966.

Erupsi eksplosif tersebut menghasilkan aliran piroklastik dan lahar yang menghancurkan serta menyebabkan lebih dari 7.377 korban jiwa secara kumulatif. Gunung Awu berisi danau kawah puncak yang lebarnya 1 km dan kedalaman 172 m pada tahun 1922, tetapi sebagian besar dikeluarkan selama erupsi tahun 1966.

8. Gunung Papandayan

Gunung Papandayan adalah gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu memiliki beberapa kawah yang terkenal, di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya.

Dalam catatan sejarah, Gunung Papandayan telah beberapa kali meletus. Di antaranya pada 12 Augustus 1772, 11 Maret 1923, 15 Agustus 1942, dan 11 November 2002. Letusan besar yang terjadi pada tahun 1772. Letusan tersebut menghancurkan sedikitnya 40 desa dan menewaskan sekitar 2.957 orang. Daerah yang tertutup longsoran mencapai 10 km dengan lebar 5 km.

9. Gunung Krakatau

Gunung Krakatau berada di Kecamatan Punduh Pedada, Kabupaten Lampung Selatan, tepatnya di perairan Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra. Puncak gunung berapi Gunung Krakatau sirna karena letusan kataklismik pada tanggal 26-27 Agustus 1883.

Gunung Krakatau dikenal dunia karena letusan yang sangat dahsyat pada tahun 1883. Awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Letusan tersebut menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut. Gunung Krakatau yang meletus, getarannya terasa sampai Eropa.

10 Gunung Toba

Gunung Toba adalah gunung berapi raksasa yaitu gunung aktif dalam kategori sangat besar, terletak di provinsi Sumatra Utara dan diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu.

Gunung Toba pernah meletus tiga kali. Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.

Kemudian, letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.

Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya. Gunung Toba tergolong supervulkan. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali.

Baca juga:
Potret Korban Erupsi Gunung Semeru Bertahan di Pusat Evakuasi
BPBD Ungkap Alasan Tak Ada Peringatan Dini saat Bencana Semeru
Ketua DPR Minta Pemerintah Prioritaskan Kebutuhan Korban Bencana Erupsi Semeru
16 Korban Luka Bakar akibat Awan Panas Gunung Semeru Dirawat di RSUD Pasirian
Lokasi Pengungsian Korban Awan Panas Guguran Gunung Semeru Dipindah ke Zona Aman
PVMBG: Bukan Erupsi, Bencana Gunung Semeru Awan Panas Guguran

Dilarang Aktivitas Radius 1 Km dari Puncak Semeru

Gunung Semeru Berstatus Waspada, Ini Imbauan Penting untuk Warga

Merdeka.com 2021-12-05 17:17:42
Kerusakan rumah warga tertimbun abu vulkanik. ©2021 AFP/Juni Kriswanto

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Batubara (ESDM) menetapkan status Gunung Semeru berada pada level dua waspada pasca erupsi pada Sabtu (4/12) kemarin.

Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono menuturkan, dengan status Gunung Semeru yang masih berada di level dua, masyarakat, wisatawan, pengunjung diminta mematuhi seluruh rekomendasi yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM.

Rekomendasi yang wajib dipatuhi selama status Gunung Semeru level dua, yakni warga dilarang beraktivitas pada sekitar radius satu kilometer dari kawah dan Puncak Gunung Semeru dan jarak lima kilometer dari bukaan kawah di sekitar selatan dan tenggara sisi gunung.

"Lalu, mewaspadai awan panas guguran lava dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru. Terutama, sepanjang aliran besuk kobokan, besuk kembang, kembar dan sepat," ujar Eko Budi saat jumpa pers pada Minggu (5/12) sore.

Selain itu, Eko juga mengimbau agar masyarakat tidak terpancing dengan informasi yang bukan dikeluarkan instansi berwenang, salah satunya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM.

"Kami terus berkoordinasi dengan kementerian atau lembaga, BNPB, Pemda dan instansi terkait lainnya," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) mengalami erupsi yang disertai panas guguran dan hujan abu vulkanik cukup tebal hingga dua kecamatan terpantau gelap gulita di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (4/12) sore.

Kondisi Sekitar Semeru usai Disapu Awan Panas

Kondisi Terkini Aliran Lahar Semeru usai Bencana Awan Panas Guguran

Merdeka.com 2021-12-06 12:17:22
Kondisi Daerah Aliran Lahar di Curah Kobokan. ©BNPB

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto meninjau lokasi terdampak awan panas guguran (APG) Gunung Semeru, Senin (6/12). Peninjauan dilakukan melalui udara menggunakan helikopter BNPB.

Suharyanto terbang dari Lapangan Bola Desa Condro, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Suharyanto melihat kondisi di sepanjang daerah aliran lahar di Curah Kobokan mengalami kerusakan dan tertutup material vulkanik dari awan panas guguran Gunung Semeru.

"Beberapa vegetasi yang ada di sepanjang daerah aliran lahar di Curah Kobokan juga mengalami kerusakan dan banyak pohon yang tumbang dan mati," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari melalui keterangan tertulis, Senin (6/12).

©BNPB

Menurut Abdul, Suharyanto juga melihat jembatan Gladak Perak di Desa Curah Kobokan yang rusak dan memutus jalur darat antara Lumajang menuju Malang.

Peninjauan berlangsung selama kurang lebih 15 menit. Usai peninjuauan, Suharyanto beserta rombongan mendarat di lapangan bola Kecamatan Pasirian dan disambut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Saat peninjuan, Suharyanto didampingi Kapolda Jawa Timur Nico Afinta dan Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Jarwansyah.

©BNPB

Diketahui, Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran pada Sabtu (4/12).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur melaporkan kejadian itu mengakibatkan 15 orang meninggal dunia hingga Senin siang. Sementara luka berat sebanyak 69 orang dan luka ringan 100 orang.

Total korban terdampak di Kabupaten Lumajang sebanyak 5.205 orang. Rumah terdampak 2.970 unit dan fasilitas umum terdampak 13 unit.

©BNPB


Sulit Prediksi Munculnya Awan Panas Semeru

PVMBG Kesulitan Prediksi Kemunculan Awan Panas Guguran Gunung Semeru

Merdeka.com 2021-12-06 15:50:31
Erupsi Gunung Semeru. ©2021 Antara

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani mengatakan, pihaknya kesulitan untuk memprediksi kemunculan awan panas guguran Gunung Semeru yang erupsi pada Sabtu (4/12).

Dia menyampaikan, potensi terulangnya muntahan awan panas guguran di gunung itu masih tetap ada.

"Potensi masih ada, tapi kalau ditanya kapan itu terjadi? Bagi kami sulit menjawab itu. Karena kesulitan kami, maka itulah kami perlu melakukan monitoring," katanya dalam konferensi pers daring, Senin (6/12).

Monitoring dibutuhkan demi mendeteksi getaran gempa sesaat sebelum erupsi terjadi di gunung tersebut. Maka jika Gunung Semeru akan kembali memuntahkan gugurannya, PVMBG sudah bisa mengetahui lewat tanda-tanda getaran yang ditimbulkan.

"Dan setelah getaran-getaran itu tercatat ke atas, maka segera kami sampaikan ke WA grup untuk disampaikan ke masyarakat," ujarnya.

Andiani memastikan bahwa potensi guguran awan panas di Semeru masih ada. Hal itu terbaca dari masih banyaknya material-material hasil erupsi gunung api di bagian hulu. Bahkan menurutnya material itu terhitung sangat banyak.

"Maka apabila dengan curah hujan sekarang ini yang menurut BMKG curah hujan masih sangat tinggi satu bulan dua bulan ke depan, tentunya potensi lahar juga itu masih tinggi untuk mengancam Semeru," terangnya.

Dia mengungkapkan, daerah paling rawan akan ancaman ini adalah bukaan kawah di bagian selatan.

Reporter: Yopi Makdori/Liputan6.com