Volume 59

Menteri Urusan Minyak Goreng

Mendag Lutfi Curhat Dapat Julukan Menteri Urusan Minyak Goreng

Merdeka.com 2022-03-10 12:12:18
Mendag Muhammad Lutfi tinjau pasar di Medan. ©Pemprov Sumut

Menteri Perdagangan (Mendag) Lutfi mengaku, akhir-akhir ini kehidupannya tidak bisa lepas dari masalah minyak goreng. Selain langka, harga minyak goreng di pasar tradisional juga terlalu tinggi, hingga di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Imbas terlalu sering berkutat di permasalahan tersebut, Mendag Lutfi kini sampai dapat julukan menteri urusan minyak goreng.

"Saya sekarang ini dikenal dengan menteri urusan minyak goreng, karena permasalahan kita yang masih terlihat. Tetapi ini bagian daripada tantangan kita tahun 2022," ujar Mendag Lutfi saat membuka rapat kerja Kementerian Perdagangan 2022, Kamis (10/3).

Menurut dia, fenomena kenaikan harga komoditas saat ini terhitung lebih tinggi dibanding saat periode supercycle ekonomi di 2011. Dalam konteks ini, ia mencontohkan harga minyak nabati yang sudah naik 201,7 poin, atau hampir 27 persen.

Mendag Lutfi menyatakan, gejolak harga ini tak bisa lepas dari apa yang terjadi di luar negeri. Dia lantas mengambil contoh harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Kuala Lumpur yang mencapai rekor.

Menindaki lonjakan harga CPO global, Kementerian Perdagangan lantas memisahkan acuan harga lokal dan harga internasionalnya. Ini untuk memastikan produsen CPO mau memenuhi kewajiban pemenuhan pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) terlebih dahulu.

Namun karena sudah terbiasa dengan mekanisme pasar, Mendag Lutfi juga melihat ulang distribusi dari barang ini terjadi.

"Setelah 24 hari terjadi domestic market obligation (DMO) untuk CPO, kita sudah mendapatkan setidaknya 570 ribu ton yang sudah mustinya bisa dibagikan kepada rakyat Indonesia," ungkapnya.

"Kalau rakyat Indonesia jumlahnya 270 juta, kasarnya hari ini kita dalam 24 hari terakhir dapat satu orang 2 liter daripada minyak goreng. Tetapi di market barangnya tidak ada," keluh dia.


Gejolak Harga Komoditas Akan Terus Terjadi di 2022

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyoroti gejolak harga komoditas yang terjadi saat ini. Menurut dia, 2022 ini memang bukan merupakan tahun yang mudah untuk perkembangan harga komoditas.

"Saya ingin menegaskan, tahun 2022 ini bukan tahun yang mudah. Saya prediksi tahun ini penuh dengan tantangan. Tahun yang penuh dengan gejolak," ujar dia saat membuat rapat kerja Kementerian Perdagangan 2022, Kamis (10/3).

Dibandingkan 2021 lalu, Mendag Lutfi menilai, meski masih berhadapan dengan pandemi Covid-19, tapi pemerintah bisa melewatinya dengan baik.

"Tetapi, karena sebagian besar kegiatan ekonomi menurun, maka semua harga bisa kita lalui dengan stabil. Inflasi berjalan dengan baik, NTP (nilai tukar petani) naik juga baik. Ini merupakan hasil yang baik," urainya.

Sementara tahun ini akan jadi kebalikan dari 2021 lalu. Itu tergambar dari naiknya indeks-indeks Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), dimana sejak Februari 2022 indeks sudah naik 140,7 poin, atau meningkat 20,7 persen secara year on year dibanding periode sama tahun lalu.

Mendag Lutfi mengatakan, itu jadi angka tertinggi sejak 2011. Kala itu, pemerintah harus berhadapan dengan fenomena supercycle ekonomi, tapi kenaikannya hanya 137,6 poin.

"Artinya, temperatur sudah jauh lebih tinggi dibanding 2011," ungkap dia.

Oleh karenanya, ia mengingatkan jajarannya di Kementerian Perdagangan untuk terus berinovasi mengatasi gejolak harga komoditas saat ini. Dia pun menuntut dirinya sendiri beserta kolega untuk bekerja di luar batas.

"Saya juga ingin tegaskan, raker kali ini adalah milestone yang penting. Karena kita harus secara out of the box memikirkan tidak hanya business as usual, karena persoalan kita pada hari ini juga lumayan susah dan kompleks," tegasnya.

Sumber: Liputan6

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Baca juga:
Mendag: Jangan Ada Lagi Jual Minyak Goreng Curah dan Kemasan di Atas HET
Mendag Ingatkan Minyak Goreng Curah Hanya untuk Masyarakat Kecil
Mendag Lutfi Duga Ada Minyak Goreng Dijual Secara Ilegal ke Luar Negeri
Mendag Sebut Jakarta Banjir Minyak Goreng, tapi Warga Keluhkan Kelangkaan
Cerita Mendag Lutfi Industri Raup Untung Besar dari Ekspor CPO
Per Maret, 5 Perusahaan Produksi CPO untuk Dalam Negeri 73.890 Ton
Mendag Lutfi Prediksi Gejolak Harga Komoditas Akan Terus Terjadi di 2022

Dijual Ilegal ke Luar Negeri

Mendag Lutfi Duga Ada Minyak Goreng Dijual Secara Ilegal ke Luar Negeri

Merdeka.com 2022-03-09 16:00:00
Minyak goreng. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi mengatakan, seharusnya stok minyak goreng di masyarakat melimpah. Mengingat selama 23 hari penerapan kebijakan DMO untuk produsen CPO telah berhasil mengumpulkan stok bahan baku sebanyak 573.890 ton atau sekitar 20,7 persen dari total ekspor CPO.

"Sekarang ini dari jumlah di lapangan mestinya bukan basah lagi tapi becek. Tapi masih terjadi kekeringan di sana-sini," kata Lutfi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (9/3).

Lutfi menduga, kemarau minyak goreng tersebut terjadi karena rantai distribusi yang terganggu. Ada dugaan terjadi kebocoran ke industri hingga dijual secara ilegal ke luar negeri.

"Deduksi ini rembes ke industri yang tidak berhak atau tindakan melawan hukum yaitu ekspor tanpa izin, terutama dari aturan market obligasi," kata dia.

Namun, dugaan ini kata Lutfi masih perlu dipastikan. Dia ingin memastikan dalam tata niaga minyak goreng tidak ada spekulasi. Mengingat pemerintah memiliki data resmi yang terverifikasi. Mulai dari alamat lokasi tangki sampai semua distributor dalam industri minyak goreng.

"Kita tidak mau berandai-andai, tapi dari angka tersebut ada terjadi kesalahan-kesalahan atau ketidakakuratan dari jalur distribusi kita dan akan kita pastikan tidak ada hambatan di jalur distribusi ini," kata dia.

Untuk itu, pihaknya melalui PPNS Kementerian Perdagangan telah bekerja sama dengan Satgas Pangan dan Mabes Polri melakukan penindakan dengan sejumlah data yang dimiliki. Lutfi menargetkan penyelesaian di rantai distribusi ini akan segera selesai sebelum bulan Ramadan tiba. Sehingga pasokan minyak goreng kembali berlimpah di level masyarakat.

"Kita upayakan beres sebelum Ramadan ini," kata dia mengakhiri.


Minyak Goreng Curah untuk Rakyat Miskin

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengimbau agar masyarakat membeli minyak goreng sesuai dengan kemampuannya, agar pasokan minyak goreng murah tetap aman. Dia mengingatkan, minyak goreng curah hanya untuk kelompok masyarakat kecil.

Diketahui, Kemendag telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng curah Rp 11.500 per liter, minyak goreng kemasan sederhana Rp 13.500, dan minyak goreng kemasan premium Rp 14.000.

"Karena itu, minyak goreng curah tidak boleh disalahgunakan, terutama oleh industri menengah dan besar. Minyak goreng curah harus tetap diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, industri mikro dan kecil," tuturnya dalam sesi teleconference, Rabu (9/3).

Dia memastikan, minyak goreng akan didistribusikan secara berkelanjutan dan konsisten, agar masyarakat bisa mendapatkan minyak goreng dengan mudah dengan harga terjangkau. Sementara bagi yang ingin dan mampu membeli minyak goreng kemasan maupun premium, itu tersedia di pasar modern di seluruh Indonesia.

"Jaringan pasar modern ini mudah dikontrol, baik distribusi, harga dan stoknya, serta mudah diakses oleh masyarakat luas, terutama di perkotaan dan kota/kecamatan," jelasnya.

Baca juga:
Mendag Ingatkan Minyak Goreng Curah Hanya untuk Masyarakat Kecil
VIDEO: Kemendag Ngeles Minyak Goreng Bukan Langka, Kalau Harga yang Mahal Banyak
Mendag: Jangan Ada Lagi Jual Minyak Goreng Curah dan Kemasan di Atas HET
Mendag Ancam Polisikan Distributor dan Spekulan yang Timbun Minyak Goreng
Gandeng Polri, Mendag Lutfi Bakal Lacak Penjual Mainkan Harga Minyak Goreng

Warga Dicurigai Menimbun

Kemendag Curiga Warga 'Timbun' Minyak Goreng di Dapur

Merdeka.com 2022-03-07 20:06:00
Minyak goreng. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Permasalahan minyak goreng di Tanah Air tak kunjung usai. Saat ini muncul masalah baru. Yaitu, setiap operasi pasar digelar selalu diserbu masyarakat. Salah satunya terjadi di Palembang

Warga rela mengantre hingga berjam-jam untuk mendapatkan jatah dua liter minyak goreng kemasan, atau beberapa liter jenis curah. Namun, ada fenomena yang menarik, bahwa ternyata tidak semua warga yang ikut antre tersebut tidak memiliki persediaan minyak goreng di rumahnya.

Lisa, warga setempat yang dijumpai dalam operasi pasar (OP) di Pasar Alang-Alang Lebar mengaku masih memiliki dua liter minyak goreng yang dibelinya pada operasi pasar di tempat lain dua hari lalu. "Takut, isunya minyak goreng bakal mutus (kosong), jadi saya ikut beli lagi di OP ini," kata Lisa dikutip dari Antara.

Bagi Lisa, dia perlu menyimpan minyak goreng sebagai persediaan karena khawatir bakal kesulitan untuk mendapatkannya. Apalagi, kelangkaan minyak goreng ini sudah terjadi sejak pertengahan Februari lalu.

Ibu rumah tangga ini memburu minyak goreng di operasi pasar karena harga sesuai dengan ketentuan pemerintah berdasarkan Harga Eceran Tertinggi yakni Rp13.500 per liter untuk jenis kemasan sederhana. Sementara jika membeli di warung sekitar rumahnya, Lisa harus merogoh kocek Rp21.000 hingga Rp22.000 per liter karena pedagang beralasan barang sedang langka.

Selisih harga yang tinggi ini juga yang melatari Elma, warga Kecamatan Alang-Alang Lebar memburu minyak goreng jenis curah di operasi pasar tersebut.

Sejak pukul 08.00 WIB, dia sudah mengantre untuk mendapatkan minyak goreng jenis curah dengan harga Rp11.500 per liter. Dia sempat resah karena antrean terus mengular sementara minyak goreng belum juga didapatkan walau waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 WIB. Rupanya, berselang satu jam kemudian, dia baru mendapatkan satu jeriken (volume lima liter) minyak goreng jenis curah.

"Saya bukan pedagang makanan, ini untuk pakai sendiri. Saya terpaksa langsung beli banyak karena takut minyak goreng benar-benar kosong. Saat ini susah, di pasar tak ada, di Alfamart dan Indomaret apalagi, selalu kosong," kata dia.

DIa mengakui minyak goreng yang diperolehnya dalam OP ini sebanyak lima liter telah melebihi kebutuhan untuk satu bulan ke depan. Bersama suami dan dua anaknya, sebenarnya Elma hanya membutuhkan sekitar tiga liter minyak per bulan. “Tapi, jika ada OP lagi saya mau ikut lagi, buat jaga-jaga,” kata dia.


Indikasi Penimbunan

Inspektur Jenderal Kementerian Perdagangan Didid Noordiatmoko memastikan saat ini produksi minyak goreng sudah mendekati kebutuhan dalam negeri, sehingga kelangkaan terhadap produk tersebut seharusnya bisa teratasi paling lambat pada akhir Maret 2022.

"Persediaan sebenarnya tersedia. Selisih kebutuhan ini sudah mendekati normal. Akhir bulan ini secara teoritis sudah cukup," kata Didid.

Produsen minyak goreng di Sumatera Selatan bahkan sudah memproduksi mendekati kebutuhan di daerah ini, jika pun terdapat selisih diperkirakan hanya 10 persen. Berlarut-larutnya kelangkaan minyak goreng, lantaran kompleksnya persoalan dari hulu hingga ke hilir.

Pemerintah secara bertahap menyelesaikan persoalan produksi hingga distribusi minyak goreng, sehingga dapat diperoleh dengan mudah dengan harga yang terjangkau di masyarakat.

Akan tetapi, muncul persoalan baru yang merupakan dampak dari kenaikan harga dan kelangkaan barang yakni ‘panic buying’.

Lantaran sempat kesulitan mendapatkan minyak goreng dengan harga yang terjangkau membuat masyarakat membeli melebih kebutuhan ketika mendapatkan kesempatan.

Padahal, hasil riset menyebutkan kebutuhan minyak goreng per orang hanya 0,8-1 liter per bulan. Artinya, kini banyak rumah tangga menstok minyak goreng. “Tapi ini baru terindikasi,” kata dia.

Sembari menunggu stabilnya antara permintaan dan ketersediaan barang ini, pemerintah akan menggelar OP di setiap kabupaten/kota di Sumsel mulai pekan depan.

Dalam OP ini masyarakat dapat membeli minyak goreng dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), untuk minyak goreng kemasan premium Rp14.000 per liter, minyak goreng kemasan sederhana Rp13.500 per liter dan minyak curah Rp11.500 per liter yang sudah ditetapkan sejak 1 Februari 2022.

Baca juga:
Stok Minyak Goreng di Bengkulu Tak Mencukupi Kebutuhan Masyarakat
Masalah Kelangkaan Minyak Goreng, DPR Usul Setop Ekspor Sawit Mentah
Viral Ibu-Ibu Antre Beli Minyak Goreng di Pesanggrahan, Datang dari Jam 4 Subuh
Wagub Minta Warga Tak Borong Minyak Goreng: Kalau Semua Nyetok di Rumah, Waduh Repot
Warga Keluhkan Harga Minyak Goreng Tembus Rp40.000 per Liter
Harga Kedelai dan Minyak Goreng di Kudus Belum Stabil, Begini Kondisi Terkini

Warga Saling Sikut Demi Minyak Goreng

Viral Warga Saling Sikut Demi Dapatkan Minyak Goreng Rp14.000 di Jember

Merdeka.com 2022-02-18 05:00:00
Tangkapan layar warga berebut minyak goreng di Jember. ©2022 Merdeka.com/Istimewa

Kelangkaan minyak goreng dengan harga sesuai HET, Rp14.000 per liter, masih terjadi di sejumlah daerah. Di Jember, beredar video warga berebut komoditas itu di salah satu toko swalayan.

Berdasarkan informasi dihimpun, peristiwa itu terjadi di toko Larisso yang ada di Kecamatan Kencong. Warga yang didominasi ibu-ibu berlarian saling mendahului ketika gerai itu baru dibuka.

Warga dikabarkan telah mengantre sejak pagi hari, beberapa jam sebelum jam operasional toko buka. Mereka langsung berlari menuju rak minyak goreng, bahkan sampai saling dorong hanya demi memperoleh minyak goreng yang ada di rak. Video rebutan minyak goreng dengan durasi 29 detik itu langsung viral di media sosial.

Pemilik Larisso Sabdo Adi Setiawan mengakui peristiwa itu terjadi di pusat perbelanjaan miliknya. "Ya, benar itu di Larisso Kencong. Kejadiannya kemarin, hari Selasa, 15 Februari 2022. Saat itu toko kami baru buka dan pembeli tidak mau antre. Sehingga begitu pintu baru dibuka, mereka langsung lari berebut minyak goreng," papar Sabdo saat dikonfirmasi, Kamis (17/2).


Tambah Petugas

Sabdo menegaskan, pihaknya sudah melakukan antisipasi dengan menambah petugas jaga khusus di rak minyak goreng. "Kita upayakan atur antrean dengan mengutamakan lanjut usia, anak-anak, dan perempuan. Baru kemudian remaja atau orang dewasa. Meski memang sulit," tutur Sabdo.

Dia memaparkan, Larisso memiliki 3 gerai di kawasan Jember Selatan. Masing-masing menjual 3.000-6.000 liter minyak goreng per hari. Mereka mematok harga Rp14.000 per liter untuk semua merek, sesuai ketentuan pemerintah.

"Kita terapkan aturan, setiap warga maksimal hanya boleh membeli 2 liter tiap hari," tegasnya.

Sabdo juga menegaskan, Larisson tidak pernah sedikit pun berupaya menimbun stok minyak goreng. "Kami selalu terbuka, setiap ada kiriman, langsung kami jual. Cuma kami minta pembeli agar tertib mengantre," pungkas Sabdo.


Warga Diminta Tidak Berebut

Kapolsek Kencong AKP Adri Santoso juga membenarkan kejadian itu. "Warga sudah membeludak sejak toko belum dibuka. Begitu pintu dibuka, mereka langsung berlarian menyerbu rak bagian minyak goreng dan berebut stok," paparnya.

Polsek Kencong juga menegaskan, saat ini sudah tidak ada kelangkaan minyak goreng di wilayahnya. "Karena itu kita mengimbau, warga agar jangan berebut. Jangan terpengaruh isu karena harga minyak goreng sekarang sudah diatur sesuai harga Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah," pungkas Adri.

Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRD Jember David Handoko Seto mengingatkan agar pelaku usaha tidak menimbun minyak goreng. Sebab, hal itu akan sangat menyusahkan warga.

"Kita akan terus pantau. Jika masyarakat ada yang memiliki informasi atau kecurigaan, silakan melapor ke pihak berwenang atau menghubungi kami," imbau politikus Partai Nasdem ini.

Baca juga:
Minyak Goreng Masih Mahal, Pemkot Tangsel Minta CSR Perusahaan untuk Operasi Pasar
Mendag Lutfi Segera Tindak Oknum yang Timbun Minyak Goreng
Cerita Pengecer Minyak Goreng Disangka Bohongi Pembeli Karena Stok Kosong
Cegah Kelangkaan Minyak Goreng, Pemkot Makassar akan Gelar Operasi Pasar
Minyak Goreng Palsu Beredar di Kudus, Ini 3 Faktanya
Panic Buying Diduga Jadi Penyebab Kelangkaan Minyak Goreng di Riau

Antre jam 4 Subuh Demi Minyak Goreng

Viral Ibu-Ibu Antre Beli Minyak Goreng di Pesanggrahan, Datang dari Jam 4 Subuh

Merdeka.com 2022-03-07 15:59:22
Warga Mangantre Beli Minyak Goreng. Istimewa

Sebuah video memperlihatkan antrean mengular pembeli minyak goreng viral di media sosial. Warga berbaris menunggu giliran membeli minyak dalam operasi pasar di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, sejak 4-6 Maret 2022.

Kejadian antrean mengular warga yang hendak membeli minyak goreng terekam, sebagaimana dalam video yang diunggah akun @Kabarbintaro, Minggu 6 Maret. Dalam rekaman itu terlihat ratusan warga didominasi ibu-ibu mengantre hingga ke jalan raya.

Kapolsek Pesanggrahan Kompol Nazirwan mengatakan, antrean yang viral di media sosial tersebut terjadi akibat antusias warga yang tinggi untuk mendapatkan minyak goreng pada Minggu (6/3) kemarin. Warga bahkan rela datang sejak subuh agar mendapatkan minyak goreng.

"Kalau untuk kejadian itu antusiasnya terjadi di hari ketiga (Minggu). Karena saking takutnya warga berfikir jangan sama dapat hari itu. Mereka datang subuh-subuh, pukul 04.00 Wib sudah bikin antrean," kata Nazirwan kepada wartawan, Senin (7/3).


Antrean Mengular Berlangsung Satu Jam

Nazirwan mengungkapkan bahwa penyebab antrean karena warga enggan membuat barisan menjadi dua jalur. Namun menurut dia, operasi pasar tersebut tetap kondusif meski terjadi antrean panjang.

Dia menambahkan, antrean mengular tak berlangsung lama. Sebab operasi pasar itu dimajukan lebih awal dari semula pukul 06.00 menjadi pukul 08.00 WIB.

"Tapi sekitar sejam mereka sudah bisa membubarkan diri. itu kan kita sifatnya menunggu memfasilitasi pihak ketiga, distributornya, kita kan hanya melakukan pengamanan," ujar dia.

Adapun dalam operasi pasar kali ini 3.600 liter minyak goreng disediakan untuk warga terdiri dari 1.800 kemasan 2 liter yang bisa dibeli memakai kupon seharga Rp28 ribu.

Baca juga:
Wagub Minta Warga Tak Borong Minyak Goreng: Kalau Semua Nyetok di Rumah, Waduh Repot
Warga Keluhkan Harga Minyak Goreng Tembus Rp40.000 per Liter
Harga Minyak Goreng Masih Mahal, Ridwan Kamil: Yang Penting Tersedia
Pemkab Tangerang Akui Peritel Jual Minyak Goreng Rp14.000 Lebih
KPPU Ungkap Temuan Awal Penyebab Hilangnya Minyak Goreng di Pasaran
Pengusaha Kalsel Bangun Pabrik Minyak Goreng Penuhi Kebutuhan Masyarakat
Harga Kedelai dan Minyak Goreng di Kudus Belum Stabil, Begini Kondisi Terkini

Nasib Warga, Antre Panjang Cuma Dapat Sebungkus

Miris Lihatnya, Ribuan Warga Antre Minyak Goreng Panjang Banget, Dapatnya Sebungkus

Merdeka.com 2022-02-22 11:17:00
Ilustrasi minyak goreng. Shutterstock/Aleksandrs Samuilovs

Beberapa waktu terakhir, harga minyak mentah menyentuh angka tertinggi di kawasan Asia. Faktor terbesarnya yakni adanya kemungkinan invasi Ukraina oleh Rusia yang dikhawatirkan mampu mengganggu suplai minyak dunia.

Tak terkecuali di Indonesia yang turut mengalami kelangkaan. Bahkan, ada antrean mengular yang rela dilakukan warga demi mendapatkan satu bungkus minyak goreng.

Simak ulasan selengkapnya berikut ini.


Antrean Mengular

Akun Instagram @majeliskopi08 membagikan sebuah video singkat yang menunjukkan aktivitas dari sekumpulan warga. Dikawal sejumlah anggota polisi dan TNI, sejumlah warga sipil nampak berbaris rapi di halaman sebuah gedung.

Hal tersebut tak lain merupakan antrean warga untuk mendapatkan minyak goreng. Momen tersebut diketahui berlangsung di kawasan Kota Kuningan, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Instagram @majeliskopi08 ©2022 Merdeka.com

"Antre minyak sayur di Kota Kuningan," ungkap sang perekam video.


Mendapat Satu Bungkus

Tanpa tenda dan kursi, warga pun rela mengantre berdiri. Bahkan, beberapa di antaranya nampak tak kuasa menahan lelah untuk sekadar beristirahat dan duduk, menepi dari barisan.

Berdasarkan informasi dari sang perekam video, warga yang telah mengantre panjang tersebut hanya dapat membawa pulang satu bungkus minyak goreng saja. Hal ini pun menimbulkan keprihatinan dari sang perekam video.

Instagram @majeliskopi08 ©2022 Merdeka.com

"Ya Allah, Ya Rabb. Sudah sampai seperti ini tapi dapatnya cuma satu bungkus doang," katanya.


Menyayat Hati

Momen dalam sebuah video singkat tersebut langsung menuai rasa haru di kalangan publik. Tak sedikit yang lantas memberikan berbagai tanggapan saat melihat antrean warga yang begitu panjang demi mendapatkan satu bungkus minyak goreng.

"Astagfirullah, kasian banget," tulis akun @ernarisnawati1

"Miris sekali untuk negara produsen sawit terbesar di dunia," tulis akun @aseprahman127

"Kasihan rakyat kayak begini, kepanasan," tulis akun @yacobyasnelda

"Gini amat yaa," tulis akun @rido_717

"Ironis," tulis akun @agung_setya

Video

Berikut video selengkapnya.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by MajelisKopi08 (@majeliskopi08)

Tertipu Beli Minyak Goreng Online

Tergiur Harga Minyak Goreng dan Mi Instan Murah, Ibu-Ibu di Jakut Malah Tertipu

Merdeka.com 2022-02-21 17:52:40
Minyak goreng dijual mulai Rp11.500 per liter. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Emak-emak di Jakarta Utara terpedaya dengan harga murah minyak goreng dan mi instan. Sejauh ini, ada tujuh orang yang telah menjadi korban. Kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah. Peristiwa ini terjadi di Jalan Muncang, Gang I Blok M, Lagoa Jakarta Utara.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan menerangkan, salah seorang korban adalah N (39). Dia awalnya ditawarkan oleh pelaku Dea Aulia (36) berupa minyak goreng dan mie instan pada
8 Februari 2022 lalu.

Zulpan menyebut, pelaku mematok harga Rp135 ribu per-karton dan mie instan Rp80 ribu per-dus. Padahal, harga normal minyak goreng Rp230 ribu per-karton. Sedangkan harga mie instan Rp100 ribu per-karton. Zulpan menyebut, korban tertarik lalu menyerahkan sejumlah uang.

"Korban menyerahkan uang terlebih dahulu dan 8 hari kemudian barang diserahkan," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (21/2).

Tak lama setelah itu, lanjut Zulpan korban kembali menyerahkan uang secara bertahap dengan total Rp135.845.000 untuk pembelian 987 karton minyak goreng dan 30 dus indomie goreng. "Namun setelah tanggal tempo yang dijanjikan barang tidak diterima," terang dia.

Zulpan menerangkan, pelaku telah ditahan di Polsek Koja. Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 378 dan atau 372 KUHP. Saat ini, kasus tersebut masih didalami oleh penyidik Polsek Koja.

"Sementara masih ada korban lain yang belum terdata," ujar dia.

Reporter: Ady Anugrahadi
Sumber: Liputan6.com

Beli Minyak Goreng Seperti Ikut Pemilu

Beli Minyak Goreng di Solo Wajib Celupkan Jari ke Tinta

Merdeka.com 2022-02-23 17:43:53
Minyak goreng. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Untuk mendapatkan minyak goreng, puluhan ibu rumah tangga di Solo harus rela antre di salah satu toko serbaguna Kelurahan Kestalan Banjarsari, Rabu (23/2) siang. Usai mendapatkan minyak goreng dengan harga Rp 14.000 per liter, mereka harus mencelupkan jari kelingking ke tinta, layaknya pencoblosan saat pemilu.

Panitia penjualan minyak murah mengatakan pencelupan jari ke tinta seperti saat Pilkada atau pemilu dilakukan untuk mengantisipasi warga yang curang. Karena bisa saja mereka yang sudah membeli, kembali lagi berulang kali.

“Ini untuk mengantisipasi adanya kostumer yang nakal. Kalau tidak begini nanti ada yang datang berkali-kali terus ada kemungkinan juga barangnya dijual lagi dengan harga lebih mahal," kata Kepala Gugus Supermarket Luwes Kestalan, Darwanti.

Dia mengatakan, kelangkaan minyak goreng dengan harga murah memang terjadi dalam kurun waktu sebulan terakhir. Pihaknya harus menerapkan aturan tersebut agar pembeli bisa mendapatkan barang dengan merata.

“Kami membatasi jumlah pembelian minyak goreng agar minyak goreng bisa terdistribusi merata ke tangan masyarakat,” ujarnya.

Selama tinta tersebut masih ada di jari kelingking, Darwanti mengungkapkan, maka otomatis masyarakat dilarang membeli minyak goreng di tempat yang sama.

"Setiap orang kita batasi maksimal hanya 2 liter saja," ujarnya.

Ini Dugaan Awal Minyak Goreng Langka

KPPU Ungkap Temuan Awal Penyebab Hilangnya Minyak Goreng di Pasaran

Merdeka.com 2022-03-05 15:00:00
antri minyak goreng. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkap sejumlah temuan awal atas penyelidikan penyebab kelangkaan minyak goreng di pasaran. Diketahui, harga minyak goreng di sejumlah daerah menyentuh Rp20.000 per liter akibat langka dipasaran.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama KPPU Deswin Nur menyampaikan, temua awal penyebab langkanya minyak goreng di pasaran multi faktor. Mulai dari aksi panic buying, penjualan bersyarat, dugaan hambatan akses, hingga masalah distribusi.

"Iya mas, banyak temuan di lapangan terkait kelangkaan migor (minyak goreng). Ada panic buying, penjualan bersyarat, dugaan hambatan akses, masalah distribusi dan lainnya," ungkapnya saat dihubungi Merdeka.com, Sabtu (5/3).

Saat ini, KPPU terus melakukan penyelidikan untuk mendalami persoalan yang ada berdasarkan temuan di lapangan tersebut. Antara lain dengan melanjutkan proses pemanggilan kepada para produsen minyak goreng.

Untuk itu, pihaknya belum bisa menyampaikan penyebab pasti atas kelangkaan minyak goreng di pasaran. Mengingat, proses penyelidikan masih berlanjut.

"Kami ndak bisa menyimpulkan berdasarkan informasi saja, butuh pembuktian untuk memperkuat dugaan yang ada. Semoga dalam waktu yang tidak lama, kami bisa mengupdate hasil pra penyelidikan kami," tutupnya.


Endus Dugaan Praktik Kartel Minyak Goreng, 4 Perusahaan Besar Bakal Diperiksa

Sebelumnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mulai memanggil pemain besar perusahaan minyak goreng untuk dimintai keterangan terkait adanya dugaan kartel produk minyak goreng besok (4/2). Tahap awal, KPPU akan memanggil 4 perusahaan.

"Kita menemukan empat pemain besarnya. Nah, perusahaan-perusahaan tersebut mulai besok oleh KPPU akan dipanggil terkait indikasi kartel," kata Ketua KPPU, Ukay Karyadi, seperti dikutip dari Antara pada diskusi publik yang digelar Institut for Development of Economics and Finance (Indef) secara virtual, Kamis (3/2).

Ukay memaparkan alasan adanya indikasi kartel terkait melonjaknya harga minyak goreng beberapa waktu lalu, dengan menyebut terdapat sinyal-sinyal praktik kartel. Menurut Ukay, ketika ada kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO), maka situasi tersebut dijadikan momentum untuk pelaku usaha minyak goreng pada perusahaan besar untuk menaikkan harga. Padahal seharusnya mereka yang pabriknya terintegrasi secara vertikal dengan kebun sawit, mendapat pasokan dari kebunnya sendiri.

"Di hulunya mereka menguasai, di hilirnya mereka menguasai. Tapi, mereka tetap mengacu pada harga internasional. Hal ini karena mereka yakin, kalaupun harga minyak gorengnya dinaikkan, mereka akan tetap laku di pasaran karena permintaan terhadap minyak goreng ini cenderung elastis," ujar Ukay.

Baca juga:
Pemkab Tangerang Akui Peritel Jual Minyak Goreng Rp14.000 Lebih
Harga Minyak Goreng Masih Mahal, Ridwan Kamil: Yang Penting Tersedia
Warga Tangerang: Di Warung Kecil Minyak Goreng Rp14 Ribu Itu Enggak Ada!
Minyak Goreng dan Daging Murah untuk Peserta Vaksinasi di Tangerang
Antrean Warga Serbu Pembagian Beras dan Minyak Goreng di TPU Malaka
Warga Serbu Operasi Pasar Minyak Goreng di Polsek Tebet
Kelangkaan Minyak Goreng Bisa Jadi Momentum Menuju Pola Hidup Sehat

Penyebab Minyak Goreng Hilang di Pasaran

Terbongkar, Ini Penyebab Langkanya Minyak Goreng di Pasaran

Merdeka.com 2022-03-01 17:21:00
Minyak goreng. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Kementerian Perdagangan (Kemendag) membeberkan kendala yang membuat minyak goreng langka di pasaran. Salah satunya terjadi di level pendistribusian produk ke pasar ritel.

Sekretaris Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, I G Ketut Astawa mengatakan, produsen minyak sawit mentah (CPO) telah memenuhi kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dengan memasok sebanyak 351 juta liter untuk kebutuhan minyak goreng dalam negeri.

"Kalau kita lihat data yang ada komitmen dari produsen CPO itu sudah mencapai 351 juta liter selama 14 hari, kebutuhan kita selama per bulan sebenarnya berkisar antara 279 sampai 300 juta liter," kata Ketut di Jakarta, Selasa (1/3).

Dia mengatakan, dengan pasokan CPO yang dipenuhi oleh produsen CPO untuk kebutuhan dalam negeri seharusnya membuat pasar dalam negeri kebanjiran produk minyak goreng dalam jangka waktu sebulan. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu ketersediaan produk minyak goreng masih sedikit di pasaran baik pasar modern maupun pasar tradisional.

Dia mengatakan, Menteri Perdagangan bersama dengan jajarannya dan juga Satgas Pangan telah turun ke lapangan dalam beberapa minggu terakhir untuk mengurai simpul-simpul permasalahan yang menyebabkan pasokan minyak goreng tersendat di pasaran.


Oknum Penimbun

Ketut mengakui memang terdapat temuan Satgas Pangan ada oknum-oknum yang sengaja menimbun produk minyak goreng dan tidak mendistribusikannya ke pasaran.

"Oleh karena itu kami beserta jajaran juga sedang mencari di mana letak simpulnya ini apakah ada yang menimbun. Dan memang ada beberapa hal seperti temuan Satgas Pangan di Sumatera Utara, termasuk di Kalimantan, dan sebagainya. Ini yang teman-teman beserta tim Satgas pangan kabupaten kota dan provinsi sedang melakukan langkah-langkah evaluasi tersebut," kata dia.

Selain itu Ketut juga mengungkapkan masih ada masyarakat yang membeli minyak goreng dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan biasanya sehingga menyebabkan ketersediaan produk yang kian menipis.

"Masyarakat kita sendiri juga karena ada informasi kekurangan ketersediaan minyak akhirnya mereka berbondong-bondong beli, bahkan satu keluarga biasanya sudah beli, besoknya beli, sorenya beli. Sehingga kadang-kadang di salah satu ritel modern dibuka langsung habis," katanya.

Ketut mengatakan semua pihak harus bersama-sama memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak perlu melakukan panic buying agar ketersediaan minyak goreng tercukupi.

Baca juga:
Deflasi Februari Dipicu Kebijakan Minyak Goreng Rp14.000 per Liter
7 Resep Makanan Tanpa Minyak yang Enak, Dijamin Sehat dan Hemat
Tingkatkan Minat Vaksinasi, Polisi Grobogan Beri Hadiah Minyak Goreng pada Warga
Tren Penjualan Perangkat Air Fryer Meningkat kala Pandemi
CEK FAKTA: Hoaks Alfamart Bagikan Hadiah Bucket Berisi 100 Kemasan Minyak Goreng
Kasus Dugaan Penimbunan 24 Ton Minyak Goreng di Lebak, Polisi Periksa Saksi Ahli

Mafia Minyak Goreng di Sekitar Kita

KPPU Endus Praktik Kartel Minyak Goreng, 4 Perusahaan Besar Bakal Diperiksa

Merdeka.com 2022-02-03 16:02:30
Minyak goreng. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mulai memanggil pemain besar perusahaan minyak goreng untuk dimintai keterangan terkait adanya dugaan kartel produk minyak goreng besok (4/2). Tahap awal, KPPU akan memanggil 4 perusahaan.

"Kita menemukan empat pemain besarnya. Nah, perusahaan-perusahaan tersebut mulai besok oleh KPPU akan dipanggil terkait indikasi kartel," kata Ketua KPPU, Ukay Karyadi, seperti dikutip dari Antara pada diskusi publik yang digelar Institut for Development of Economics and Finance (Indef) secara virtual, Kamis (3/2).

Ukay memaparkan alasan adanya indikasi kartel terkait melonjaknya harga minyak goreng beberapa waktu lalu, dengan menyebut terdapat sinyal-sinyal praktik kartel.

Menurut Ukay, ketika ada kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO), maka situasi tersebut dijadikan momentum untuk pelaku usaha minyak goreng pada perusahaan besar untuk menaikkan harga. Padahal seharusnya mereka yang pabriknya terintegrasi secara vertikal dengan kebun sawit, mendapat pasokan dari kebunnya sendiri.

"Di hulunya mereka menguasai, di hilirnya mereka menguasai. Tapi, mereka tetap mengacu pada harga internasional. Hal ini karena mereka yakin, kalaupun harga minyak gorengnya dinaikkan, mereka akan tetap laku di pasaran karena permintaan terhadap minyak goreng ini cenderung elastis," ujar Ukay.


Modus Praktik Kartel

Menurut Ukay, yang menjadi perhatian KPPU adalah selain pabrik minyak goreng tersebut terintegrasi dengan kebun sawit milik mereka sendiri, perusahaan-perusahaan tersebut juga menaikkan harga jual secara bersamaan.

Padahal, lanjut Ukay, jika terjadi kenaikan di produk minyak goreng PT A (misalnya), maka PT B akan mengambil alih pasar PT A dengan tidak ikut menaikkan harga. Namun yang terjadi justru para pemain besar minyak goreng tersebut menaikkan harga secara kompak.

"Nah, ketika kenaikan ini terjadi, pemerintah sampai harus turun tangan mengintervensi harga dengan kebijakan satu harga di level Rp14.000 per liter dan terbukti tidak efektif. Sehingga merubah lagi kebijakan dengan Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO)," ungkap Ukay.

Dengan demikian, Ukay mengatakan bahwa KPPU melihat adanya praktek oligopoli, sehingga intervensi yang dilakukan di hilir dinilai kurang efektif tanpa pembenahan struktur industrinya dari hulu.

"Tentunya intervensi pasar di hilir tanpa membenahi struktur industrinya menjadi kurang efektif, karena posisi tahap awalnya ada di perusahaan-perusahaan besar tersebut," ujar Ukay.

Baca juga:
Mendag Prediksi dalam 3 Hari Harga Minyak Goreng Curah Turun Menjadi Rp 11.500/Liter
Demi Minyak Goreng Murah, Warga Rela Antre Panas-Panasan di Pasar Kramat Jati
Suplai Tidak Maksimal, Harga Minyak Goreng di Tasikmalaya masih Mahal
Disubsidi Negara, Harga Minyak Goreng Rp14.000 per Liter untuk 6 Bulan ke Depan
Pemerintah Tetapkan HET Minyak Goreng Mulai Rp11.500 per Liter
Belum Semua Pasar Jual Minyak Goreng Rp14.000 per Liter
Warga Antre Sembako Murah di Kantor Kelurahan Cililitan