Skenario Kopda Muslimin Bunuh Istri

Blak-blakan Pelaku Bongkar Skenario Kopda Muslimin Bunuh Istri dengan Kepala Ditembak

Merdeka.com 2022-07-28 06:37:56
Lima tersangka kasus percobaan pembunuhan istri TNI. ©2022 Merdeka.com

Satu per satu fakta pembunuhan berencana dilakukan Kopda Muslimin terhadap istrinya Rina Wulandari, mulai terbongkar. Skenario anggota Yon Arhanud 15/DBY, Semarang, Jawa Tengah, itu terkuak dari pengakuan lima tersangka ditangkap polisi. Sementara Kopda Muslimin hingga kini masih menjadi buronan polisi.

Upaya pembunuhan terhadap Rina Wulandari berawal dari curhat Kopda Muslimin kepada anggota komplotan pembunuh bayaran. Kopda Muslimin mengaku tak kuat dikekang sang istri. Kepada para pembunuh bayaran, Kopda Muslimin meminta istrinya dihabisi.

"Ketemu Bang Mus (Kopda Muslimin) di rumahnya. Cerita keadaan keluarga, tidak kuat dikekang istrinya," kata Agus Santoso (AS) alias Gondrong, salah seorang tersangka penembakan di Mapolrestabes Semarang, Rabu (27/7).

Permintaan Kopda Muslimin itu disanggupi Gondrong Cs dengan mengusulkan cara pembunuhan yang berbeda. Kepada Kopda Muslimin, dia usul agar Rina diracun dengan bunga kecubung.


Para Pelaku Dijanjikan Rp200 Juta Plus Mobil

Namun usul itu ditolak Kopda Muslimin. Dia meminta istrinya ditembak mati.

Gondrong dan teman-temannya diminta Kopda Muslimin mencarikan senjata api. Adapun upah yang diberikan kepada mereka sebesar Rp120 juta. Uang itu diberikan setelah keempat tersangka beraksi.

"Dijanjikan Rp200 juta ditambah sebuah mobil kalau berhasil (membunuh korban)," kata Gondrong.


Beli Senpi Rakitan

Semua skenario pembunuhan sudah dipersiapkan Kopda Muslimin. Para pelaku juga sempat melakukan rapat pematangan aksi.

Senjata api sebelumnya sudah disiapkan oleh Muslimin. Senpi itu dibeli Kopda Muslimin dari rekan salah satu tersangka bernama Dwi Sulistiono seharga Rp3 juta.

Terkait pemakaian senjata api, sang eksekutor Sugiono alias Babi (34) mengaku baru pertama kali menggunakan untuk mengeksekusi perintah membunuh.

"Saya belum pernah sama sekali menembak. Tidak bisa menembak yang punya senpi ngajarin pas ketemu," ujar Sugiono saat dihadirkan menyinkronkan keterangan di Polrestabes Semarang, Rabu (27/7).


Perintahkan Kepala Istri Ditembak

Sugiono bahkan mengaku diperintahkan Kopda Muslimin menembak kepala Rina Wulandari. Namun dia mengaku tidak tega menembak kepala perempuan yang dikenalnya itu.

Pria ini mengaku mendapat order dari Kopda Muslimin untuk membunuh istrinya dengan sasaran kepala. Personel TNI juga meminta agar tembakan tidak mengenai anaknya.

"Saya tidak tega tembak kepala, soalnya kenal dengan ibu itu. Terpaksa saya tembak bagian perutnya," kata Sugiono.

Sebelum eksekusi penembakan, ia bersama rekan lainnya sudah menguntit korban saat keluar rumah. Saat memantau situasi di lokasi, sebelum eksekusi pada korban, ia dipandu oleh Kopda Muslimin lewat ponsel.

Saat penembakan pertama, Kopda Muslimin mengetahui peluru tidak mengenai kepala istrinya. Sugiono Cs diminta putar balik di simpang depan gang rumah korban.

"Bang Muslimin marah-marah, kami diminta putar balik. Posisi Bang Muslimin ketika telepon posisinya saya kurang tahu di mana," ujar dia.


Perintah Dadakan

Gondrong menambahkan, penembakan itu belum direncanakan. Dia hanya tahu pada saat hari untuk mengambil uang muka atau upah dari Kopda Muslimin, namun mendadak ada perintah untuk eksekusi langsung.

"Saya tahunya berangkat mau ambil uang muka dekat Masjid Gede. Tapi kok rencana berubah dapat perintah hai itu langsung eksekusi langsung perintah Bang Mus. Saya kira uang muka sudah dikasihkan, ternyata belum," ujar dia.

Saat itu eksekutornya belum ditentukan, namun karena yang bawa tas berisi senjata api (pistol) Sugiono, akhirnya dia yang lakukan eksekusi.

"Babi akhirnya yang eksekusi pas bawa tas isinya pistol. Kalau saya mau menerima tawaran itu tapi untuk membunuh saya tidak berani. Saya masih punya pikiran hati nurani, karena anak-anak masih kecil," tandasnya.

Polisi sebelumnya menangkap lima tersangka pelaku pembunuhan. Kelimanya adalah Sugiono alias Babi dan Ponco Aji Nugroho. Keduanya satu tim sebagai eksekutor.

Kemudian Supriono dan Agus Santoso yang bertugas sebagai tim pengawas. Dan terakhir Dwi Sulistiono sebagai penyedia senjata api.

Baca juga:
Pengakuan Eksekutor Istri TNI, Upah dari Kopda Muslimin Habis untuk Biaya Nikah
Polisi Optimis Tidak Lama Lagi Kopda Muslimin Ditangkap
Cerita Eksekutor Tak Tega Tembak Kepala Istri TNI seperti Perintah Kopda Muslimin
Fakta Ngeri Anggota TNI Coba Santet Istri Sampai Sewa Eksekutor, Kasad Dudung Murka
Mampu Bayar Pembunuh Istrinya Ratusan Juta Rupiah, Kekayaan Kopda Muslimin Diselidiki
Pengakuan Eksekutor: Kopda Muslimin Selalu Memandu Pembunuhan Istrinya
Ini Curhat Kopda Muslimin kepada Pembunuh Bayaran Sebelum Minta Istri Dihabisi

Berencana Bunuh Pakai Racun Hingga Santet

Kopda Muslimin Diduga sudah Lama Berencana Bunuh Istri, Pakai Racun hingga Santet

Merdeka.com 2022-07-25 13:42:01
ilustrasi garis polisi. ©2021 Merdeka.com

Sugiono alias Babi, salah satu tersangka penembakan Rina Wilandari yang merupakan istri dari anggota TNI Kopda Muslimin, mengaku sempat beberapa kali diperintahkan untuk melakukan perencanaan pembunuhan kepada korban.

"Suami korban telah memerintahkan saudara Babi tidak hanya melakukan penembakan. Satu bulan yang lalu, dia memerintahkan babi untuk meracun istrinya, mencuri. Jadi pura-pura mencuri, targetnya istrinya mati. Kemudian ketiga dia menggunakan santet," kata kata Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah (Jateng) Irjen Pol Ahmad Luthfi di Semarang, Senin (25).

Terkait informasi ini, polisi akan mengkonfirmasinya ketika nanti Muslimin sudah berhasil diringkus.

Sementara terkait perencanaan penembakan, senjata api sebelumnya sudah disiapkan oleh Muslimin. Para pelaku juga sempat melakukan rapat pematangan aksi.

"Jadi mbelani pacare (membela pacarnya), disantet, diracun, pura-pura maling yang akan bunuh (korban) dan terakhir ditembak," pungkas Luthfi.

Diperintah Tembak Kepala

Cerita Eksekutor Tak Tega Tembak Kepala Istri TNI seperti Perintah Kopda Muslimin

Merdeka.com 2022-07-27 19:13:10
Para tersangka penembakan istri TNI di kantor polisi. ©2022 Merdeka.com/Danny Adriadhi Utama

Sugiono alias Babi (34) tersangka eksekutor penembakan Rina Wulandari, istri anggota TNI, di Semarang,buka suara soal aksi yang dilakukannya. Dia mengaku tidak tega menembak kepala perempuan yang dikenalnya itu.

Pria ini mengaku mendapat order dari Kopda Muslimin untuk membunuh istrinya dengan sasaran kepala. Personel TNI juga meminta agar tembakan tidak mengenai anaknya.
"Saya tidak tega tembak kepala, soalnya kenal dengan ibu itu. Terpaksa saya tembak bagian perutnya," kata Sugiono saat dihadirkan menyinkronkan keterangan di Polrestabes Semarang, Rabu (27/7).


Kopda Muslimin Marah

Terkait pemakaian senjata api, dia mengaku baru pertama kali menggunakan untuk mengeksekusi perintah membunuh. Senjata api itu dibeli dari rekannya Dwi Sulistiono.

"Saya belum pernah sama sekali menembak. Tidak bisa menembak yang punya senpi ngajarin pas ketemu," ujarnya.

Sebelum eksekusi penembakan, ia bersama rekan lainnya sudah menguntit korban saat keluar rumah. Saat memantau situasi di lokasi, sebelum eksekusi pada korban, ia dipandu oleh Kopda Muslimin lewat ponsel.

Saat penembakan pertama, Kopda Muslimin mengetahui peluru tidak mengenai kepala istrinya. Sugiono Cs diminta putar balik di simpang depan gang rumah korban.
"Bang Muslimin marah-marah, kami diminta putar balik. Posisi Bang Muslimin ketika telepon posisinya saya kurang tahu di mana," ujarnya.


Perintah Eksekusi Mendadak

Sementara pelaku lain Agus alias Gondrong (43) mengaku pada sebelum kejadian penembakan itu belum direncanakan. Ia hanya tahu pada saat hari itu untuk mengambil uang muka atau upah dari Kopda Muslimin, namun mendadak ada perintah untuk eksekusi langsung.

"Saya tahunya berangkat mau ambil uang muka dekat Masjid Gede. Tapi kok rencana berubah dapat perintah hai itu langsung eksekusi langsung perintah Bang Mus. Saya kira uang muka sudah dikasihkan, ternyata belum," ujarnya.

Saat itu eksekutornya belum ditentukan, namun karena yang bawa tas berisi senjata api (pistol) Sugiono, akhirnya dia yang lakukan eksekusi.

"Babi akhirnya yang eksekusi pas bawa tas isinya pistol. Kalau saya mau menerima tawaran itu tapi untuk membunuh saya tidak berani. Saya masih punya pikiran hati nurani, karena anak-anak masih kecil," jelasnya.

Baca juga:
Ini Curhat Kopda Muslimin kepada Pembunuh Bayaran Sebelum Minta Istri Dihabisi
Pengakuan Eksekutor: Kopda Muslimin Selalu Memandu Pembunuhan Istrinya
Mampu Bayar Pembunuh Istrinya Ratusan Juta Rupiah, Kekayaan Kopda Muslimin Diselidiki
Fakta Ngeri Anggota TNI Coba Santet Istri Sampai Sewa Eksekutor, Kasad Dudung Murka
Kasad Dudung Jenguk Istri Prajurit TNI Ditembak: Sangat Prihatin, Dipasang Ventilator
Fakta-Fakta Kasus Penembakan Istri Anggota TNI di Semarang

Curhat Kopda Muslimin tentang Istrinya

Ini Curhat Kopda Muslimin kepada Pembunuh Bayaran Sebelum Minta Istri Dihabisi

Merdeka.com 2022-07-27 16:18:57
Para pelaku penembakan istri anggota TNI dihadirkan di Mapolrestabes Semarang, Rabu (27/7). ©ANTARA/ IC Senjaya

Percobaan pembunuhan Rina Wulandari, istri anggota TNI di Semarang, ternyata bermula dari curahan hati (curhat) sang suami, Kopda Muslimin kepada anggota komplotan pembunuh bayaran. Selanjutnya dia meminta agar istrinya dihabisi.

"Ketemu Bang Mus (Kopda Muslimin) di rumahnya. Cerita keadaan keluarga, tidak kuat dikekang istrinya," kata AS alias Gondrong, salah seorang tersangka penembakan di Mapolrestabes Semarang, Rabu (27/7).

Setelah Muslimin meminta agar istrinya dihabisi, Gondrong sempat mengusulkan cara pembunuhan yang berbeda. Dia usul agar Rina diracun dengan bunga kecubung.


Dijanjikan Rp200 Juta Plus Mobil

Kopda Muslimin kemudian meminta Gondrong dan teman-temannya untuk mencarikan senjata api. Adapun upah yang diberikan kepada mereka sebesar Rp120 juta.

"Dijanjikan Rp200 juta ditambah sebuah mobil kalau berhasil (membunuh korban)," katanya.

Sebelumnya, polisi meringkus empat anggota kelompok pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk menghabisi Rina Wulandari, istri anggota TNI di Semarang pada 18 Juli 2022.

Keempat pelaku masing-masing S alias Babi yang merupakan eksekutor penembakan, P bertugas sebagai pengendara sepeda motor Kawasaki Ninja, kemudian S dan AS alias Gondrong berperan sebagai pengawas saat aksi penembakan dilakukan.

Baca juga:
Pengakuan Eksekutor: Kopda Muslimin Selalu Memandu Pembunuhan Istrinya
Mampu Bayar Pembunuh Istrinya Ratusan Juta Rupiah, Kekayaan Kopda Muslimin Diselidiki
Fakta Ngeri Anggota TNI Coba Santet Istri Sampai Sewa Eksekutor, Kasad Dudung Murka
Kasad Dudung Jenguk Istri Prajurit TNI Ditembak: Sangat Prihatin, Dipasang Ventilator
Update Kondisi Istri TNI yang Ditembak Orang Diduga Suruhan Suaminya di Semarang
Fakta-Fakta Kasus Penembakan Istri Anggota TNI di Semarang

Eksekutor Dibayar Rp120 Juta

Kopda Muslimin Jadi Otak Pelaku Penembakan Istri, Para Pelaku Diberi Rp120 Juta

Merdeka.com 2022-07-25 12:39:40
Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Luthfi. ©2022 Antara

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah (Jateng) Irjen Pol Ahmad Luthfi mengungkap modus para pelaku yang melakukan penembakan terhadap Rina Wulandari, istri dari anggota TNI Kopda Muslimin (M). Sugiono alias Babi merupakan eksekutor. Sedangkan otak pelaku adalah Muslimin.

Sebanyak lima pelaku sudah diringkus polisi. Sementara Muslimin masih buron. Para pelaku dijanjikan imbalan Rp120 juta oleh otak pelaku.

"Jadi usai melakukan penembakan, para pelaku langsung ketemu Kopda Muslimin. Di sana mereka dapat upah Rp120 juta dan per orang mendapat bagian Rp24 juta. Ada yang langsung dibelikan motor dan emas. Semuannya barang bukti sudah kita sita," kata Ahmad Luthfi, Senin (25/7).

Dia menyebut untuk senjata api rakitan yang digunakan pelaku, dibeli Kopda Muslimin dari rekannya. "Senpi itu dibeli seharga Rp3 juta. Dan rencanakan penembakan terhadap istrinya sendiri," jelasnya.

Kopda Muslimin Bayar Eksekutor Pakai Uang Mertua

Kopda Muslimin Bayar Pembunuh Istri dan Kabur Pakai Uang Mertua, Alasan Biaya di RS

Merdeka.com 2022-07-28 08:50:41
Lima tersangka kasus percobaan pembunuhan istri TNI. ©2022 Merdeka.com

Polisi mengungkap usai pelaksanaan penembakan istrinya Rina Wulandari di Semarang, Kopda Muslimin memerintahkan orang yang merawat burung di rumahnya untuk mengambil uang ke ibu mertuanya untuk biaya perawatan rumah sakit dengan total Rp 210 juta. Sebagian uang tersebut untuk membayar jasa pembunuh bayaran untuk eksekusi istrinya.

"Jadi saksi ditelepon Mus, untuk ambil uang ke ibu mertua Rp120 juta," kata Kapolrestabes Semarang Kombes Irwan Anwar di Polrestabes Semarang.

Dari hasil pemeriksaan saksi, Kopda Muslimin kembali memerintahkan saksi untuk mengambil uang lagi Rp90 juta karena pihak rumah sakit meminta biaya perawatan lebih.

"Jadi uang Rp90 juta itu dibawa Muslimin untuk kabur," ungkap dia.


Kopda Muslimin Masih Diburu

Sampai saat ini, Kopda Muslimin masih dalam pengejaran tim gabungan TNI-Polri. Jika tertangkap, pendalaman terhadap Muslimin akan dilakukan TNI.

"Tim gabungan melakukan penyelidikan mudah-mudahan dalam waktu tidak lama bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya," pungkasnya.

Polisi sebelumnya menangkap lima tersangka pelaku pembunuhan. Kelimanya adalah Sugiono alias Babi dan Ponco Aji Nugroho. Keduanya satu tim sebagai eksekutor.

Kemudian Supriono dan Agus Santoso yang bertugas sebagai tim pengawas. Dan terakhir Dwi Sulistiono sebagai penyedia senjata api.

Baca juga:
Setengah Hati Pembunuh Bayaran Amatiran Kopda Muslimin
Blak-blakan Pelaku Bongkar Skenario Kopda Muslimin Bunuh Istri dengan Kepala Ditembak
Pengakuan Eksekutor Istri TNI, Upah dari Kopda Muslimin Habis untuk Biaya Nikah
Pengakuan Eksekutor: Kopda Muslimin Selalu Memandu Pembunuhan Istrinya
Ini Curhat Kopda Muslimin kepada Pembunuh Bayaran Sebelum Minta Istri Dihabisi
Cerita Eksekutor Tak Tega Tembak Kepala Istri TNI seperti Perintah Kopda Muslimin
Polisi Optimis Tidak Lama Lagi Kopda Muslimin Ditangkap

Akhir Pelarian Kopda Muslimin

Akhir Pelarian Kopda Muslimin, Dalang Penembakan Istri

Merdeka.com 2022-07-28 13:29:43
Lokasi penemuan jenazah Kopda Muslimin. ©2022 Merdeka.com

Kopda Muslimin ditemukan tewas di Kendal, Jawa Tengah. Di rumah orang tuanya.

Kopda Muslimin, salah satu prajurit TNI yang paling dicari. Betapa tidak, ia menjadi dalang penembakan Rina Wulandari, istrinya sendiri di depan rumahnya di Jalan Cemara III, Kota Semarang, Jumat (18/7) lalu.

Dengan menyewa empat pembunuh bayaran, Kopda Muslimin mengatur siasat untuk menghabisi nyawa istrinya. Polisi menyebut motif peristiwa itu karena adanya perempuan idaman lain.

Hati Kopda Muslimin sudah terbagi dan lebih berat ke selingkuhannya. Hingga gelap mata, kukuh membunuh istrinya, perempuan yang telah memberinya tiga orang anak.

Ia menjadi buronan polisi. Setelah lima pelaku dimana empat di antara eksekutor, jejak Kopda Muslimin ditemukan.

Sayangnya ia ditemukan tewas, Kamis (28/7) di rumah orang tuanya di Kendal, Semarang, Jawa Tengah.

Berikut fakta-fakta Kopda Muslimin ditemukan tewas di Kendal:

1. Pulang ke rumah orang tua di Kendal, Kamis (28/7) pagi sekira pukul 05.30,

2. Ditemukan meninggal pukul 07.00,

3. Orang tua sarankan menyerahkan diri,

4. Minta maaf ke orang tua,

5. Polisi ambil sampel muntahan dan ponsel Kopda Muslimin

6. Adik Kopda Muslimin sempat melapor ke Kodim Kendal.


Pengakuan eksekutor

Sebelumnya, Sugiono alias Babi (34) tersangka eksekutor penembakan Rina Wulandari, istri anggota TNI, di Semarang,buka suara soal aksi yang dilakukannya. Dia mengaku tidak tega menembak kepala perempuan yang dikenalnya itu.

Pria ini mengaku mendapat order dari Kopda Muslimin untuk membunuh istrinya dengan sasaran kepala. Personel TNI juga meminta agar tembakan tidak mengenai anaknya.

"Saya tidak tega tembak kepala, soalnya kenal dengan ibu itu. Terpaksa saya tembak bagian perutnya," kata Sugiono saat dihadirkan menyinkronkan keterangan di Polrestabes Semarang, Rabu (27/7).

Terkait pemakaian senjata api, dia mengaku baru pertama kali menggunakan untuk mengeksekusi perintah membunuh. Senjata api itu dibeli dari rekannya Dwi Sulistiono.

"Saya belum pernah sama sekali menembak. Tidak bisa menembak yang punya senpi ngajarin pas ketemu," ujarnya.

Baca juga:
Adik Kandung Sempat Melaporkan Kematian Kopda Muslimin ke Kodim Kendal
Kapolda Jateng: Orang Tua Kopda Muslimin Sempat Sarankan Serahkan Diri
Jenazah Kopda Muslimin Dibawa ke RS Bhayangkara Semarang
Jenazah Kopda Muslimin Pertama Kali Ditemukan Orang Tuanya
Olah TKP Tewasnya Kopda Muslimin, Polisi Amankan Muntahan hingga Ponsel
Sempat Memohon Maaf Dalam Keadaan Muntah, Ini Kronologi Kematian Kopda Muslimin
Kopda Muslimin Tewas Diduga Bunuh Diri di Rumah Orang Tua, Polisi-TNI Olah TKP

Kopda Muslimin Minta maaf Sebelum Meninggal

Sempat Memohon Maaf Dalam Keadaan Muntah, Ini Kronologi Kematian Kopda Muslimin

Merdeka.com 2022-07-28 11:39:20
Lokasi penemuan jenazah Kopda Muslimin. ©2022 Merdeka.com

Anggota TNI Kopda Muslimin, otak di balik kasus penembakan terhadap istrinya sendiri, Rina Wulandari, ditemukan meninggal dunia. Kopda Muslimin meninggal dunia di rumah orang tua kandungnya, di Kelurahan Trompo RT02 RW01, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Kamis (28/7).

Berdasarkan informasi yang didapat, Kopda Muslimin datang ke rumah orang tuanya dengan mengendarai motor Mio J bernomor polisi AA 2703 NC pukul 05.30 WIB. Sesampainya di rumah, Kopda Muslimin mengetuk pintu dan dibuka oleh orang tuanya bernama Mustakim.

Kopda Muslimin masuk ke kamar belakang menemui kedua orangnya, serta sempat memohon maaf dalam keadaan muntah-muntah dan kemudian Kopda M berbaring di tempat tidur.

Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas

Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua

Merdeka.com 2022-07-28 13:35:22
Anggota TNI berjaga di depan rumah orang tua Kopda Muslimin. ©2022 Antara

Tepat 10 hari sejak penembakan Rina Wulandari terjadi, sang suami sekaligus otak dari peristiwa tersebut, Kopda Muslimin ditemukan tewas di rumah orang tua di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (28/7). Rina ditembak oleh komplotan bayaran suruhan sang suami.

Setelah kejadian penembakan, Kopda Muslimin tidak diketahui keberadaannya. Dia melarikan diri dan menjadi buruan TNI maupun Polri.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah (Jateng) Irjen Pol Ahmad Luthfi mengatakan, motif Muslimin diduga merencanakan penembakan tersebut karena memiliki pacar. Sedangkan motif kelima tersangka adalah tergiur upah yang dijanjikan Muslimin.

"Ini kasus yang sangat menarik yang perlu adanya quick response penanganannya, karena menyangkut keluarga besar Persit. Karena itu kita membentuk tim gabungan antara Polda Jateng dengan Kodam IV Diponegoro, yang tidak lama bisa kita ungkap dengan metode scientific crime investigation maupun manual, tentu modus operandi yang dilakukan adalah penembakan dengan senjata api," kata Luthfi di Semarang, Senin (25/7).

Dari pengungkapan kasus ini, polisi berhasil mengamankan lima tersangka. Sugiono alias Babi dan Ponco Aji Nugroho. Keduanya satu tim sebagai eksekutor. Kemudian Supriono dan Agus Santoso yang bertugas sebagai tim pengawas. Tim eksekutor menggunakan sepeda motor Ninja. Sedangkan tim pengawas menggunakan Honda Beat.

"Kita juga ungkap penyedia senjata api, yaitu saudara Dwi Sulistiono di mana H-3 sebelum pelaksanaan kejadian, yang bersangkutan telah terjadi transaksi senjata api rakitan yang disinyalir, dengan nilai Rp3 juta," terangnya.